Moda Transportasi masih Berjalan Sendiri-sendiri


Penulis: Ferdian Ananda Majni - 10 November 2018, 16:15 WIB
ANTARA/Galih Pradipta
ANTARA/Galih Pradipta

GUBERNUR DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan problem utama integrasikan moda transportasi belum berhasil hingga saat ini karena masing-masing pihak memikirkan dirinya sendiri.

"Mau contoh sempurna, dua-duanya milik Pemprov yang satu adalah TJ (Trans Jakarta) dan satunya MRT lewat di depan kantor sekretariat ASEAN, koridor 13 itu mau pindah ke MRT bagaimana? Jauhnya luar biasa," kata Anies di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (10/11).

Ia menjelaskan, kedua pihak yang bertanggung jawab telah dipanggil untuk berdiskusi dan memikirkan solusinya sebagai satu tim serta kesatuan dalam menghadirkan layanan terbaik bagi warga DKI Jakarta.

"Saya dudukkan semuanya. Saya katakan bahwa tidak boleh lagi memikirkan modanya sendiri. Semua harus berpikir satu kesatuan, sehingga warga Jakarta merasakan manfaat naik kendaraan umum, nggak repot," sebutnya.

Ia menambahkan, tidak harus terburu-buru mendiskusikan terhadap satu atau dua koridor. Pasalnya, yang akan dibicarakan terkait semua koridor.

"Jangan berpikir 2 Jalur, karena pengunanya berbeda-beda. Justru nanti kita akan liat, mereka yang perlu ke arah timur turunnya di Dukuh Atas, lalu transfer ke TJ lainnya," terangnya.

Ia menjelaskan, pengelola moda transportasi tidak perlu khawatir dengan adanya irisan (kumpulan titik) jalur karena semua itu dibutuhkan untuk peta yang lebih besar.

"Lain jika irisan terjadi karena missmanagement. Jika irisan terjadi kerena kebutuhan kenapa tidak. Saya malah hindari istilah vider, kesannya ada superior dan inferior," lanjutnya.

 

Baca Juga: Ada Tiga Rute Baru Trans-Jakarta

 

Dia pastikan semua moda transportasi mengangkut penumpang dengan yang sama bahwa membantu mobilitas penduduk menggunakan angkutan umum massal.

"Jadi yang angkot akan memfasilitasi di jalan kecil, bis medium memfasilitasi jalan yang lebih besar, dan bis besar untuk jalan protokol serta utama. Lalu MRT angkut yang massal koridor yang jauh dan panjang. Masing-masing punya tujuan," paparnya.

Semua moda akan terintegrasi dengan sebuah sistem, yaitu Jak Lingko dengan harga bersama Transjakarta sebesar Rp5 ribu. Sementara jika ditambah dengan MRT, ongkosnya masih dalam proses kalkulasi.

"Perhitungan harga MRT bukan seperti Tj yang jauh dekat sama, karena MRT berdasarkan kilometer tetapi semuanya dalam satu kesatuan, dan menajemennya berbeda-beda," pungkasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT