Nol Kilometer Cokelat Gunung Api Purba


Penulis: FURQON ULYA HIMAWAN - 11 November 2018, 04:20 WIB
MI/FURQON ULYA
MI/FURQON ULYA

SEJUMLAH perempuan masih sibuk di ruang produksi Griya Cokelat Nglanggeran. Mereka membuat bulatan-bulatan kecil dari adonan cokelat yang warnanya agak keputihan. Bulatan itu digepengkan lalu dicampur dengan bulatan lain, digabungkan menjadi bulatan agak besar, kemudian dimasukkan ke mesin pemanggang.

“Ini proses pembuatan bakpia cokelat,” jelas Surini, warga Nglanggeran yang mengelola Griya Cokelat, kepada Media Indonesia. Begitulah rutinitas di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Petani kakao di daerah Gunung Api Purba itu, telah mampu memberi nilai tambah.

Tidak sekadar menjual produk mentah, mereka mengolah kakao menjadi bermacam varian minuman dan penganan sebagai oleh-oleh khas wisata Gunung Api Purba. Di Griya Cokelat itulah berbagai varian cokelat lahir.

Untuk produk minuman ada chocomix, chocomix-classic, chocomix-ffee, chocomix-tawa, dan chocomixice. Penyuka cokelat batangan bisa menjajal chocomix-bar, chocomix-coconut milk praline,
chocomix-peanut milk praline, dan chocomix-dodol milk praline.

Ada pula produk cokelat lain, seperti bubuk cokelat, dodol cokelat, dan salut pisang cokelat. Menurut Surini, semua produk Griya Cokelat dikerjakan dari dan oleh petani serta warga Nglanggeran. Mayoritas memang berprofesi sebagai petani kakao. Dari 823 rumah tangga yang ada, terdapat tidak kurang dari 645 petani kakao dengan total luasan lahan sekitar 40 hektare.

Dalam pengelolaannya, warga Desa Nglanggeran membaginya dengan sistem kluster. Pertama,  kelompok tani yang menyiapkan bahan baku dan merawat sampai memanennya. Kedua, unit pengolahan hasil (UPH), kelompok petani yang fokus memfermentasi dan pengeringan. Ketiga, masyarakat desa dari kelompok ibu-ibu petani yang mengolah biji kering menjadi bubuk coklat. Keempat, ialah tim pengolahan produk yang tugasnya mengolah dari bubuk ke produk makanan atau minuman.

“Jadi, semua dari hulu sampai hilir dijalankan oleh petani desa Nglanggeran sendiri,” kata Su geng Handoko, penggerak pemuda Desa Nglanggeran. Setelah kakao dipanen, proses selanjutnya digiling dengan mesin penggilingan manual seperti kopi. Setelah berubah seperti pasta, selanjutnya dilakukan pengepresan untuk memisahkan antara lemak cokelat yang berwarna putih kekuningan dan bubuk cokelat. Dari bubuk ini diolah menjadi beberapa varian.

Semua proses pengolahan dilakukan di Griya Cokelat. Namun, karena keterbatasan tempat, menurut Sugeng, untuk sementara waktu pihaknya bekerja sama dengan LIPI di Gunung Kidul untuk tempat pembubukan.

Warga berdaya
Gunung Kidul ialah penghasil kakao kedua di DIY setelah Kulon Progo. Dulu, sebelum masyarakat mengolah sendiri, mereka menjual kakao mentah dengan harga murah, Rp8.000-15 ribu per kilogram. Saking murahnya, tak sedikit warga yang beralih ke tanaman lain seperti rambutan.

Bagi mereka, harga segitu itu tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Kondisi berubah ketika Gunung Api Purba menjadi salah satu destinasi wisata. Banyak wisatawan yang berkunjung ke desa itu. Sugeng akhirnya tergerak untuk mengembangkan pertanian dan pengelolaan kakao.

Ia pun mendapat pendampingan dari Bank Indonesia. “Pada 2016, kami launching Griya Cokelat,” ujar Sugeng. Sementara itu, Surini mengaku merasakan perbedaannya ketika kakao dijual mentahan atau diolah sendiri menjadi beragam varian produk. Ia sendiri memiliki lahan seluas 1.500 meter persegi yang ditanami 60 pohon kakao.

Selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kakao kini juga menciptakan lapangan pekerjaan dan kemandirian ekonomi. Dia bersama perempuan petani kakao lainnya sekarang berupaya mengolah kakao secara lebih sistematis agar memberikan hasil maksimal.

Dengan kehadiran Griya Cokelat, Surini mengaku lebih semangat merawat kakao. Ibu-ibu petani juga terlibat langsung dalam pengolahan di Griya Cokelat. Adapun warga desa lainnya terlibat dalam pembuatan bungkus kemasan cokelat bubuk di rumah masing-masing.

Setiap bulan, Griya Cokelat mampu memproduksi 6.000 saset minuman cokelat untuk semua varian. Jumlah itu masih bisa bertambah ketika Gunung Api
Purba ramai pengunjung atau pada musim-musim liburan.

Untuk penganan ringan, Surini mengaku produksinya menyesuaikan dengan kondisi, seperti keripik pisang cokelat yang bisa mencapai 2 ribu pak per bulan. “Kami tidak berani menyediakan stok banyak karena masih home industry,” ujar Surini. Untuk harga, Surini membanderol rata-rata Rp25 ribu per pak pada setiap minuman.

Ia mengaku harga segitu masih tergolong mahal ketimbang minuman cokelat bubuk yang dijual dan diproduksi pabrik. Namun, dia menjamin, cokelat produk Nglanggeran asli dan enak rasanya. Sugeng dan Surini berharap, ke depannya Nglanggeran terus menjadi bagian destinasi wisata Gunung Api Purba sehingga ketika wisatawan datang ke Nglanggeran, mereka tidak hanya menikmati Gunung Api Purba, tetapi juga berinteraksi dengan petani dan ibu-ibu pengolah cokelat.

BERITA TERKAIT