Sang Sontoloyo


Penulis: Ono Sarwono - 11 November 2018, 01:20 WIB
Dok MI
Dok MI

ADA pembaca rubrik ini bertanya, adakah tokoh (politikus) sontoloyo dalam dunia wayang. Barangkali, ini terlintas dalam benaknya setelah ada pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa di negeri ini selain ada politikus baik, ada juga politikus sontoloyo.

Sebelumnya, perlu diperjelas dulu apa itu sontoloyo. Dalam masyarakat Jawa, sontoloyo biasa digunakan untuk memaki. Masih ada kata lain yang semacam, misalnya, jiancuk, mbelgedhes, bajiret, semprul, kampret, dan lain-lain. Meski kata-kata tersebut insinuatif dan banyak dimensinya, semuanya bermakna asor (tidak baik).

Artinya, mereka yang menjadi objek makian itu tidak bermutu atau berderajat rendah. Dalam hal ini, karena kultur Jawa itu sangat kental unggah-ungguh (tata krama), mereka itu ialah yang sepak terjang atau perilakunya mengabaikan norma dan etika. Dengan kata lain, sak enake udele dhewe (suka-suka), yang penting keinginannya tercapai.  

Bukan pribumi Astina
Berdasar pengertian itu, dalam dunia pakeliran ada sejumlah tokoh yang pantas disematkan berpredikat sontoloyo. Salah satunya ialah Harya Suman, yang sangat kondang dengan nama Sengkuni. Ia memang memiliki berbagai syarat sebagai politikus hebat. Selain pandai, kreatif, dan cerdas, bahkan sangat cerdas, ia berkarakter dan berwawasan luas.    

Harus diakui, Bharatayuda merupakan hasil karyanya. Ia adalah king maker terjadinya peperangan antara Pandawa dan Kurawa yang sama-sama trah Raja Astina Prabu Kresnadwipayana. Dalam pertempuran di Kurusetra yang berlangsung selama 18 hari itu, Kurawa ludes.

Sesungguhnya, Sengkuni bukan warga asli Astina. Ia putra Prabu Suwala, raja Negara Plasajenar. Ia mendapat KTP negara Astina karena mengabdi kepada Pandu yang memenangi sayembara Kunti. Sebelumnya, Sengkuni yang juga mengikuti sayembara itu, kalah melawan Pandu dalam memperebutkan putri kedaton Negara Mandura tersebut.

Seiring dengan itu, kakak Sengkuni, Gendari, dipersunting Drestarastra yang adalah kakak Pandu. Semula, Gendari berharap dipilih menjadi istri Pandu yang menggantikan bapaknya (Kresnadwipayana) menjadi raja di Astina. Karenanya, ia sangat kecewa dan dendam kepada Pandu.     

Bibit kesontoloyoan Sengkuni bersemai setelah Kresnadwipayana lengser keprabon (turun dari singgasana raja). Sesuai dengan paugeran (aturan negara), Drestarastra yang seharusnya menggantikan ayahnya sebagai raja. Namun, dengan kesadaran penuh, ia menolak karena merasa tidak mampu melaksanakan tugas negara akibat matanya buta. Ia meminta Pandu meneruskan estafet kepemimpinan.

Berulang kali Kresnadwipayana menanyakan keikhlasan putra sulungnya itu. Pun tentang kemungkinan anak-anaknya kelak menuntut hak. Drestarastra menegaskan bahwa dirinya benar-benar legawa dan menjamin keturunannya nanti tidak akan berulah.   
Proses peralihan kekuasaan dari Kresnadwipayana ke Pandu berjalan mulus. Rakyat, sentana dalem (kerabat raja) dan nayaka praja menyambut dengan sukacita. Mereka optimistis di bawah kepemimpinan Pandu yang bergelar Prabu Pandudewanata, Astina akan semakin jaya.

Banyak raja negara sahabat ikut mangayubagya (menyambut dengan senang hati) penobatan Pandu sebagai penguasa baru Astina. Mereka mengukuhkan untuk meningkatkan kerja sama dan hubungan antarnegara dengan prinsip-prinsip saling menghormati dan menguntungkan.     

