Terikat Rambut Purbalingga


Penulis:  (M-4) - 11 November 2018, 02:40 WIB
MI/FATHURROZAK
MI/FATHURROZAK

EMPAT perempuan terduduk, sedangkan rambut panjangnya menjuntai. Bergerak yang seolah turut mengarahkan gerak mereka. Bahkan, ketika mereka sudah berdiri dan berlarian, rambut itu seperti mengikat ke mana pun mereka bergerak.

Tarian berjudul Dharma karya koreografer Rayi Utaminingrum ini memberi gambaran kehidupan sosial masyarakat, kaum perempuan yang hidupnya bergantung pada rambut. Wajar saja, bila menilik Tami, sapaannya, yang tumbuh dan besar di Purbalingga, Jawa Tengah.
Tami menyajikan gerak-gerak tubuh yang tidak asing dalam khazanah tari Jawa ketika si penari laki-laki membuka lebar kaki, atau pergerakan tangan.

Di sisi lain, bagian dada menjadi daya tarik tarian, saat penekanan gerakan bertumpu pada tubuh bagian ini. Tami tidak sekadar menyuguhkan gerakan, ia membawa gagasan yang bersumber pada kehidupan sosial tanah kelahirannya.

“Menginterpretasi lewat rambut sepanjang tiga meter seperti melihat pekerjaan mereka. Mereka bekerja sebagai buruh di pabrik pemroduksi rambut hiasan, yang waktunya mengikat berangkat pukul 7 pagi pulang pukul 6 sore. Ini juga melahirkan fenomena pamong praja (papa momong ibu bekerja). Kita bisa jumpai kalau datang langsung ke Purbalingga,” ceritanya seusai menjadi penampil dalam Indonesia Dance Festival (IDF) di Goethe Institute, Kamis (1/11).

Saat para penari itu bergerak menyilang di atas panggung, seolah menggambarkan usaha tetap melanjutkan hidup dari para kaum perempuan, dengan rambut yang mengikat mereka. Perempuan memang mendominasi dalam industri ini sebab muncul anggapan perempuan lebih telaten jika dibandingkan dengan laki-laki.

Di balik kemeriahan rambut Purbalingga yang mendunia, ada kisah kebersahajaan kaum perempuan yang menjadi laku darma.

Kelindan kebahagiaan
Selain unsur sosial, Tami juga menggabungkan gerakannya dengan tarian Dames asal kabupatennya itu. Dames (dada lemes), menyimbolkan semangat hentakan perempuan juga setara dengan laki-laki yang dikenal masyarakat kita tegas.

“Sebelum diciptakan koreo­grafinya, aku lakukan observasi di suatu daerah, ada tarian Dames (dada lemes). Aku mencoba ­eksplorasi gerakan dengan hentakan bagian tubuh atas, aku ambil ini karena filosofi Dames hanya perempuan yang boleh tarikan itu, ada nilai spirit kekuat­an perempuan. Selain dikenal lincah dan gemulai, perempuan toh juga bisa setegas laki-laki. Mereka menari menghentakkan,” kata perempuan lulusan Institut Kesenian Jakarta itu.

Pada komposisi akhir, Tami tidak menutup dengan pemilahan hitam-putih fenomena sosial yang muncul di Purbalingga, tetapi ia sekadar ingin menyuguhkan suatu fenomena dan kekayaan yang ada di daerahnya.” (M-4)

BERITA TERKAIT