Definisi Pahlawan di Era Milenial Perlu Diubah


Penulis: Golda Eksa - 10 November 2018, 16:00 WIB
ANTARA/ Fakhri Hermansyah
ANTARA/ Fakhri Hermansyah

PEMERINTAH sedianya perlu membuat sebuah kebijakan baru terkait pendefinisian pahlawan di era milenial. Mekanisme itu tidak melulu untuk menetapkan seseorang sebagai pahlawan nasional, tetapi bisa berupa penghargaan terhadap mereka yang dinilai berjasa besar di bidang masing-masing.

Demikian dikatakan sejarawan Bondan Kanumoyoso di sela-sela diskusi Superheroes: Inspirasi Kepahlawanan di Tengah Kemajemukan Indonesia, di Jakarta, Sabtu (10/11). 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas Ngobrolin Indonesia itu juga menghadirkan beberapa narasumber, seperti Ren Anggun selalu aktivis Kabar Bumi, Direktur Eksekutif Kapal Perempuan Misi Misiyah, dan Direktur Eksekutif Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari Gita Syahrani.

Menurut Bondan, makna pahlawan di era milenial telah bergeser. Itu kaitannya dengan tantangan zaman yang dihadapi dianggap semakin luas. 

"Beda dengan generasi saya yang menilai pahlawan adalah orang yang tentu berjasa besar buat negara, misalnya membela kemerdekaan dan kedaulatan yang ancamannya berasal dari luar," kata dia.

 

Baca juga: Anies Minta Generasi Milenial bisa jadi Pahlawan

 

Sementara bagi generasi muda, sambung dia, musuh itu tidak konkret datang dari luar atau yang sifatnya mengancam kedaulatan. Generasi muda menghadapi pelbagai masalah yang menyangkut semua aspek dan sendi kehidupan, seperti lingkungan hidup, sosial, tenaga kerja, seni, teknologi, dan lain sebagainya.

"Makanya saya kira pemerintah sebaiknya membuat satu pendefinisian baru. Karena suatu masa kita akan mengalami krisis pahlawan kalau definisi tidak kita ubah, sementara pahlawan-pahlawan baru terus muncul. Tapi, kan ini enggak terwadahi."

Ia mengemukakan, usulan pemberian penghargaan kepada pihak yang berjasa di pelbagai aspek pun merupakan solusi karena makna pahlawan masih relevan dari generasi ke generasi. Pahlawan generasi milenial adalah mereka yang bersedia mengambil tindakan atau perbuatan untuk memperbaiki dampak negatif di semua aspek.

Ren Anggun menambahkan gelar pahlawan juga bisa disematkan kepada buruh migran. Selain dicap sebagai sumber devisa negara, para tenaga kerja itu juga berhasil menyokong perekonomian terbesar, khususnya di wilayah pedesaan.

"Namun pemerintah sebaiknya memperhatikan nasib buruh migran, seperti persoalan hukum, ancaman hukuman mati, pelecehan seksual, kekerasan fisik. Kita butuh perlindungan dan tidak menginginkan julukan pahlawan devisa," ujar Ren.

Senada disampaikan Gita Syahrani. Menurutnya, pahlawan di generasi saat ini adalah mereka yang berani mengembalikan identitas lingkungan. Maklum, kasus pembalakan hutan terbukti berdampak luas pada kehidupan masyarakat.

"Marilah kita mengembalikan identitas lingkungan. Bukan dengan cara membakar atau membalak hutan, tapi kita harus mencegah demi mewujudkan lingkungan yang lestari," pungkasnya. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT