Aki Lengser Perwakilan Raja yang Beralih Fungsi


Penulis: DESPIAN NURHIDAYAT - 11 November 2018, 03:40 WIB
MI/Ebet
MI/Ebet

SEORANG kakek berbadan bungkuk memakai pakaian serbahitam, sarung, dan juga ikat kepala khas Sunda berlenggak-lenggok dalam perayaan pernikahan adat maupun upacara adat perpisahan yang biasa diadakan di sekolah. Kakek ini bukan kakek betulan tentunya, biasanya orang yang memerankan kakek ini ialah seorang penari atau murid dari sekolah tertentu jika mengadakan upacara adat di sekolah.

Kakek ini biasa dinamai Ki Lengser atau Aki Lengser. Lengser dalam budaya sunda merupakan pesuruh dari kerajaan. Eman selaku guru sekolah dasar sekaligus pelaku seni dan juga masih aktif dalam mengurusi upacara adat menjelaskan kepada Media Indonesia di kediamannya Cigudeg, Bogor Barat, Rabu (7/11).

“Aki Lengser adalah perwujudan dan perwakilan dari Sang Prabu atau Raja yang turun menemui dan menyatu dengan rakyatnya. Kedudukan Ki Lengser sangat tinggi, berada di atas Patih dan di bawah Raja. Tugas Ki Lengser sebagai penasihat atau pendamping raja merupakan tugas yang sangat penting.

Tidak jarang Ki Lengser menyadarkan tindakan Raja,” ungkap pria berusia 54 tahun tersebut. Lebih lanjut, rupanya Ki Lengser pada zaman dahulu mempunyai peranan penting dalam kedudukan kerajaan Sunda. Dia banyak dikenal dalam naskahnaskah sastra klasik Sunda.

Keberadaan Ki Lengser yang unik merupakan posisi yang membingungkan jika berada dalam posisi pemerintahan saat ini. Posisi Ki Lengser dalam kerajaan memiliki perbandingan serupa dengan tokoh punakawan dalam dunia pewayangan. Ki Lengser memang memiliki pergeseran fungsi pada saat ini.

Ki Lengser pada zaman sekarang biasa dikenal sebagai tokoh utama dalam acara mapag panganten atau dikenal sambut pengantin. Meski telah beralih fungsi, masyarakat Sunda terbukti masih memegah teguh adat dan tradisi sehingga Ki Lengser saat ini menjadi salah satu kesenian Sunda yang masih lestari hingga saat ini.

Tradisi mapag panganten pun biasanya tidak semata-mata diadakan hanya pada pernikahan adat Sunda saja. Diketahui mapag panganten kerap ditampilkan pada acara perpisahan sekolah, penyambutan para pejabat dan tamu negara, dan masih banyak lainn yayang membuat Ki Lengser tetap eksis.

“Kehadiran dari Ki Lengser ini biasanya menjadi sosok perhatian bagi para tamu undangan. Pasalnya, ia merupakan orang yang mengarahkan jalannya upacara yang digelar. Selain itu, banyak tingkah lucu yang biasa dilakukan oleh Ki Lengser ini.

Ki Lengser juga biasanya di-dubbing oleh seseorang yang menggunakan pengeras suara di panggung. Jadi, di-dubbing gitu,” lantut Eman.

Pendamping
Ki Lengser di panggung biasa diperankan seorang pria, dan biasanya ada sosok yang menemani Ki Lengser, yaitu seorang wanita yang juga didandani sebagai orang tua. Nenek yang mendampingi Ki Lengser biasanya jarang ditemui di berbagai upacara adat karena Ki Lengser biasanya sendirian dalam memimpin acara Mapag Panganten.

Ki Lengser pun berperan sebagai sosok panutan masyarakat yang dituakan dan juga menjadi simbol penasihat dalam pernikahan. Pakaian lengkap Ki Lengser biasanya terdiri atas baju kampret,  celana pangsi dilengkap dengan sarung yang diikatkan di pinggangnya, dan mengenakan totopong (ikat kepala).

Ki Lengser biasanya digambarkan dengan gigi ompong dan gerakan tari yang lucu, yang menyebabkan kehadirannya mengundang gelak tawa dari para penonton. Meskipun kehadiran Ki Lengser ini tidak begitu lama karenan prosesi mapag panganten yang bisa dibilang cukup singkat, tapi kehadirannya merupakan yang paling ditunggu-tunggu para penonton.

Tingkahnya yang konyol serta nasihatnasihat darinya selalu menjadi hiburan bagi para penonton “Masyarakat Sunda, sangat menghormati dan menghargai tradisi dan adat istiadat. Ki Lengser yang sudah ada sejak zaman dahulu kala pun masih kita lestarikan bentuknya, ya  meskipun fungsinya menjadi berbeda.

Akan tetapi, pemeliharaan dan pelestarian nilai-nilai dari Ki Lengser masih dijunjung tinggi sampai saat ini,” tutup pria yang merupakan guru sekolah dasar tersebut. Berkembangnya zaman dan peradaban biasanya membuat tergerusnya sebuah tradisi, kesenian, dan nilai-nilai dari beberapa suku di Indonesia. Dengan semakin canggihnya peradaban, adat istiadat pun makin terlupakan.

Prosesi dalam pernikahan pun biasanya hanya dilakukan ala kadarnya atau bahkan mengaplikasikan gaya pernikahan kebarat-baratan. Jika hal ini terjadi, peran serta kebudayaan dan kesenian semacam Ki Lengser ini, perlahan pun bukannya tidak mungkin akan menghilang. Saat ini peran masyarakat merupakan hal terpenting untuk menjaga kelestarian seni dan budaya tetap utuh di Indonesia. (Des/M-4)

BERITA TERKAIT