Hoaks dan Anak-Anak Kita


Penulis: Seto Mulyadi Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma - 05 December 2018, 04:45 WIB
thinkstock
thinkstock

APAKAH hoaks itu? Sederhananya, berita palsu. Pada kenyataannya, berita palsu alias hoaks tidak lagi buah dari kekhilafan manusia. Ketika kepalsuan dalam informasi itu muncul akibat kekhilafan, ia diistilahkan misinformasi. Masih dapat dimaklumi.

Namun, saat ini informasi palsu difabrikasi secara terencana, disebut disinformasi, untuk kemudian diviralkan secara terencana pula. Ini yang sangat berbahaya dan anak-anak kita ialah warga yang sangat mungkin dikunjungi hoaks tersebut. Bagaimana menyikapi hoaks?

Intisari hoaks ialah kebohongan. Untuk itu, penyikapan atas hoaks perlu bertitik tolak dari intisari hoaks tersebut. Orangtua mana yang tidak risau saat buah hati mereka tersayang mulai bercerita dusta. Namun, terburu-buru panik atau marah juga bukan sikap yang tepat.

Saat anak--katakanlah--berbohong di hadapan orangtuanya, itu boleh jadi pertanda kecemasan. Dia merekayasa cerita sebagai cara untuk melindungi dirinya dan--bisa jadi--sekaligus merupakan cara untuk menenangkan hati orangtuanya.

Namun, yang paling menyedihkan ialah saat anak seolah tidak bisa lepas dari penyampaian kabar bohong. Pathological liar, istilahnya. Dibutuhkan intervensi lebih serius terhadap tingkah laku semacam demikian.

Namun, ada pula anak yang membuat-buat cerita bohong tanpa suasana hati yang negatif. Untuk yang satu ini, lebih tepat jika dikatakan anak gemar membuat fiksi. Fiksi atau cerita khayalan justru menunjukkan adanya kreativitas. Jadi, saat orangtua berhadapan dengan anak-anak yang mulai 'pandai berbohong', orangtua perlu tetap tenang sebelum memgambil sikap.

Dibohongi boleh jadi memang merupakan pengalaman yang kurang menyenangkan. Apalagi manakala yang membohongi ialah justru anak sendiri. Murka pun muncul, sebagai reaksi atas marwah yang seolah dipandang sebelah mata. Juga kecewa karena rasa saling percaya dan saling membina kejujuran seolah hancur seketika.

Tapi kalau mau jujur, adakah kita yang tidak pernah menceritakan kebohongan? Begitu pula dengan anak-anak, siapa di antara mereka yang tidak pernah berdusta? Pura-pura sakit agar tidak harus pergi ke sekolah, misalnya. Atau mengaku belum makan es krim agar diberikan lagi oleh ayahnya.

Ringkasnya, hampir semua orang dan anak-anak pernah berdusta. Alhasil, berbohong pada dasarnya tetap salah, tetapi perilaku tersebut sering identik dengan kehidupan banyak orang

Betapa pun demikian, kita tetap perlu menyikapi kisah-kisah rekaan dengan saksama dan bijak. Apalagi di waktu-waktu belakangan ini, saat hoaks alias kabar palsu hilir mudik di sekeliling kita setiap hari. Dapat berupa teks, bisa pula berwujud gambar.

Hoaks atau berita bohong dewasa ini malah sengaja dibuat lebih canggih, dengan tujuan yang amat sangat serius. Dampaknya bahkan bisa membuat kegaduhan nasional. Bukan hanya 1-2 orang yang terkejut, ratusan ribu orang juga bisa terguncang.

Sedihnya, saat diuji berapa banyak orang yang mampu membedakan antara berita hoaks atau bukan, ternyata hanya sekitar 2% peserta penelitian yang dapat memisahkan mana hoaks dan mana kabar nyata. Itu artinya kebanyakan manusia dapat dikatakan mudah termakan oleh informasi palsu.
Kehidupan anak-anak juga tidak terpisahkan dari kemungkinan terpapar oleh hoaks. Bisa anak sebagai pembuat sekaligus penyebar hoaks, seperti anak yang membuat kabar salah tentang riwayat hidup seorang tokoh nasional.

Bisa pula anak sebagai objek yang terdapat dalam informasi hoaks, seperti anak di video Youtube yang diberikan teks sebagai korban penculikan dan perdagangan anak. Ataupun anak sebagai korban hoaks, yaitu anak yang menerima info tentang wafatnya seorang artis lalu mengirimnya ke rekan-rekannya, padahal sang artis sendiri masih sehat walafiat.

Bayangkan kemudian anak-anak bertindak tanduk berdasarkan informasi abal-abal. Bukannya manfaat, malah mudarat akibatnya.

Begitu derasnya terpaan informasi dari media sosial dan aplikasi komunikasi berbasis ponsel terhadap anak semakin nyata sebagaimana hasil survei 2017. Di 'Negeri Paman Sam', sekitar 40% anak menyatakan lebih menyenangi informasi dari media daring. Disusul informasi dari orangtua dan dari media konvensional.

Beruntung bahwa, berdasarkan survei yang sama, lebih dari 60% anak tetap lebih memercayai informasi dari orangtua dan guru mereka. Tinggal lagi agenda yang paralel dengan itu ialah memastikan ayah, bunda, dan guru juga mampu memperkaya diri mereka sendiri dengan informasi yang benar-benar berkualitas.

Anak-anak yang sengaja membuat atau menyebar suatu cerita, dan kemudian terungkap bahwa cerita itu hoaks belaka, mungkin saja akan terguncang. Ia merasa malu sekali. Tambah lagi, ia berisiko menjadi sasaran bulan-bulanan teman atau pun menerima sanksi dari sekolahnya.

Atas dasar itu, anak perlu dibiasakan untuk saling cek dan ricek. Tabayun. Kritis terhadap informasi bukan lagi sikap mental yang hanya dipunyai kalangan akademisi. Masyarakat awam, termasuk anak-anak, pun patut memiliki daya saring yang tinggi terhadap informasi.

Periksa lagi, periksa lagi, dan periksa lagi benar-tidaknya informasi yang diterima. Sebelum anak teryakinkan akan kebenaran informasi itu, jangan mencoba untuk segera menyebarluaskan. Simpan atau boleh juga dibuang.

Orang-orang dewasa, khususnya para orangtua di rumah, sudah selayaknya mampu menjadi teladan bagi anak-anak tercinta tentang bagaimana menilai informasi apa pun yang mereka terima. Bukannya malah asyik menikmati hoaks dan menyebarkannya ke mana-mana di depan anak-anak. Anak-anak ialah peniru terbaik bagi apa yang biasa dilakukan orangtua. Semoga.

 

BERITA TERKAIT