Diplomat Necis, Penggemar Bola yang Candu Kata


Penulis: Fat/M-4) - 11 November 2018, 00:20 WIB
MI/MOHAMAD IRFAN
MI/MOHAMAD IRFAN

SIANG itu di Neka Museum, Ubud, Bali, jurnalis Media Indonesia, Fathia Nurul Haq telah mengatur jadwal bertemu dengan diplomat kenamaan Raden Mohammad Marty Natalegawa.

Dia adalah Menteri Luar Negeri Indonesia era 2009-2014 yang cakap berdiplomasi, senantiasa rapih dan hampir tidak pernah kehilangan kontrol atas pernyataan-pernyataannya.

Marty menjadi salah satu pembicara VIP dalam acara tahunan Ubud Writers and Readers Festival. Jadwal wawancara dengannya sudah penuh sejak hari pertama.

Bagaimana tidak, keapikkannya berdiplomasi itu sudah mendunia. Apalagi, tahun ini memang istimewa, ia hadir dalam perhelatan akbar penulis dan pembaca yang mendunia itu untuk pertama kalinya sejak UWRF 15 kali diadakan. Sebabnya ialah, ia baru saja meluncurkan buku bertemakan ASEAN, Juli lalu. Does ASEAN Matter: A View from Within, demikian tajuk buku tersebut.

Pria paruh baya yang sudah akrab dengan diaspora sejak usia 9 tahun itu, ia hanya bergurau bahwa selepasnya menaruh jabatan sebagai menteri luar negeri, ia pantang ditemui akhir minggu sebab ia mau fokus menonton bola. Rupanya, saat sedang tidak berdiplomasi dan tidak menonton bola, Marty juga pecandu kata-kata dan ide dalam bahasa.

“Kata berhubungan dengan banyak elemen. Kata juga bisa merefleksikan keadaan suatu bangsa dan efektif ke dunia luas. Kata juga bisa membangun komunikasi antarnegara,” tutur Marty saat membuka UWRF, Bali, beberapa saat lalu.
Marty adalah penggemar kata yang juga diplomat. Ia hafal di luar kepala sejumlah perjanjian luar negeri berikut tanggal dan isinya untuk setiap bidang. Ia tak pandang bulu. Namun, pria berusia 55 tahun itu paling terkesan dan penempatan ASEAN dalam menjaga perdamaian dunia, juga fakta bahwa Indonesia amat berperan dalam mendirikan dan memotori pergerakan ASEAN.

“Kini, ASEAN telah memiliki banyak kesepakatan, misalkan, di bidang ekonomi (perdagangan dan investasi), hak asasi manusia dan yang menjadi modal utama Indonesia dan ASEAN tumbuh, dan berkontribusi kepada dunia,” ucapnya dalam kesempatan berbeda, yakni sebuah panel yang mengupas tuntas buku yang ia tulis bertema Does ASEAN Matter, masih dalam kesempatan yang sama.

Diskusi itu dipandu moderator Michael Vatikiotis, jur­na­lis senior mantan editor Far Eastern Economic Review.

Dia menekankan bahwa bukunya berisikan satu hal, yakni pandangan pribadinya tentang ASEAN. Lewat pandangannya itu, bercerita tentang peran Indonesia di ASEAN sehingga kawasan ini terus stabil dan menjadi salah satu kawasan pertumbuhan ekonomi regional dan internasional yang makin kuat. “ASEAN kini menjadi kawasan yang stabil dan dinamis, telah menjadi One Vision, One Identity, dan One Community telah mendorong kelancaran perdagangan, arus barang dan manusia di kawasan ini,” tambah Marty.
Sidney Jones, pakar dan peneliti terorisme di Asia Tenggara, terang-terangan memuji dan berterima kasih kepada Marty Natalegawa yang berhasil menyelesaikan konflik antara Thailand dan Kamboja.

Mantan Menlu itu juga bercerita bagaimana peran Indonesia dapat mencegah dan mengurangi ketegangan antara anggota ASEAN, yakni Filipina, Vietnam dengan Tiongkok, negara yang makin kuat secara ekonomi, politik, dan militer di dunia, menyaingi Amerika di perairan Laut China Selatan.

“Ketika suasana tegang dan panas di antara negara bersengketa, Indonesia menggunakan diplomasi dan komunikasi informal. Membangun komunikasi informal hingga pihak-pihak yang bersengketa merasa nyaman dan mau membicarakan, menyelesaikan konfliknya dalam meja perundingan untuk mendapatkan solusi dan jalan keluar,” ungkap dia.

Satu hal yang menjadi signature Marty saat berdiplomasi, ia akan mengupayakan munculnya kepemimpinan. Namun juga, ia membagikan fakta unik di balik strateginya berdiplomasi, “kadang kata-kata yang spontan kadang lebih bermakna dan bisa membuat ruangan hening.” (Fat/M-4)

BERITA TERKAIT