Menjaga Karya Agung Wayang


Penulis: FERDINAND - 11 November 2018, 03:20 WIB
MI/FERDINAND
MI/FERDINAND

SUARA gamelan yang memainkan gending wayang terdengar di seantero Pendopo Ageng GPH, Joyokusumo, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (6/11).

Irama merdu itu berasal dari sisi utara pendopo, tempat terpasang sebuah kelir berukuran besar. Di sisi kiri dan kanan depan layar berwarna putih itu terdapat debog atau batang pisang dimana puluhan wayang ditancapkan berjejer.

Sekitar 2 meter di depan kelir, terdapat seperangkat gamelan lengkap dengan para penabuh­nya dan sinden. Merekalah yang mengalunkan gending yang bertalu-talu.

Puluhan orang berbusana kain mori putih yang duduk di kursi di dalam pendopo bangkit dari duduknya. Mereka kemudian berbaris di belakang tiga pria berpakaian adat Jawa.

Salah seorang pria berpakaian adat mengambil bejana berisi dupa yang menyala dari salah satu sudut, menebar bau harum yang khas. Dia mengambil posisi paling depan dan memimpin barisan itu berkeliling bangunan pendopo.

Orang-orang berbusana kain mori itu merupakan peserta ruwatan sukerta. Ritual kuno pembersihan diri yang sudah dikenal masyarakat Jawa sebelum masuknya agama-agama samawi di Indonesia.

Ruwatan
Prosesi ruwatan diawali pergelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala oleh Ki Manteb ­Soedharsono. Lakon tersebut menceritakan Batara Kala yang mencari mangsa, yaitu para manusia yang tergolong sukerta. Usaha Batara Kala itu dapat digagalkan Batara Wisnu yang menyamar sebagai Ki Dalang Kandabuwana.

Penampilan Ki Manteb petang itu mengawali hajatan besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, berupa pergelaran wayang 36 jam. Kegiatan dalam rangka memeringati Hari Wayang Dunia 2018 itu melibatkan 37 dalang, mulai dalang cilik, dalang remaja, hingga dalang profesional.

Selama empat hari, 6-9 November mereka akan memuaskan dahaga pencinta wayang dengan sajian beragam. Ada wayang beber Pacitan, wayang Banjar, wayang Jawa Timuran, wayang golek, wayang kancil, wayang perjuangan, dan tentu saja wayang kulit purwa.

Tahun keempat
Peringatan Hari Wayang ­Dunia oleh ISI Surakarta ini telah memasuki tahun keempat. Tujuan­nya untuk memajukan kebudayaan, khususnya wayang yang merupakan investasi untuk membangun peradaban bangsa.

Menurut Rektor Institur Seni Indonesia, Surakarta, Guntur, posisi wayang dalam konstelasi peradaban bangsa sangat menonjol karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu memberikan keteladanan bagi kehidupan manusia. Di sini pentingnya wayang sebagai jiwa, cermin kehidupan, dan perekat kebinekaan, serta pilar peradaban bangsa. Selain itu, wayang menjadi ikon dan salah satu identitas bangsa yang sangat diperlukan untuk mewujudkan kebudayaan nasional Indonesia.

Kekuatan wayang yang demikian telah dijadikan salah satu karya agung budaya dunia oleh UNESCO. Untuk menjaga eksistensi wayang sebagai seni adiluhung bangsa Indonesia, perlu dilakukan inovasi secara berkesinambungan. “Hari Wayang Dunia ini merupakan bentuk partisipasi dan respon positif atas upaya negara dalam pemajuan kebudayaan Indonesia,” katanya.

Penampilan Ki Manteb petang itu menjadi magnet tersendiri pada Hari Wayang Dunia ke-4. Meski singkat, tetapi terbukti mampu menyedot perhatian pencinta wayang.

“Ini membuktikan bahwa wayang masih sangat dicintai masyarakat,” kata Dosen jurusan pedalangan, fakultas seni pertunjukkan ISI Surakarta, Suyanto yang menemani Media Indonesia petang itu.

Cinta terhadap wayang dan ilmu pedalangan juga bersemi di kalangan generasi muda. Biasanya, kata Suyanto, jurusan seni pedalangan paling banyak menerima 25-30 mahasiswa. (M-4)

 

BERITA TERKAIT