Teknologi IPAL Dukung Citarum Harum


Penulis: (DG/Ant/N-2) - 06 December 2018, 22:05 WIB
ANTARA FOTO/Novrian Arbi
ANTARA FOTO/Novrian Arbi

UPAYA untuk menormalisasi Sungai Citarum lewat program Citarum Harum, salah satunya dengan pendekatan teknologi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendukung program Citarum Harum, dengan mengusulkan langkah teknologi berupa penerapan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang mumpuni serta teknologi online monitoring air atau Onlimo.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Hammam Riza, mengatakan penerapan teknologi IPAL dan Onlimo menjadi penting mengingat Daerah Aliran Sungai Citarum sudah tersedimentasi. “Salah satu penyebabnya adalah buangan air limbah dari industri dan domestik,” kata Hammam, Kamis (6/12).

Apalagi, berdasarkan data Kementerian Lingkung­an Hidup dan Kehutanan, baru 10% dari 1.900 industri yang memiliki IPAL yang mumpuni di aliran Sungai Citarum.

IPAL, yaitu sistem pengolahan air limbah yg bisa menghasilkan kualitas air buangan menjadi layak dibuang ke lingkungan, bahkan bisa digunakan kembali (daur ulang). IPAL ini dirancang khusus untuk negara berkembang. “Artinya, sistem pengoperasiannya­ dibuat mudah, sederhana, dan bisa dipakai oleh siapa pun,” lanjutnya.

“Air limbah yang diolah IPAL berasal dari sumber limbah industri dan domestik kawasan Sungai Citarum. Sistem pengolahannya, yakni  kita kumpulkan air limbah tersebut ke dalam bak penampung. Lalu, dialirkan ke IPAL. Untuk mendukung program Citarum Harum ini perlu banyak penerapan sistem IPAL yang mumpuni khususnya dengan biofilter anaero­b-aerob,” jelasnya.

Selain IPAL, BPPT juga memiliki teknologi Onlimo, yakni online monitoring secara real time terhadap daerah aliran sungai. Onlimo ini berupa sensor kualitas air.

Dari Bandung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan membina ratusan perusahaan yang berada di sepanjang bantaran Sungai Citarum, agar memenuhi standar baku mutu pengelolaan limbah.

“ Kalau Anda sudah memenuhi baku mutu dengan sistem Ipal silakan lanjut, tapi yang belum bisa meminta bantuan industri tetangganya yang masih punya kuota untuk mengolah,” ujar Dirjen  Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Karliansyah, di Universitas Padjadjaran. (DG/Ant/N-2)

 

BERITA TERKAIT