Panggilan Hati Menjadi Motivator bagi Anak Didik


Penulis: Bay/S-1 - 26 November 2018, 11:00 WIB

GURU maupun tenaga didik mengemban tugas yang tidak ringan. Di ‘pundak’ mereka ada tugas mencerdaskan anak bangsa. Karena itu, tidak salah bila tugas berat tersebut layak diganjar penghargaan.

Seperti penghargaan yang telah diberikan kepada sejumlah guru di Tanah Air. Salah satunya, Susi Sugianti, guru Taman Kanak-kanak (TK) Negeri Pembina Provinsi Nusa Tenggaran Timur (NTT) yang meraih penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Provinsi NTT dan Guru Berprestasi Tingkat Nasional Kemendikbud 2017.

Perempuan kelahiran Subang, Jawa Barat tersebut memilih menjadi pendidik di daerah yang jauh dari daerah asalnya.

Ia menetap di Kupang sejak 2009 dan merasakan kenyamanan sebagai pendatang karena daerah tersebut memiliki tingkat toleransi beragama yang tinggi. “Saya merasa toleransi keagamaan tinggi di sini. Dalam belajar di kelas kami juga praktikkan kehidupan keberagaman dan saling toleransi. Kami merayakan hari Idul Fitri dan hari Natal secara bersama serta saling memberi dan menghormati,” ujarnya kepada wartawan di Kupang, Jumat (23/11).

Ia meraih juara Guru Beprestasi Tingkat Nasional dengan presentasi bertajuk ‘Meningkatkan Kreativitas Anak melalui Gambar Bebas’.
“Saya tidak menyangka berhasil juara tingkat nasional karena masih merasa sedikit yang saya sumbangkan di dunia pendidikan, maka saya
harus perbuat lebih baik lagi,” kata Susi yang juga Koordinator Kurikulum TK Negeri Pembina itu.

Cerita lain peraih penghargaan ialah Kepala SMA Katolik berprestasi tingkat Provinsi NTT, Romo Fidelis. Ia menilai menjadi guru merupakan pilihan hidupnya mengabdi pada masyarakat.

Ia dinilai berprestasi karena berhasil menjadi Kepala SMA yang awalnya dikenal sebagai sekolah tidak disiplin dan siswa yang bandel. Di bawah kepemimpinannya, ia mengubah lembaga pendidikan itu menjadi sekolah yang berdisiplin dan favorit. “Saya dinilai berhasil menjadikan sekolah yang saya pimpin dari sekolah buangan menjadi sekolah model,” cetus Kepala SMA Katolik yang bertempat tinggal di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT itu.

Di sisi lain, penghargaan Guru Berprestasi tingkat Provinsi di NTT dan finalis Guru Berprestasi Tingkat Nasional Kemendikbud 2018, diraih Cici Mada. SD Kristen (SDK) Citra Bangsa Kota Kupang, NTT itu memilih profesi guru karena panggilan jiwa.

“Menjadi guru itu cita-cita saya, anak-anak milenial saat ini juga banyak lo yang mau jadi guru, selain bercita-cita menjadi dokter. Bagi saya, pilihan profesi guru merupakan panggilan hati. Manakala masuk kelas kita harus lepas semua masalah, fokus melayani anak didik dan menjadi motivator buat mereka,” papar Cici Mada.

Kendati belum berhasil meraih prestasi di tingkat nasional, ia mengaku banyak belajar guru dari daerah lain.

Sementara itu, Mikael Maran meraih penghargaan Pengawas Berprestasi SMA 2018 NTT dari Kabupaten Sikka, ia menyatakan, guru harus mau lepas dari zona nyaman, terus meningkatkan diri dengan kemampuan dan pengetahuan kekinian di era serbadigital dewasa ini. “Kelemahan para guru kami khususnya di NTT yang saya amati, tidak mau memanfaatkan perkembangan IT atau digital sehingga tidak inovatif, tidak mau meng-update diri atas perkembangan, kemajuan, serta kurang gigih meningkatkan kemampuan berbahasa,” pungkas Mikael yang telah mengarang sejumlah buku pembelajaran untuk para guru tersebut. (Bay/S-1)

BERITA TERKAIT