Ketika Kucingmu Pergi Sebentar


Penulis: Alpha Hambally - 11 November 2018, 00:40 WIB
MI/Caksono
MI/Caksono

Rusli tetap berkilah tidak tahu ketika untuk ketiga kalinya pada hari itu Matondang mendatangi tokonya dan bertanya di mana kucing kesayangan Matondang yang bernama Roro Kendul. Tidak seperti dua kedatangan sebelumnya, bibir tebal yang menghiasi wajah Matondang kini hanya berjarak hitungan senti saja dari wajah Rusli yang ketakutan. Matondang mengancam apabila kucingnya tidak kembali pada hari itu juga, hal buruk akan menimpa Rusli dan seluruh barang dagangannya.

Rusli sama sekali tidak tahu keberadaan kucing bernama Roro Kendul itu. Terakhir kali, Rusli melihat Roro Kendul tertidur di depan toko mereka pagi tadi sebelum para pedagang lain mulai berdatangan dan membuka toko masing-masing. Suara gaduh di Pasar Raya yang semakin riuh membuat Roro Kendul terbangun lalu berjalan sempoyongan menuruni anak tangga seperti seseorang yang telah menghabiskan tiga botol tuak. Setelah itu, Roro Kendul tidak menampakkan ujung ekornya lagi di depan toko mereka.

Rusli sebenarnya sudah menceritakan apa yang dilihatnya, ketika tidak lama setelah Roro Kendul pergi, Matondang muncul dari balik tangga sambil bersiul-siul. Siul itu berhenti ketika Matondang mendapati kucingnya tidak ada. Mendengar apa yang dikatakan Rusli, Matondang hanya menaikkan bahunya sebagai tanda keheranan karena menurutnya, Roro Kendul mungkin hanya sedang buang air entah di mana.

Sekian jam berlalu, Roro Kendul tidak kembali. Matondang mulai gelisah dan mondar-mandir di sekitar tokonya. Matondang bersandar di pembatas teras depan tokonya sambil mengamati keadaan pasar di bawah lantai tokonya berada. Tidak ada satu ekor kucing pun tampak di antara toko-toko yang menjual obat-obatan alami, perlengkapan ibadah, peralatan rumah tangga, pakaian, sepatu, camilan dan barang dagangan lainnya itu. Bahkan, tidak juga hingga satu lantai di bawahnya lagi yang menjual barang serupa, hingga lantai dasar yang dipenuhi penjual emas, jam tangan, dan kaset bajakan.

Akhirnya, bertanyalah Matondang kepada Rusli untuk kedua kalinya, meskipun Matondang tahu akan mendapat jawaban serupa yang pertama kali.

Dalam kegelisahan, Matondang mulai menaruh curiga. Mungkin Rusli menyimpan ketertarikan kepada Roro Kendul, kucing betina berbulu putih dan sedikit bulu keemasan yang halus di kakinya. Selain itu, sepasang mata Roro Kendul yang biru keunguan benderang dapat menarik minat orang yang melihat sehingga Matondang beranggapan Roro Kendul ialah kucing pembawa berkah karena dapat mendatangkan pembeli ke dalam tokonya. Roro Kendul juga rajin menghalau tikus-tikus yang setiap malam turun dari atas plafon, mengigiti pakaian-pakaian jualan Matondang.

“Tapi, mana mungkin Rusli melakukannya?” ujar Matondang dalam hati, ragu.
Matondang tidak bisa menunggu lagi. Ia mulai mencari Roro Kendul di sekitar Pasar Raya, menelusuri blok-blok pasar yang tidak bisa dilihatnya dari teras tokonya. Hari itu Pasar Raya sedang ramai, sehingga Matondang terpaksa berdempetan ketika berjalan di lorong-lorong pasar yang hanya bisa dilewati oleh tiga orang. Di sela-sela pembeli yang datang ke setiap toko, di antara tawar menawar harga, Matondang melayangkan pandangan tajam seperti harimau yang mengintai mangsa.

Di toko-toko pakaian, Matondang menyingkap semua pakaian yang tergantung dan memasukkan kepala untuk mengintip adakah Roro Kendul bersembunyi di sana. Di kedai-kedai, Matondang masuk ke kolong meja dan keluar lagi di ujung kolong meja yang lain. Segala tempat yang memungkinkan untuk seekor kucing telah ditelusuri oleh Matondang, bahkan tempat-tempat sampah yang baunya menyengat sekalipun.

