Untuk Hibur yang "Mulia", Ketua MK pun Goyang Terajana


Penulis: Gaudensius Suhardi - 10 November 2018, 19:41 WIB
Ist
Ist

HAKIM Konstitusi dipanggil “yang mulia” pada saat sidang. Akan tetapi, bagi Ketua Mahkamah Konstitusi Anwar Usman profesi guru ternyata tidak kalah mulianya, bahkan jauh lebih mulia.

Berdasarkan ajaran agama yang dianutnya, kata Anwar Usman, dua dari tiga hakim akan masuk neraka karena perilaku yang tidak adil dalam menangani dan memutus perkara. Hanya satu hakim yang akan masuk ke surga karena perbuatannya yang adil.

Guru, kata Anwar Usman, merupakan pekerjaan yang teramat mulia yang dijanjikan pahala. Bahkan, kata dia, setelah guru meninggal pun pahala tetap mengalir.

Anwar Usman menyoroti peran guru pada Malam Anugerah Konstitusi 2018 di Pusat Pendidikan Pancasila dan Konstitusi MK di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/11) malam. MK memberikan penghargaan kepada guru tingkat SD, SMP, dan SMA yang memenangi kompetisi pemahaman konstitusi.

Media Indonesia dan sejumlah koran lainnya juga mendapatkan penghargaan Anugrah Konstitusi. Penghargaan Anugrah Konstitusi juga diberikan kepada penulis opini konstitusi di media massa terbaik, yang diraih Trisno S Sutanto, Titi Anggraini, dan Zainal Arifin Mochtar.

Saat memberikan penghargaan untuk media massa, Ketua MK mengingatkan pentingnya keterlibatan media massa untuk semakin menyosialisasikan konstitusi di masyarakat.

Anwar Usman lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat, 31 Desember 1956. Putra dari pasangan Usman A Rahim dan St Ramlah ini dibesarkan di Desa Rasabou, kota kelahirannya.

Di hadapan para guru, Anwar Usman memamerkan suara emasnya. Ia bernyanyi sambil bergoyang. Kepiawaiannya bergoyang itu, ternyata, diasah saat aktif dalam kegiatan teater di bawah asuhan Ismail Soebarjo sebagai anggota Sanggar Aksara.

Dia bahkan sempat unjuk aksi memamerkan bakat seni perannya dalam sebuah film, yang dibintangi Nungki Kusumastuti, Frans Tumbuan, dan Rini S Bono, serta besutan sutradara ternama Ismail Soebarjo pada 1980.

Pada awalnya Anwar Usman enggan memenuhi permintaan penyanyi Ikke Nurjanah untuk berduet dengan alasan suara parau. Namun, ‘tiba-tiba’ saja suaranya pulih kembali setelah minum air jeruk resep Ikke Nurhjanah. Keduanya melantunkan sejumlah lagu dangdut di antaranya Terajana sambil bergoyang. (OL-4)

BERITA TERKAIT