Jokowi Ingin Menang "Tebal" di Jabar


Penulis: Antara - 10 November 2018, 20:17 WIB
ANTARA FOTO/Wahyu
ANTARA FOTO/Wahyu

CALON Presiden RI Joko Widodo ingin pasangan Jokowi/Ma'ruf Amin bisa menang "tebal" (banyak) pada kontestasi Pemilihan Umum Presiden 2019 di Provinsi Jawa Barat.

"Saya mendapatkan feeling. Saya sudah hitung. Menurut saya di Jabar (Jokowi/K.H. Ma,'ruf Amin) menang tetapi tipis. Akan tetapi, saya pinginnya menang tetapi 'tebal', enggak tipis. Insyaallah, kalau 'door to door kita akan menang 'tebal' di Jabar," kata Jokowi saat memberikan sambutan pada acara Silaturahmi dan Konsolidasi Tim Kampanye Daerah Jawa Barat Pasangan Jokowi/Ma'ruf di Bandung, Sabtu.

Di hadapan ratusan kader dan simpatisan partai pengusungnya, Jokowi yang mengenakan kaus berwarna abu-abu dan memakai ikat menyampaikan sejumlah hal seperti meminta para kader dan simpatisan partai pengusung untuk menangkal hoaks tentang dirinya.

"Harus pandai-pandai, harus cepat menanggapi isu hoaks atau fitnah. Di Jabar, akhir-akhir ini hoaks mulai menanjak tajam. Ini harus dilawan," katanya.

Ia menuturkan bahwa hoaks yang menyerangnya ialah terkait dengan isu asing atau dirinya sebagai "perpanjangan tangan asing". Padahal, itu semua tidak benar.

Selain itu, dia juga meminta para calon anggota legislatif dari partai pengusungnya di Jawa Barat untuk menjawab berbagai isu negatif dan hoaks yang beredar mengenai dirinya dengan jawaban berupa fakta kepada masyarakat.

"Petahana pasti disorot dan dicari kegagalannya, kekurangannya, pasti di mana pun. Oleh sebab itu, harus pandai-pandai menjelaskan kepada rakyat apa yang sudah dilakukan. Keberhasilan apa yang oleh pemerintah diraih," katanya.

Ia mengatakan bahwa hoaks terkait dengan antek asing ialah soal saham Indonesia di Freeport, Papua.

Faktanya, menurut dia, pada awalnya saham Indonesia di Freeport hanya 9 persen sekarang menjadi 51 persen.

"Freeport puluhan tahun dipegang Amerika. Selalu setiap perpanjangan, kita dapat cuma 9 persen. Kita minta mayoritas, tahun ini agreement 51 persen secara hukum, perjanjian, dan kesepakatan. Itu sangat sulit, mendapat tekanan dari mana-mana. Bukan hal mudah," katanya.

Jokowi juga sering disebut sebagai antek Cina dengan alasan kini terdapat 10 juta pekerja asal Cina di Indonesia.

Ia menjelaskann bahwa data 10 juta tersebut bukanlah data pekerja, melainkan jumlah wisatawan Cina ke Indonesia.

"Jadi, yang benar itu dari 78.000 tenaga asing total di Indonesia, dari Cina 24.000 orang. TKI kita di Cina 80.000 orang, di Hongkong 100.000 orang, lainnya ratusan ribu orang. Kemudian di Uni Emirat Arab?80 persen pekerjanya adalah pekerja asing, Arab Saudi 33 persen adalah pekerja asing, Brunei 32 persen, Singapura 22 persen, dan di Indonesia 1 persen juga enggak sampai," katanya.

Jokowi berpesan para kader dari partai pengusungnya menuturkan segala keberhasilan pembangunan yang dicapainya kepada rakyat dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

"Yang simpel-simpel saja. Rakyat diterangkan yang simpel yang langsung kena. Sampaikan semua keberhasilan pembangunan yang telah dicapai dan tangkal segala hoaks," katanya. (OL-4)

BERITA TERKAIT