SBY Ajak Hindari Politik Identitas


Penulis: (Gol/P-1) - 11 November 2018, 09:45 WIB
ANTARA FOTO/Reno Esnir
ANTARA FOTO/Reno Esnir

KETUA Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menangkap iklim politik Indonesia bergeser pada permainan politik identitas. Hal yang mulai terlihat sejak Pilkada DKI 2017 itu harus dihindari.

"Partai Demokrat mengajak dan menyerukan kepada komponen bangsa dan elite politik, para pemimpin partai poltik, mencegah terjadinya politik identitas dan benturan ideologi, paham yang semakin ekstrem," jelas SBY di hadapan ratusan calon anggota legislatif Partai Demokrat di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, kemarin.

Presiden ke-6 Indonesia itu berharap Pemilu serentak 2018 berlangsung damai dan demokratis. Namun, kompetisi keras memang tak bisa dihindari. "Demokrat tidak ingin kontestasi pilpres dan pileg tahun depan prosesnya menimbulkan perpecahan bangsa, jangan mengarah ke disintegrasi. Kerukunan dan persatuan bangsa (harus dijaga)," ucap dia.

Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan partainya sedang fokus memenangkan caleg di daerah masing-masing. Mereka sudah memetakan dapil potensial untuk mendulang suara. "Kami tetap pada fokus untuk bisa menyukseskan caleg di berbagai dapil. Kami sudah punya datanya, dapil-dapil yang potensial. Misalnya, dapil yang terus bisa kita tingkatkan suaranya, tapi juga ada sejumlah dapil yang perlu kami beri atensi khusus, jangan sampai kursi kami yang sudah ada sebelumnya kemudian hilang," kata AHY.

AHY mengatakan bisa saja caleg Partai Demokrat memanfaatkan figur Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk mendapatkan efek ekor jas (coattail effect) saat kampanye. Namun, menurutnya, hal itu belum tentu menguntungkan.

Berdasarkan hasil survei yang ia miliki, partai yang mendapat coattail effect karena membawa nama Prabowo-Sandi ialah Gerindra.

"Memang tidak mudah, kita tahu, kita semua membaca survei, partai yang paling diuntungkan dalam kontestasi Pemilu 2019 ini ialah partai yang memiliki capres, dalam hal ini PDIP karena memiliki Pak Jokowi sebagai capres dan kemudian Gerindra sebagai peng-usung Pak Prabowo. Oleh karena itu, tentu realitas ini tidak hanya dihadapi Partai Demokrat, tapi juga dihadapi oleh partai lainnya," ujar AHY.

BERITA TERKAIT