KKP: Peluang Bisnis dari Tanaman Hias Air


Penulis: Antara - 10 November 2018, 15:00 WIB
ANTARA/Arif Firmansyah
ANTARA/Arif Firmansyah

KEPALA Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) KKP Sjarief Widjaja mengungkap peluang bisnis baru yang bisa digarap pelaku usaha kelautan dan perikanan nasional, yakni tanaman hias air yang bernilai ekonomi tinggi.

Ia memaparkan tanaman air atau biasa disebut aquatic plant atau flora aquatic merupakan bagian dari perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

"Harus disampaikan ke publik sebagai peluang bisnis. Sebagian besar masyarakat belum mengetahui manfaat serta kegunaan tanaman tersebut. Skala ekonominya masih di bawah permukaan, sehingga perlu digali informasinya dan dorong produksinya untuk ekspor," kata Sjarief melalui keterangan resmi, Sabtu (10/11).

Karena itu, Badan Riset dan SDM Kelautan dan Perikanan KKP memulai riset tanaman air yang diawali dengan pendataan spesies tanaman air endemik Indonesia dengan potensi estetika atau hiasan akuarium dan sebagai obat.

Baca Juga:

Redam Polusi Udara dengan Tanaman Hias dalam Ruangan

 

Sementara itu, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi Pertanian, Kementerian Pertanian, Mastur, akan terus mendorong apa yang dilakukan BRSDM KP, terutama dalam inovasi pembiakan tanaman air hias.

 

"Budi daya tanaman air hias ini memang menggiurkan bagi siapapun yang mau memulai bisnis. Bisa untuk nelayan maupun pembudi daya juga. Untuk itu kami siap mendukung jika ada yang diperlukan, seperti hasil penelitian atau data lainnya," ungkapnya.

Sjarief juga menuturkan pentingnya dilakukan kajian inventarisasi tanaman air endemik di seluruh perairan Indonesia sebelum diklaim oleh pihak asing. Pasalnya, menurut dia, permintaan tanaman air banyak diminati dalam negeri hingga mancanegara.

Itu sebabnya, BRSDM KP melalui Balai Riset Budidaya Ikan Hias (BRBIH) melakukan berbagai inovasi riset guna mendorong perekonomian petani dan pembudi daya tanaman air. Salah satunya ialah menggunakan teknik kultur jaringan atau inovasi In-Vitro pada tanaman hias air untuk estetika ("aquascape") dan obat herbal alami baru untuk penyakit ikan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2008, nilai kumulatif ekspor tanaman air pada tahun 2002-2004 mencapai angka US$1.054.229 dan pada 2006 berada di angka US$676.404.

Sebelumnya terkait dengan ekspor perikanan, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti memastikan nilai dan volume ekspor produksi perikanan pada 2018 meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Dalam pemaparan empat tahun kinerja Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla di Sekretariat Negara, Jakarta, pada 23 Oktober 2018, Menteri Susi menyebutkan sepanjang Januari-Juni 2018, nilai ekspor perikanan sudah mencapai US$2,27 miliar atau meningkat 12,88% dibandingkan periode sama di 2017 sebesar US$2 miliar.(OL-5)

 

BERITA TERKAIT