Cerita Budaya dan Keseharian


Penulis: Suryani Wandari - 11 November 2018, 04:55 WIB
DOK JFW
DOK JFW

DALAM padanan busana-busana itu segala motif bercampur dan bersanding dalam blok-blok bidang. Motif batik buketan (bunga), polkadot, kalim (motif permadani asal Timur Tengah), motif-motif keramik, hingga sentuhan tipografi.

Meski begitu, tidak pula busana-busana tersebut terlihat memusingkan. Namun, dengan bahan ringan dan potongan sederhana, tetap tampak elegan dan dinamis.

Begitulah koleksi terbaru Studio 133 Biyan yang diperagakan di Hotel Dharmawangsa, Selasa (6/11). Bertajuk Juxtaposition, koleksi tersebut, menurut Biyan Wanaatmadja, merefleksikan perjalanan 36 tahun berkarya di dunia mode.

Juxtaposition memiliki arti dua hal yang ditempatkan berdekatan dan menghasilkan efek kontras. Pria berusia 64 tahun yang sudah mendirikan brand sejak 1984 itu menjelaskan Juxtaposition-nya ingin bercerita mengenai penyandingan, percampuran, bahkan penabrakan.

Sebagaimana yang terlihat, Biyan memang tidak hanya menyandingkan dua motif, tetapi banyak. Bahkan bukan hanya motif, melainkan detail dan aplikasi, seperti bordir, bahan brokat, payet, dan batuan.

"This is fashion, tak ada yang salah," kata sang desainer senior soal konsep tabrak motif itu.

Lebih lanjut ia menjelaskan motif-motif yang dipilih sekaligus menceritakan berbagai tempat, budaya, dan hal-hal keseharian yang menarik baginya.

Soal potongan busana sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang ia kerap hadirkan selama ini, yakni baby doll, blus bergaya piama, celana longgar, rok lipit, jubah, dan rok berukuran ekstra.

Koleksi itu juga senada dengan koleksi kolaborasinya dengan Vivy Yusof, co-founder Fashion Valet. Koleksi kolaborasi ini khusus dihadirkan untuk Fashion Valet.

Budaya Betawi

Perpaduan berbagai budaya juga ada di peragaan yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DKI Jakarta di Jakarta Fashion Week (JFW) 2019. Pada show yang berlangsung bulan lalu, Dekranasda membawa lima brand/desainer untuk bereksplorasi dengan budaya Jakarta. Kelimanya ialah Nita Seno Adji, Batik Marunda, Klambi Abite, Batik Story, dan Culture Edge.

Di tangan mereka, keindahan budaya Jakarta dipadukan dengan pesona daerah lainnya. Konsep itu dikemas dengan tajuk Spirit of Jakarta, yang sekaligus menggambarkan Ibu Kota sebagai mangkuk percampuran berbagai budaya, dengan budaya Betawi sebagai ceruk awalnya.

Nita Seno Adji mengambil inspirasi dari kencantikan bunga kerak nasi yang konon digunakan untuk merawat kecantikan wajah perempuan masa lampau. Motif bunga itu dituangkan di bahan organza dan tile dan kemudian dipercantik dengan payet, dan kreasi bordir.

Ide yang unik juga datang dari Wendy Sibarani. Seniman di label Batik Marunda itu menonjolkan batik Betawi. Uniknya batik tersebut dihasilkan dengan program pemberdayaan perempuan di tiga rumah susun sewa Jakarta, yaitu pencantingan di Rusun Rawa Bebek, pewarnaan dan pencelupan di Rusun Marunda. Penyelesaian produk itu dilakukan sulam di Rusun Pesakih. Filosofi gotong royong menjadi ciri khas Batik Marunda yang tampil dengan tema flora fauna Jakarta.

Sementara itu, Klambi Abite by Novi dan Tika mengusung tema Java and Batavia nature hybrid. Novi dan Tika mengombinasikan motif Betawi, ondel-ondel, Tugu Monas, tanjidor, dan ikon Jakarta lainnya, dengan lurik khas Yogyakarta. Sementara itu, Culture Edge by Linda dan Sarah mengusung tema Look to East-Sumba glam, untuk mengenalkan masyarakat Jakarta tren fashion yang modern dan edgy. (*/M-1)

BERITA TERKAIT