Pemberlakuan DNDF Berkontribusi Terhadap Penguatan Rupiah


Penulis: Yanurisa Ananta - 09 November 2018, 15:10 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Afriadi Hikmal

KEBIJAKAN Domestik Non Delivery Forward (DNDF) yang diberlakukan Bank Indonesia (BI) mulai 1 November lalu, berkontribusi terhadap penguatan rupiah. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut, sejak diberlakukannya DNDF volume transaksi valuta asing tercatat sebesar US$115 juta. Hal ini menunjukan pasar valas dalam negeri semakin dalam.

"Supply-demand-nya itu juga bergerak sangat seimbang dan membaik. Apa yang kita lihat ini adalah betul-betul mekanisme pasar," kata Perry di Bank Indonesia, Jumat (9/11).

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini rupiah berada di level Rp14.632. Penguatan terjadi dari hari ke hari. Serupa, pada penutupan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Kamis (8/11), berada di zona hijau di level 5.976 atau naik 0,62% dari perdagangan sebelumnya, Rabu (7/11).

Tujuan DNDF secara garis besar adalah memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar valuta asing domestik dan menambah alternatif instrumen lindung nilai bagi para pelaku ekonomi.

"Alhamdulillah sejak minggu lalu terus bergerak menguat. Stabil. Beberapa faktor mendorong stabilitas maupun penguatan dari nilai tukar rupiah ada dari dalam negeri atau faktor luar negeri," tutur Perry.

 

Baca juga: Darmin Prediksi Defisit Transaksi Berjalan bakal Melebar

 

Dari dalam negeri, penguatan kondisi terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan. Inflasi tercatat rendah. Pasar dinilai percaya diri terhadap kebijakan-kebijakan yang ditempuh BI, termasuk pemberlakuan DNDF tersebut.

Selain itu, meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok juga direspon positif oleh pasar. Menguatnya rupiah juga dipengaruhi oleh membaiknya kondisi ekonomi Tiongkok.

"Baik faktor global dan faktor domestik tadi yang memang mendorong nilai tukar menguat dan stabil. Sekali lagi semuanya ini sesuai mekanisme pasar," imbuhnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT