Indonesia Harus Tunjukkan Kepemimpinan


Penulis: Fathia Nurul Haq - 11 November 2018, 00:00 WIB
ANTARA FOTO/Angga Pratama
ANTARA FOTO/Angga Pratama

TAHUN ini Indonesia banyak menjadi tuan rumah berbagai perhelatan akbar dunia, seperti Asian Games, Asian Para Games, IMF-World Bank Annual Meeting 2018, Konferensi Kelautan (OOC) 2018, dan Intergovernmental Meeting (IGR-4).
Mantan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang kini menjadi penasihat Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk perundingan menyampaikan pandangannya dalam wawancara khusus dengan Media Indonesia di Ubud, Bali, beberapa saat lalu.

Tahun ini Indonesia banyak menjadi tuan rumah perhelatan internasional, bagaimana Bapak memandang keberhasilan Indonesia dalam penyelenggaraan beberapa event itu kemarin?
Saya kira perlu dibedakan antara kemampuan untuk menyelenggarakan suatu kegiatan, convening power, kemampuan untuk menyelenggarakan, dan kemampuan untuk memengaruhi substansinya. Tujuan kita seyogianya tidak hanya penyelenggaraannya saja. Tapi melalui penyelenggaraan itu memengaruhi pembahasan selanjutnya.

Bisa dielaborasikan bagaimana yang dimaksud keberhasilan memengaruhi substansi itu Pak?
Kalau dilihat, saya mengambil contoh ASEAN, hasil KTT di Bali 1976, kemudian 2003, 2011, keketuaan Indonesia sebagai chair of Asian itu meng-inject, menciptakan pengaruh, membawa insiatif yang melebihi dari masa penyelenggaraan sidang itu. Memengaruhi itu 10, 20, dan 30 tahun. Jadi ada blueprint yang kita sodorkan yang menjadi tolok ukur, pegangan kerja sama ke depan.

Jadi, bagaimana Bapak memaknai keberhasilan suatu negara, khususnya Indonesia saat menjadi tuan rumah perhelatan?
Saya, kita kalau kita mengerucut pada kegiatan-kegiatan ini seyogianya tidak hanya mengukur keberhasilan kegiatan itu dari penyelenggaraan kegiatannya, tapi apa itu thought leadership, kepemimpinan pemikiran. Ini yang akan sifatnya lebih langgeng.

Jadi berhasil enggak Pak dalam hal memengaruhi substansi tadi?
Saya kira bisa dilihat sama masing-masing.

Pertemuan internasional berikutnya yang akan dilangsungkan di Indonesia adalah OOC, substansi apa yang harus diperhatikan di sana?
Saya kira Indonesia perlu menunjukkan kepemimpinan dalam arti, beyond sebagai penyelenggara untuk memengaruhi diskursus mengenai masalah kelautan ke depan. Saya memeliki keyakinan penuh bahwa kepemimpinan Presiden Jokowi, di bawah kepemimpinan Ibu Susi, Indonesia akan berhasil untuk mencapai apa yang diharapkan.

Apa yang Bapak harapkan dari konferensi itu?
Saya hanya menyampaikan satu hal saja bahwa wawasan Indonesia, kita menggunakan istilah wawasan Nusantara, wawasan kita yang peduli terhadap masalah maritim, masalah kelautan itu sudah sepanjang sejarah bangsa kita. Saya mengambil contoh deklarasi Juanda 1957 konsep wawasan Nusantara yang melihat laut-laut yang mengelilingi pulau-pulau kita bukan sebagai laut internasional, melainkan sebagai laut archipelagic seas itu kita perjuangkan melalui diplomasi sehingga diterima oleh United Nation Conference of the Law of the Sea. Jadi maksudnya, tentu the work never finished, never done. Never completed. Tidak ada satu era di mana semua masalah selesai, tapi kita harus memiliki konteks bahwa bukan berarti selama ini masalahnya diabaikan.

Mengapa Bapak yakin bahwa pendekatan diplomasi ini yang paling penting dalam menyelesaikan masalah kemari­timan?
Karena sejarah membuktikan, saya tahu bahwa diplomasi multilateral, mengenai masalah hukum internasional, tokoh-tokoh seperti Bapak Ali Alatas, Bapak Muchtar Kusumaatmadja, Bapak Hasyim Djalal, beliau-beliau ini tokoh di bidang kelautan memperjuangkan wawasan Nusantara, wawasan kelautan kita, wawasan maritim kita di forum-forum internasional terus-menerus. Ini proses yang tidak akan berakhir, akan terus-menerus dilakukan untuk mengamankan perbatasan kita melalui perundingan dengan negara seperti Filipina kemarin, ZEE-nya. Kan berlangsung hampir 20 sekian tahun, jadi lintas pemerintahan dari pemerintahan ini. Jadi dalam masalah-masalah yang sifatnya strategis dan memang jangka panjang kayak begini wawasan kita harus utuh.

Apa yang harus diperbaiki dari upaya terus-menerus itu?
Tentu selalu ada ruang untuk bisa lebih baik. Itu fakta kehidupan. Namun, dalam melihat kekhasan dan kekhu­sus­an situasi saat ini kita juga jangan melupakan bahwa bukan berarti saat ini kita tidak, masalah ini sudah ditekuni.

Bapak baru saja mengeluarkan buku bertajuk Does Asean Matter? Apakah Bapak bersedia memberi kisi-kisi apa saja yang dibahas di sana?
Jadi bukunya tentang ASEAN khususnya menanyakan seberapa jauh ASEAN membawa makna. Itu yang menjadi inti dari bukunya. Jadi sifatnya bukan hanya melihat ke masa lalu, melainkan terutama mengidentifikasi ke depan.
Menarik sekali, Pak, mengingat Bapak merupakan bagian dari masa tersebut?
Saya tidak mau terlalu menoleh ke belakang. Karena saya kira, saya sendiri terlalu erat keterkaitannya dengan masalah ASEAN di masa lalu saya kira bukan pada diri saya untuk memberikan penilai­an di masa lalu. Tetapi untuk mencoba mengidentifikasi ke depannya tentu kita harus mengetahui apa yang telah dicapai selama ini oleh ASEAN.

Apa saja itu?
Saya gambarkan dalam buku itu adalah ASEAN telah memberikan kontribusi terhadap tiga bidang, pertama hubungan kepada sesama negara Asia Tenggara yang tadinya ditandai oleh konflik, sekarang ditandai oleh hubungan yang lebih positif, yang lebih bersahabat. Kedua adalah posisi negara ASEAN di kawasan lebih luas yang tadinya hanya sebagai objek dari persaingan negara-negara maju sekarang ASEAN sudah menjadi, memiliki peranan sentral dalam kawasan yang lebih luas.
Terakhir adalah ASEAN yang represented, yang lebih membawa manfaat yang nyata pada perekonomian negara kawasan yang tadinya ditandai oleh ekonomi yang sulit sekarang negara ASEAN lebih maju, lebih sulit. Tapi kemudian mempertanyakan seberapa jauh yang sudah diraih itu bisa terus dilanjutkan.

Indonesia sendiri seberapa siginifikannya di ASEAN?
Indonesia sangat signifikan karena pada sejarahnya perkembangan ASEAN tidak bisa dipisahkan dari kepemimpinan Indonesia. Apakah dari pembentukan ASEAN 1967. Kemudian, kalau ditelusuri semua sejarah ASEAN, saat saat penting dalam perkembangan ASEAN misalnya ketika ASEAN menandatangani yang namanya TAC, Treaty of Amity and Cooperation untuk mengesam­pingkan penggunaan kekerasan, kekuatan dalam menyelesaikan konflik sesama negara anggota, kemudian keputusan untuk memperluas keanggotaan ASEAN mulai dari 6 jadi 10, kemudian keputusan untuk menciptakan ASEAN community, semua itu berkat kepemimpinan Indonesia. Jadi tanpa inisiatif dan kepemimpinan Indonesia saya yakin hal-hal seperti itu tidak akan dapat dicapai. Jadi kepemimpinan Indonesia sangat penting dan sangat diperlukan saat ini terutama karena saat ini kan dunia ditandai dengan banyak ketidakpastian, tanda-tanda meningkatnya konflik, diplomasi yang dikesampingkan sebagai cara pemilihan konflik. (M-4)

 

 

BERITA TERKAIT