Koperasi Pemutus Drama Pedagang Ancol


Penulis: Iis Zatnika - 09 November 2018, 18:34 WIB
MI/Iis Zatnika
MI/Iis Zatnika

RUANGAN Blackroom di Pasar Seni Ancol, Jakarta, Jumat (2/11), itu meriah. Sedikitnya 130 pedagang yang sehari-hari hilir mudik di kawasan pelesir di pesisir Jakarta itu, sore itu, tengah merintis jalannya buat makin berdaya.

"Siapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang ingin naik haji atau umroh nih, pasti semuanya ingin kan ya. Gimana nih caranya? Ya selain kita jualan setiap hari, juga harus nabung dan memajukan koperasi dan mau belajar. Kalau sudah pinter dan punya modal kan bisa dagang atau usaha di luar Ancol, karena kan pastinya nggak mau begini-begini terus," ujar mentor literasi keuangan Fransiskus Suhardono dalam acara Silaturahmi Sesama Pedagang Ancol Koperasi Sejahtera Makmur Mandiri.

Di antara canda dan riuhnya tepuk tangan, Fransiskus berbagi kiat tentang pentingnya para pedagang yang sehari-hari berdagang kacamata, mainan anak hingga topi itu memiliki target untuk tiga hingga lima tahun kedepan. Pun, menabung buat mewujudkan mimpi itu, tentunya di koperasi yang tengah mereka rintis. Salah satu tujuan yang kemudian banyak dicurhatkan para pedagang adalah terbebas dari hutang, termasuk dari para rentenir.

Selain para pedagang, bagian dari 250 anggota koperasi yang akte pendiriannya tengah diurus, ada juga pihak lain ikut menjadi bagian dari proses pendirian yang penuh drama itu.

"Saya harus ada disini, dari mulai hingga akhir acara, juga dari awal pendirian hingga nanti koperasi ini berjalan dan dioperasikan mandiri oleh pedagang. Karena bagi kami, mereka, 250 anggotanya, adalah mitra penting kami, buat ikut menjaga keamanan bahkan berfungsi strategis untuk Ancol kedepan," ujar Manager Operasional PT Taman Impian Jaya Ancol, Husein Munir.

Serupa Husein, harapan kepala tim CSR, Bagus Teguh Prasetyo, pada sosok-sosok yang menjadi bagian dari denyut kehidupan Ancol, juga sama besarnya. Program CSR Ancol menjadi pengungkit bagi kedua belah pihak, reseller kesejahteraannya meningkat, pun pantai-pantai dan sekitar wahana kian tertata dan aman. 

"Mereka adalah salah satu bagian penting dari Ancol, maka pendekatan kami pada mereka, akan menentukan kepercayaan masyarakat pada kami."

Berawal dari Tujuh Pedagang

"Saat Ancol awal-awal buka, sekitar 1984, saya ingat saat itu ada 7 orang, termasuk saya, saat itu masih muda, yang coba berjualan di sini. Lalu, ada belasan orang, puluhan, ratusan, dan terus makin banyak," ujar sang Ketua Koperasi Sejahtera Makmur Mandiri, Heri Wibowo, 47.

Berdagang di kawasan yang ia sebut wilayah barat, karena wilayah dan jumlah pedagang diatur komposisinya. Heru menjadi bagian dari perjalanan korelasi Ancol dengan para pedagang, sebagian besar, warga sekitar pesisir yang mengais rezeki di sana, dari sektor informal.

"Hingga kemudian ada banyak pendekatan yang dilakukan Ancol untuk mengatur para pedagang, juga ada yang dikejar-kejar karena dianggap liar dan melanggar keamanan dan peraturan. Sampai kemudian berdiri koperasi Mekar Sari yang menaungi kami, dan bisa membantu ketertiban, namun ternyata pengurusnya kabar membawa uang anggota seratus jutaan rupiah, dari situ kepercayaan untuk membuat koperasi baru itu harus dibangun perlahan," ujar Heri yang bersama para pedagang lainnya meraih pendapatan kotor per hari mulai Rp150 ribu hingga jutaan rupiah di musim liburan.

Pengamanan Oleh Pedagang Sendiri

Kisah serupa pun dipaparkan Husein, yang mengaku punya banyak cerita penuh haru biru tentang salah satu tugas yang diembannya, menjaga keamanan Ancol, termasuk mengatur para pedagang.

"Mereka sekarang bernama reseller Ancol, karena dalam aturannya mereka hanya diperkenankan menjual suvenir dari kami, bukan makanan atau minuman, agar tak bentrok dengan mereka yang menyewa lahan di sini. Harga jualnya sekitar Rp25 ribuan, mereka bahkan lebih murah dibanding outlet resmi," ujar Husein.

Husein pernah melewati aneka episode menertibkan pedagang liar, melarang mereka mengasong, mendirikan kontainer sebagai lahan usaha yang ternyata tidak efektif karena lokasinya kurang strategis. Sehingga mereka muncuk kembali membawa barang dagangan ke pantai dan parkiran, hingga menghadapi aneka aksi demonstrasi. Husein kemudian berkolaborasi dengan Center for Entrepreneurship, Change and Third Sector (CECT) Trisakti, untuk mencari solusi terbaik.

Pertemuan Kepentingan

Business Sustainability Manager CECT Trisakti Rio Zakarias Widyandaru mengatakan hasil dari kolaborasi itu adalah pembentukkan kembali koperasi menjadi pilihan yang mempertemukan kepentingan semua pihak.

Warga sekitar Ancol yang bermukim di ring satu, memiliki KTP Pademangan, Ancol, dan berjualan di sana, diperbolehkan tetap mencari penghidupan di wilayah tersebut. Syaratnya, mereka menjadi anggota koperasi yang bekerja di dua bidang, simpan pinjam dan serba usaha.

Pun, mengikuti aturan, diantaranya, hanya berdagang komoditas yang diperbolehkan, menggunakan gerobak yang diberikan gratis, seragam serta mematuhi aturan operasional, seperti tak masuk ke dalam bus pengunjung serta tak memaksa pembeli. Aturan yang tak kalah pentingnya, mereka pun dibatasi 250 orang, sesuai rasio sekitar 10 meter persegi untuk setiap pedagang.

Pun tak ada lagi payung ormas, yang lazimnya sarat kepentingan, atau lembaga lain diluar koperasi yang diakui selain koperasi. Kabar gembiranya, tak ada pungutan biaya apa pun yang mereka harus bayarkan selain simpanan pokok dan wajib. Sementara, manfaat bagi Ancol, kata Rio, keamanan dan kenyamanan terjaga.

Sekretaris koperasi, Widyani, 38, yang telah delapan tahun berdagang, kini bergilir bertugas di sekretariat untuk melayani anggota dan memantapkan targetnya buat menabung Rp100 ribu per bulan. Semangat serupa, ia tularkan pada kawan-kawannya, untuk membangun aneka mimpi.(OL-5)

BERITA TERKAIT