Setelah sekian lama mencari dan tidak menemukan apa pun, kepercayaan Matondang pada cerita Rusli mulai lenyap. Matondang semakin beranggapan Rusli iri karena keberadaan kucing itu membuat toko Matondang kian ramai dari hari ke hari.
Dari lantai dasar, Matondang menengadah tepat ke arah tokonya. Dengan cepat dan marah Matondang menaiki tangga, ingin segera melampiaskan kekesalannya kepada Rusli. Sungguh sulit memang apabila pikiran sudah tercemar prasangka yang buruk.

Toko Rusli dan Matondang bersebelahan tepat di tengah lantai empat Pasar Raya, di depan tangga yang membuat toko mereka menjadi toko pertama yang bisa dilihat pengunjung setiba di lantai itu. Rusli datang dari negeri di barat, sedangkan Matondang datang dari negeri di utara. Keduanya ialah penjual pakaian yang mendapatkan barang dagangan dari orang yang sama di pelabuhan Bandar Besar di daerah timur.

Karena punya banyak kesamaan, mereka sangat akrab sampai terlihat seperti abang dan adik. Tapi, semua itu mulai berubah ketika beberapa bulan yang lalu muncul kucing betina mungil di depan toko Rusli. Rusli yang mulanya tidak tertarik, mengusir pergi kucing itu. Namun, Matondang malah memungut dan memeliharanya.

Rusli tetap berkilah tidak tahu ketika untuk ketiga kalinya pada hari itu Matondang mendatangi tokonya. Jemari Matondang yang penuh urat  mencengkeram kerah kemeja Rusli. “Kau bohong, Rusli!” hardik Matondang sambil mengangkat tubuh Rusli sampai kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Ketika Matondang tidak kuat lagi menahan berat tubuh Rusli, Matondang membanting Rusli ke rak penuh pakaian di dalam tokonya.

Rusli tidak terima. Ia bangkit sambil mengepalkan tangan, meloncat serta mengayunkannya ke wajah Matondang yang beberapa senti lebih tinggi darinya. Pukulan Rusli yang tepat mengenai rahang semakin membuat Matondang beringas. Matondang melayangkan pukulan ke segala arah. Tapi, Rusli lebih lincah. Tubuh kecilnya seperti pedang yang diayunkan dengan lihai.

Mereka bertengkar seperti sepasang kucing jantan yang berebut wilayah kekuasaan. Mereka baru berhenti ketika pedagang-pedagang lain beserta petugas keamanan membawa mereka ke kantor polisi.
***
Sapuan kemerahan mulai lenyap di balik cakrawala yang tampak dari lantai paling atas Pasar Raya. Keramaian di Pasar Raya telah berakhir. Semua toko telah tutup. Namun, lampu sepasang toko di lantai empat masih menyala. Tidak ada seorang pun yang terpikir mematikan sakelarnya.

Meskipun sudah tutup, listrik memang tetap mengalir ke Pasar Raya. Elekton-elektron terus bergetar di sepanjang kabel instalasi. Dari plafon ke plafon, beton ke beton, yang menuju lubang masing-masing di setiap toko. Kemudian menyisakan sunyi kecuali suara tikus-tikus penggigit kabel yang hidup di plafon.

Lapisan kabel terakhir telah tergigit dan itu bukan sesuatu yang baik bagi siapa pun, bahkan bagi jutaan butir elektron yang keluar dari jalurnya. Tapi, bagaimanapun, listrik tetap mengalir seperti biasanya, ada atau tanpa penampangnya.

Benturan selalu terjadi, bahkan di tempat yang paling kecil dan tak terduga. Mulanya percik kecil api yang kemudian membesar menelan plafon dan bagian bangunan yang terbuat dari kayu. Api pun kian liar membakar hingga keluasan malam di atas Pasar Raya, di sebuah kota tanpa nama.

Keesokannya, di antara bau hangus, abu dan puing kayu yang memenuhi setiap blok, toko dan tangga, Roro Kendul melenggang sendirian. Tanpa menoleh keadaan sekitar, Roro Kendul berjalan lega selayaknya orang yang keluar dari kamar mandi setelah buang air besar. Roro Kendul menaiki anak tangga perlahan-lahan hingga ke lantai keempat. Ia berhenti di depan salah satu toko dan merebahkan badannya.

Di balik puing-puing bangunan, seekor tikus sepenuh dendam menatap Roro Kendul. Namun, Roro Kendul tidak tahu. Ia segera tertidur pulas, bermimpi bersenggama dengan kucing jantan yang kemarin ditemuinya. (M-2)

 

BERITA TERKAIT