Disabilitas Mental Ingin Bantu Korban Gempa


Penulis:  (Tosiani/N-1) - 09 November 2018, 02:40 WIB
MI/TOSIANI
MI/TOSIANI

NAMANYA Aditia Dwi Saputra, 24, masih sibuk menetaskan cairan warna dengan canting pada gambar peta Sulawesi di kain putih pada salah satu ruangan instalasi produksi Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual (BBRSPDI), Makassar. Di belakang Adit dipajang aneka warna dan motif kain batik karya para siswa BBRSPDI sejak beberapa hari terakhir. Kain batik canting dengan corak dan motif tertentu dibuat tiga siswa BBRSPDI, yakni Adit, 24, Adin Arfianto, 23, dan Sulistyani, 24.

Sementara itu, kain batik dengan corak bulatan-bulatan kecil atau splash batik dibuat anak-anak penyandang disabilitas lainnya dengan cara mencipratkan bahan motif pada kain, lalu diwarnai. Batik ini dikenal sebagai batik ciprat.

"Batik ciprat motifnya yang paling sederhana. Hanya dengan menggoreskan bulatan kecil di atas kain," tutur Instruktur Batik BBRSPDI Kartini Temanggung, Hanung Faris Fahrudin, Minggu (4/11). Siswa lainnya Adin Arfianto, 23, menjemur satu kain batik bermotif peta Sulawesi yang sudah selesai digambar dan diwarnai.

Hanung menuturkan batik bermotif Pulau Sulawesi tersebut akan dilelang. Hasilnya akan disumbangkan kepada korban gempa di Sulawesi Tengah. Batik untuk donasi itu merupakan kombinasi dari batik ciprat dan canting. Untuk motif peta dibuat dengan batik canting, sedangkan bagian pinggirnya terdapat bulatan-bulatan splash dari batik ciprat. "Lainnya masih dibuat, menunggu permintaan lagi," tutur Hanung.

Selain untuk donasi, siswa BBRSPDI juga membuat kain batik dengan motif lain, baik batik canting maupun ciprat untuk memenuhi permintaan konsumen. Harga jualnya di kisaran antara Rp110 ribu-Rp115 ribu per lembar dengan panjang kain 210 sentimeter (cm).

Hanung memasarkan hasil kerajinan batik anak-anak itu dengan memajangnya di media sosial seperti Instagram. Dalam sehari, jika situasi normal, tiap anak bisa menghasilkan antara tiga hingga lima lembar kain batik.

Adit, salah satu siswa penyandang disabilitas intelektual mengaku mendapat komisi Rp15 ribu per lembar kain dari hasil penjualan. Dalam sebulan komisi yang didapatnya bisa mencapai Rp600 ribu hingga Rp1 juta. Selama dua tahun membuat batik, Adit memiliki tabungan yang cukup, bahkan mampu menyisihkan penghasilannya untuk orangtuanya di Gunung Kidul.

"Saya juga ingin menyisihkan komisi penjualan batik saya untuk donasi korban gempa di Palu," tutur Adit. Dia pun mengaku prihatin karena pernah sengsara jadi korban gempa Yogyakarta beberapa tahun lalu. "Saya lihat di TV ada gempa, rasanya kasihan sekali. Jadi ingin berdonasi," tuturnya penuh rasa ikhlas.

BERITA TERKAIT