Tanamkan fitnah
Sengkuni yang menjadi bagian elite Astina, memainkan aksinya bak oposisi Pandu. Ia merancang, bergerak, dan melangkah dengan berbagai cara untuk merebut kekuasaan demi keponakannya, Kurawa. Untuk mencapai tujuan itu, Sengkuni mengabaikan norma, etika, dan tatanan.  

Politik Sengkuni ini dilatarbelakangi tangisan Gendari yang ingin anaknya menjadi raja. Alasannya, ketika Drestarastra menolak duduk di singgasana raja, semestinya hak itu diberikan kepada keturunannya, bukan kepada Pandu. Dari pernikahan Drestarastra-Gendari, lahir seratus anak yang disebut keluarga Kurawa.

Langkah awal Sengkuni yang paling gila adalah mengadu domba Pandu dengan koleganya, Raja Pringgondani Prabu Tremboko, dengan ujaran kebencian dan fitnah. Padahal, bangunan silaturahim antarkedua raja itu sangat erat. Tetapi, dengan kelihaian Sengkuni, keduanya terjebak saling membenci hingga akhirnya baku bunuh dan sama-sama gugur.

Pascameninggalnya Pandu, berdasarkan konstitusi, takhta Astina harus menurun ke anaknya (Pandawa). Namun, karena putra Pandu-Kunti/Madrim (Puntadewa, Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten) belum dewasa, untuk sementara kendali pemerintahan negara dipegang Drestarastra.

Momen inilah yang kemudian digoreng Sengkuni. Siang malam ia meracuni Kurawa agar membenci Pandawa. Ia tanamkan fitnah bahwa bila Pandawa berkuasa, Kurawa bakal sengsara. Maka dari itu, sebelum itu terjadi, Kurawa harus mendahului, Pandawa mesti dihabisi sedini mungkin.

Ketika Drestarastra bersiap mengembalikan kekuasaan Astina kepada anak Pandu yang sudah beranjak dewasa, Sengkuni merancang skenario keji. Malam hari sebelum upacara penyerahan, Pandawa yang diinapkan di balai dibakar durjana suruhan Sengkuni. Targetnya, Pandawa dan ibunya, Kunti, lebur jadi abu. Tapi upaya pembinasaan itu gagal total.

Upaya lain menistakan Pandawa dengan ajakan main dadu yang penuh tipu muslihat. Dari permainan itu, Sengkuni berhasil melucuti kekayaan Pandawa hingga istana Indraprastha pun lepas. Istri Puntadewa, Dewi Drupadi, pun dijadikan objek pelecehan seksual.
Bukan itu saja, sebagai konsekuensi atas kekalahan mereka, Pandawa harus menjalani hukuman pembuangan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun. Bila itu selesai, Pandawa masih harus melakoni hukuman penyamaran selama 1 tahun. Bila gagal, Pandawa mesti menjalani hukuman dari awal.

Sengkuni memang berhasil mengantarkan Duryudana (Kurawa) menjadi raja di Astina. Sengkuni pun sukses duduk di kursi patih. Namun, kekuasaan mereka bak seumur jagung. Di Kurusetra, Kurawa musnah dalam perang Bharatayuda. Di sini pula pengembaraan Sengkuni di dunia tamat.

Predikat negarawan
Benang merah kisah ini adalah bahwa Sengkuni merupakan lambang politikus bermahzab Machiavelis. Ia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Kekuasaan ialah segala-galanya sehingga harus direbut dengan cara apapun, meski itu merusak persatuan bangsa.

Ia mengobrak-abrik Astina dari dalam. Pandawa dan Kurawa, yang adalah  para generasi penerus Astina, ia benturkan. Padahal, semula kedua saudara sepupu itu hidup rukun dan saling mengasihi.  
Dalam konteks kebangsaan, menjadi politikus sejatinya pengabdian kepada bangsa dan negara. Muruahnya mereka ialah para insan yang rela berkorban demi keluhuran dan kemuliaan Tanah Airnya. Karena itulah, mereka mendapatkan predikat negarawan. Bukan sontoloyo! (M-2)

BERITA TERKAIT