Dua Orang Meninggal Akibat Banjir dan Longsor di Sumatra Barat


Penulis: Indriyani Astuti - 09 November 2018, 18:46 WIB
Dok. BNPB
Dok. BNPB

HUJAN deras yang melanda Sumatra bagian barat menyebabkan banjir dan longsor di wilayah Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Lampung. Akibatnya, dua warga di tempat yang berbeda meninggal dunia.

Korban pertama berasal dari Kota Pariaman, tepatnya di Desa Sintuak Nareh, Kecamatan Pariaman Utara, Sumatra Barat. Longsor yang terjadi pada Jumat (9/11) sekitar pukul 05.53 WIB menerjang rumah korban bernama Sawitri, 23.

Selain itu di Pasaman Barat, banjir dan longsor melanda Desa Parik, Kecamatan Koto Balingka, juga menyebabkan satu orang meninggal dunia bernama Ahmad, 10.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir di sana menyebabkan 100 kepala keluarga mengungsi ke jorong terdekat, dua rumah hanyut, satu mushola rusak dan dua jembatan gantung rusak berat.

"Kerusakan fisik, satu rumah rusak berat," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers, Jumat (9/11).

BPBD Kota Pariaman bersama TNI/Polri dan SAR telah melakukan pendataan dan evakuasi korban. Aparat dan warga setempat melakukan gotong-royong membersihkan material longsor. Wali Kota Pariaman pun telah memberikan santunan sebesar Rp20 juta kepada keluarga korban.

Sementara itu, banjir yang melanda Desa Sungai Pandahan, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatra Utara pada Rabu (7/11) lalu menyebabkan satu orang hanyut. Hingga saat ini, korban belum ditemukan. Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian korban.

"Penanganan darurat dilakukan dengan melakukan evakuasi, membagikan bantuan, mendirikan dapur umum dan pos darurat," imbuhnya.

Sutopo mengatakan meningkatnya curah hujan menyebabkan bencana hidrometeorologi juga bertambah. Meski belum semua wilayah Indonesia memasuki musim hujan, namun Sumatra dan Jawa bagian barat telah terjadi peningkatan hujan selama satu minggu terakhir.

Baca Juga:

Banjir dan Tanah Longsor Meluas

 

BNPB mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung. Menurut Badan Klimatologi, Meteorologi dan Geofisika (BMKG) intensitas hujan akan terus meningkat sehingga potensi bencana juga meningkat.

Antisipasi, lanjut Sutopo, perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi lingkungan.

"Jangan melakukan aktivitas saat cuaca mendung atau hujan. Cermati tanda-tanda potensi longsor di sekitar lereng perbukitan. Beberapa tanda potensi longsor yakni munculnya retakan, munculnya rembesan atau mata air, pohon miring dan lainnya," tukas Sutopo.(OL-5)

BERITA TERKAIT