Jangan Takut Bertransformasi Digital


Penulis: RIZKY NOOR ALAM - 01 December 2018, 05:05 WIB

MEMASUKI penghujung 2018, ada fakta mengejutkan perihal sepak terjang digital dari dunia korporasi Tanah Air. Berdasakan Indeks Transformasi Digital Dell Technologies (DT Index), hanya 6% bisnis di Indonesia yang masuk dalam kategori Pemimpin Digital. Sementara itu, 57% pemimpin bisnis di Indonesia meragukan kemampuan perusahaan mereka dalam memenuhi tuntutan pelanggan yang terus berubah dalam jangka lima tahun ke depan.

Adapun 27% pemimpin bisnis khawatir mereka akan kalah bersaing. DT Index merupakan hasil studi pemetaan atas transformasi digital yang dilakukan perusahaan-perusahaan skala menengah hingga besar. Studi juga melibatkan pendapat perusahaan-perusahaan tersebut tentang kinerja mereka dalam beberapa bidang dengan mengacu pada faktor-faktor penting  dari sebuah bisnis digital, seperti strategi teknologi informasi (TI), strategi transformasi tenaga kerja, dan rencana investasi.

Lebih lanjut, mayoritas responden perusahaan  di Indonesia termasuk kategoriEvaluator Digital, yang berarti masih  banyak perusahaan yang  mempertimbangkan atau malah menunda melakukan apa pun terkait dengan transformasi digital. “Kita sudah sering mengatakan kalau kita saat ini berada di titik puncak perubahan besar, tapi situasi sudah berubah,” ujar Vice President, Data Center Solutions, Asia Pacific & Japan, Dell EMC, Paul Henaghan, dalam paparan pers di Jakarta, Kamis (22/11).

Lebih lanjut, Paul menambahkan bahwa era digital tahap selanjutnya sudah datang dan sudah mulai menata ulang cara hidup orang banyak termasuk cara bekerja dan berbisnis. “Artinya, waktu sangatlah penting. Transformasi yang sebenarnya harus terjadi sekarang dan secara radikal,” imbuh Paul. Dari hasil riset Dell itu, setidaknya ada empat hambatan bagi mayoritas perusahaan di Tanah Air untuk bertransformasi digital.

Pertama, adanya kekhawatiran akan privasi data dan keamanan siber. Kedua, kurangnya anggaran dan sumber daya peraturan atau perubahan legislatif. Ketiga, kurangnya teknologi yang tepat untuk digunakan sesuai kecepatan yang dibutuhkan bisnis tersebut. Terakhir, kurangnya tenaga dan pengalaman yang tepat di dalam perusahaan.

Semua rintangan tersebut memperlambat laju usaha transformasi digital. Di sisi lain, pihaknya juga melihat ada upaya perusahaan di Indonesia untuk mulai mengambil langkah-langkah penting guna mengatasi hambatan-hambatan itu. Hal tersebut bisa dilihat dari hasil riset yang menyatakan 67% bisnis di Indonesia menggunakan teknologi digital untuk mempercepat pengembangan produk/layanan baru.

Sementara itu, ada 50% yang berbagi pengetahuan lintas divisi, antara lain dengan meningkatkan pengetahuan para pemimpin TI dengan keterampilan bisnis dan para pemimpin bisnis dengan keterampilan TI. Kemudian, 49% melakukan kerja keras untuk mengembangkan pengetahuan dan keahlian internal yang tepat, seperti mengajari staf cara membuat kode (coding).

Persimpangan
Tidak hanya itu, berbagai perusahan saat ini juga telah beralih ke teknologi baru yang sedang berkembang dan keamanan siber (cyber security) untuk menggerakkan (dan mengamankan) inisiatif transformasi mereka. Paling tidak, ada 60% pelaku bisnis yang merencanakan berinvestasi di keamanan siber, juga investasi di teknologi IoT (internet of things).

“Saat ini adalah waktu yang sangat menarik untuk berbisnis. Kita berada di persimpangan penting, di mana teknologi, bisnis dan manusia bertemu untuk menciptakan dunia yang lebih baik dan lebih terhubung,” imbuh Managing Director, Dell EMC Indonesia, Catherine Lian. Ia melanjutkan, hanya perusahaanperusahaan yang fokus menggunakan teknologi yang akan meraih manfaat yang ditawarkan model bisnis digital, termasuk kemampuan untuk bergerak cepat, mengotomatiskan semua hal dan memenuhi tuntutan pelanggan.

“Itulah kenapa transformasi digital harus menjadi prioritas nomor satu,” pungkasnya. Dalam kesempatan berbeda, Insaf Albert Tarigan, pemerhati teknologi digital berpendapat bahwa secara umum, kajian-kajian ilmiah menunjukkan bahwa transformasi digital sangat urgen dilakukan perusahaan, sebesar apa pun skalanya.

“Jika tidak, setidaknya ada dua kerugian yang mungkin mereka alami. Pertama, melewatkan kesempatan untuk menjalankan perusahaan secara lebih efektif dan efi sien. Kedua, bisnis mereka bisa saja menurun atau malah terdisrupsi pesaingnya,” ungkap pria yang akrab disapa Albert saat dihubungi Media Indonesia (29/11).

Walau demikian, Albert menambahkan, sebelum melakukan transformasi digital, perusahaan tentu harus melakukan kajian terlebih dahulu untuk menjawab setidaknya tiga hal. “Ketiga hal tersebut adalah apa target mereka, kapan akan dimulai, dan bagaimana transformasi itu bisa dikembangkan ke area yang lebih luas,” tegas Albert. Pasalnya, transformasi digital bukan sekadar membuka akun media sosial dan menghimpun follower.

Transformasi digital, imbuhnya, secara umum dipahami sebagai bagaimana perusahaan memanfaatkan teknologi untuk menjalankan bisnis secara lebih efektif dan efi sien, menciptakan model bisnis baru, dan menciptakan value-value baru bagi konsumen. (M-2)

BERITA TERKAIT