Masjid Kampus Jangan Disisipi Paham Radikal


Penulis: (Ins/Gol/P-1) - 11 November 2018, 10:00 WIB
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

WAKIL Presiden Jusuf ­Kalla meminta pembentukan kurikulum khotbah di masjid kampus agar terfokus untuk memotivasi mahasiswa memperoleh pemahaman agama yang baik.

Menurut JK yang juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), sedikitnya ada 100 kali umat Islam beribadah di masjid dalam setahun dan mendengarkan ceramah.

“Ini dapat dilakukan dengan suatu cara, bagaimana masjid itu lebih memberikan motivasi sehingga bukan hanya tempat beribadah. Dengan cara bagaimana 100 waktu (salat wajib) itu dibuatkan kurikulumnya, suatu silabus yang baik,” kata Wapres JK saat menghadiri acara Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) di Gedung D Kemenristek-Dikti, Jakarta, kemarin.

Kurikulum tersebut, lanjut JK, tidak perlu menye-ragamkan konten khotbah, melainkan bisa menetapkan tema tertentu setiap bulan sehingga mahasiswa tidak hanya mengikuti mata kuliah agama di kampus saja, tetapi juga mendapat pemahaman agama dengan baik.

Kurikulum untuk khotbah di masjid kampus juga dapat menghindarkan penyebaran radikalisme di kalangan mahasiswa. Karena itu, JK berharap pembentukan kurikulum khotbah dapat mulai diterapkan di masjid di lingkungan universitas dan perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi Islam.

JK juga mengingatkan Asosiasi Masjid Kampus Indonesia untuk memperhatikan kualitas sistem pengeras suara dan letak penempatan pengeras suara di masjid karena berpengaruh pada pemahaman khotbah oleh jemaah.

Di lokasi yang sama, Menristek-Dikti Mohamad Nasir meminta pengurus masjid kampus untuk berkoordinasi. Ia berharap kepeng­urusan masjid kampus dikembalikan ke pihak kampus agar tidak disisipi paham-paham radikal.

“Banyak kampus yang punya masjid yang tidak bisa dikendalikan, dikoordinasikan, dengan baik. Akibatnya, di kampus jadi muncul kegiatan-kegiatan yang memunculkan radikalisme dan sebagainya. Ini harus kita selesaikan. Ini kebetulan ada asosiasi, penguatan. Penguatan pada kampus-kampus yang mempunyai masjid untuk bersinergi. Tadi arahan dari Bapak Presiden, buatlah satu sistem informasi, siapa yang ceramah, siapa ini, ini saya senang sekali,” ujar Menteri Nasir.

BERITA TERKAIT