Ilusi Swasembada


Penulis: Raja Suhud Wartawan Media Indonesia - 09 November 2018, 05:20 WIB
Raja Suhud Wartawan Media Indonesia
Raja Suhud Wartawan Media Indonesia

SEJARAH peradaban umat manusia mencatat bahwa revolusi pertanian yang dilakukan pada masa 9500 SM merupakan tipuan terbesar  yang pernah ada.

Disebut tipuan karena ilusi kesejahteraan yang mendasari ide transformasi dari masyarakat pemburu menjadi masyarakat agraris itu menimbulkan lebih banyak kesengsaraan ketimbang kenikmatan.

Yuval Noah Harari, profesor sejarah dari Universitas Ibrani, Jerusalem dalam bukunya, Homo Sapiens, menuliskan bagaimana manusia tercerabut dari akarnya sebagai manusia bebas menjadi manusia yang terkekang gara-gara bertani. Manusia yang awalnya bebas berkelana dan memungut apa saja yang ditemuinya untuk dimakan, mendadak harus berdiam di suatu tempat guna menunggui tanaman rumput yang sekarang kita kenal sebagai gandum dan padi. Saat panen tiba, mereka harus membuat lumbung untuk menyimpan surplus produksi dan berjaga siang-malam agar hasil panenan itu tidak dicuri orang atau binatang pengerat seperti tikus.

Hiruk pikuk dunia pertanian Indonesia saat ini akarnya mirip seperti cerita di atas. Kita terjebak pada ilusi swasembada. Konsep yang digagas sejak zaman Orde Baru itu dipercaya dapat menjamin kesejahteraan masyarakat karena urusan perut terjaga. Padahal sejatinya swasembada itu  ialah sarana meraih kesejahteraan dan bukan tujuan. Bila bicara kesejahteraan, rumusannya ialah pangan tersedia dengan tingkat harga yang terjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tidak masalah pasokannya dari dalam atau luar negeri.

Celakanya kita menjadikan swasembada itu sebagai tujuan. Bertambah pelik ketika memasukkannya dalam ranah politik. Produksi diutak-atik berdasarkan data  yang validitasnya diragukan.  Seperti pada kasus surplus beras dan jagung yang diklaim Kementan  yakni  mencapai15 juta untuk beras dan 13 juta untuk jagung.

Berdasarkan posisi surplus yang meragukan itu, tindakan impor yang dilakukan pemerintah seakan-akan tidak memuliakan petani.  Padahal bila ingin memuliakan petani, caranya tidak neko-neko. Petani hanya butuh memperoleh bibit, pupuk, dan air saat ingin bertanam.  Petani juga ingin hasil panenannya terserap. Pun seperti anggota masyarakat lainnya, mereka juga butuh harga pangan terjangkau, bisa menyekolahkan anak, dan memperoleh akses kesehatan.

Jadi, buat apa lagi buang energi dengan mempertahankan ilusi swasembada bila ujungnya ternyata tidak berdampak pada  kesejahteraan petani dan masyarakat. Saatnya keluar dari ilusi itu dan be­kerja untuk hal yang sungguh riil. (E-2)

BERITA TERKAIT