Pemilih Amerika Serikat Mengkritisi Trumpisme


Penulis: Suzie S Sudarman Ketua Pusat Kajian Wilayah Amerika Universitas Indonesia - 12 November 2018, 09:00 WIB
Seno
Seno

LAZIMNYA rakyat Amerika Serikat itu kurang tertarik untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum sela. Sekalipun demikian hasilnya sering kali cukup menganggetkan. Kekalahan Pemilu Sela 2006 disebut Presiden George Bush sebagai a thumping dan demikian pula kekalahan Pemilu Sela 2010 dikenal juga dengan istilah Presiden Obama dems took a 'shellacking'.

Jika kedua Presiden menerima kekalahan dalam pemilu sela, Presiden Donald Trump justru menyatakan "Democrats won the house but Trump won the election". Presiden Trump tidak mau mengakui adanya penolakan akan 'Trumpism' dan malah menyatakan bahwa Partai Republik (GOP) melawan kecenderungan sejarah dengan menambah jumlah kursi di Majelis Tinggi (Senat) AS.

Model penguasaan demokratis mengharuskan partai politik AS mengambil langkah yang tegas untuk membedakan diri dari satu sama lain, agar para pemilih memiliki kemampuan membedakan agenda parpol yang akan dipilihnya. Ada teori lain yang menyatakan warga mendasarkan pilihannya pada prestasi politisi dan parpol yang berlaga.

Dalam medan laga pemilu sela kali ini Partai Demokrat mendasarkan agenda politik pada isu-isu yang sudah berkembang sejak terpilihnya Presiden Trump, yakni sejak 'women's march' di awal 2017. Ditambah isu affordable care act (ACA), Medicare, Medicaid yang terancam dipangkas habis, soal pengawasan senjata atau gun control, juga soal pemotongan pajak orang-orang kaya atau tax cut. Trumpism atau filosofi dan politik yang erat kaitannya dengan Presiden Trump, yakni anti perdagangan bebas, anti imgran, anti ucapan-ucapan yang politically correct (mengandaikan kita tidak menghina) dan anti globalisasi atau anti perdagangan bebas ini agak berada di luar dari apa yang terbiasa dalam diskursus politik warga Amerika.

Sebaliknya, GOP mengutamakan slogan-slogan yang mengarusutamakan rasa ketakutan ekstrem warga AS, dan memberi tekanan pada rasa fobia masyarakat atas gangguan yang merugikan yang datang dari interaksi transnasional AS. Kemudian membangunkan rasa keunggulan bangsa yang terusik oleh persaingan global dan mengutamakan istilah seperti America first- Amerika nomor satu atau make America great again-bertindaklah agar Amerika tetap unggul.

Tindakan nyata ialah memberi sanksi pada Iran, melakukan perang dagang terutama dengan Tiongkok, mengolah konflik dengan Korea Utara agar menjadi hal yang menunjukkan bahwa hanya Presiden Trump-lah yang mampu menciptakan perdamaian di Asia Timur.

Dalam pemilihan sela kali ini, para politisi Partai Demokrat yang berbekal anti-Trumpism berhasil unggul di Majelis Rendah (House of Representatives). Sementara itu, Majelis Tingginya (Senate) masih belum tuntas penghitungannya dan masih berpotensi konflik di Florida seperti di masa pemilihan Presiden Bush di 2000. Anti-Trumpism menjadi ciri yang menonjol dalam Pemilu Sela 2018 ini. Bagaimana kelanjutannya? Argumen saya lebih menekankan bahwa warga Amerika itu akan terus menjadi target kebohongan dan kebencian yang menjadi ciri Trumpism.

Referendum pemilihan sela ini belum berhasil mematahkan rasa kebencian pada etika tradisional yang menonjol di masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Sang Presiden seakan-akan memang dengan sengaja membangkitkan semangat laissez faire kaum kaya di AS agar mampu menggerakkan perekonomian negeri. Tampaknya Presiden Trump tidak menyadari bahwa military keynesianism atau pertumbuhan ekonomi AS sesungguhnya telah begitu tergantung pada pengelolaan perang di belahan dunia lainnya. Jadi, memang uang untuk AS banyak berasal dari pengelolaan peperangan, atau pemberian sanksi pada negara-negara yang dipandang sebagai telah secara curang merugikan mereka, dan menyebabkan tumbuhnnya defisit neraca perdagangan.

Agenda tradisional

Para politisi Demokrat setelah berhasil memenangkan Majelis Rendah, dan tetap berharap bahwa perimbangan di Senat tidak terlalu senjang dengan GOP. Politisi Demokrat sudah mulai menyuarakan apa yang menjadi kerisauan politisi dan rakyat Amerika. Sebagai contoh Amy Klobuchar, kandidat Senator Minnesota, mengutarakan keinginannya untuk mengundangkan 'Secure Elections Act' atau Undang-undang Pemilihan yang Aman yang mewajibkan pembaruan dalam sistem pemilihan AS, dengan mengharuskan audit dan adanya garansi bahwa penggunaan uang pemerintah federal disertai surat-surat yang absah, yang berasal dari setiap daerah pemilihan agar terjaga kejujuran pelaksanaannya. Protes warga dan undang-undang untuk melindungi penyelidikan Robert Mueller segera pula dipikirkan untuk diundangkan, apalagi dengan dengan dipecatnya Jaksa Agung Jeff Sessions dan terpilihnya Matthew Whitaker.

Politisi Partai Demokrat juga menyiapkan dengar pendapat soal paket perpajakan GOP dan penelusuran tindakan-tindakan Menteri Dalam Negeri (interior secretary) Ryan Zinke soal penyalahgunaan kekuasaan yang berkaitan dengan soal jual-beli tanah di Montana, di samping pertemuan-pertemuaan yang dilakukan dengan kalangan multi milyarder AS.

Hasil pemilihan sela

Hasil pemilihan sela menunjukkan secara jelas bahwa kalangan di wilayah urban (kota) menunjukkan keinginan melawan Trumpism, atau serangan bertubi-tubi atas kultur yang telah lazim berlaku di kalangan warga Amerika. Antara lain soal political correctness (mengandaikan kita tidak menghina) dan akal sehat yang mewajibkan kesopanan (decency).

Sebaliknya, kalangan yang tinggal di wilayah pertanian (rural) lebih cenderung untuk tetap bertahan dengan filosofi konservatisme, tetapi mulai merasa waswas. Khususnya para penanam kedelai (soybean) di kawasan pertanian mengalami penurunan ekspor akibat perang dagang dengan Tiongkok, dan terkena 25% tarif. Saat ini Tiongkok sekadar tercatat berada dalam urutan 18 sebagai pembeli kedelai, dan para petani tersebut kemudian menerima subsidi pemerintah AS.

Tampaknya telah terjadi pergeseran dari rantai pasokan (supply chain) kedelai. Bersamaan dengan itulah politisi Demokrat di Washington tepat dalam prediksi untuk meningkatkan margin kemenangan melawan GOP, atau mengurangi margin kekalahannya di negara-negara bagian merah (red states- wilayah kemenangan Trump).

Dalam sebuah medan laga pemilihan sela AS yang fokusnya ada pada soal perawatan kesehatan, penciptaan lapangan pekerjaan, perpajakan, dan penanggulangan akibat perluasan konflik dengan Tiongkok yang biasanya membeli hasil pertanian AS, hasilnya menunjukkan penyempitan margin penguasaan politisi GOP. Rasa frustrasi para pemilih juga tampak di berbagai daerah pemilihan yang akan terkena konsekuensi perang dagang dengan 'Negeri Tirai Bambu' tersebut.

Politisi Demokrat Kim Schier menang di daerah pemilihan yang telah dikuasai GOP selama 35 tahun. Itu merupakan kawasan pabrik yang menggunakan teknologi tinggi dan menjadi pengeskpor buah-buahan, yakni di negara bagian Washington yang merugi akibat kebijakan perdagangan Presiden Trump.

Terwujudnya proses inklusi

Trumpism yang mengunggulkan kalangan pemilih yang berkulit putih. Bahkan, terus menggunakan apologia terhadap tindakan-tindakan rasis terhadap kalangan kulit berwarna. Kondisi itu menimbulkan rasa kurang pas bagi warga Amerika yang telah lama hidup dalam kebersamaan dan perbedaan, yang pada akhirnya menimbulkan upaya perlawanan yang sesungguhnya wajar jika ditinjau dari perkembangan sejarah AS.

Tulisan Kevin Phillips bertajuk American Theocracy and Politics of Radical Religion, Oil, and Borrowed Money in the 21st Century menyatakan bahwa ada rasa kurang bahagia di kalangan warga Amerika terhadap budaya popular (pop culture), yang ditunjukkan dengan kadar peningkatan semangat keagamaan, negara dan agama yang saling terkait, dan arogansi militer

Desakan pemerintah federal--baik di bawah periode pemerintahan GOP maupun Demokrat antara 1933-1980--untuk menasionalisasikan satu standar kebebasan dan keadilan bagi setiap warga Amerika--telah menghasilkan berbagai isu bagi pemilih Amerika. Istimewanya soal penekanan pada perlakuan yang setara bagi minoritas dan kaum perempuan di Amerika.

Upaya mengekslusi warga itu dijawab kalangan Partai Demokrat dengan mendorong partisipasi kaum minoritas, dan memperbanyak calon-calon perempuan dalam proses pemilihan sela ini. Khususnya dalam pemilihan sela kali ini ada dua orang wakil penduduk asli Amerika (native Americans) Sharice Davids dan Deb Haaland, juga wakil yang beragama Islam Rashida Tlaib dan Ilhan Omar.

Perimbangan kekuasaan

CCES (Cooperative Congressional Election Study) menunjukkan bahwa kebanyakan pemilih berasal dari kalangan yang berusia 18-39 tahun. Kalangan urban cenderung memilih kandidat Partai Demokrat. Pemilih kaum perempuan juga mengalami peningkatan, dan perempuan yang terdidik juga cenderung meningkat partisipasinya. Rasa kekurangnyamanan terhadap perilaku yang bersifat diskriminatif (hostile sexism) dalam proses pemberian suara di Majelis Rendah, juga menunjukkan perilaku diskriminatif yang nyata terhadap kaum perempuan. Hal ini kemudian telah mendorong kaum perempuan untuk memilih politisi Demokrat, dan menjadi peringatan dini bagi politisi GOP yang terlalu dekat dengan diskursus Presiden Trump yang bersifat memecah dan sangat bernuansa kebencian. Hasilnya, Partai Demokrat di Majelis Rendah memperoleh 225 kursi dan menambah 7 jabatan gubernur. Sementara itu, di Majelis Tinggi masih menunggu hasil penghitungan.

 

 

 

BERITA TERKAIT