Impor Jagung Rekomendasi Kementan


Penulis: Nur Aivanni - 09 November 2018, 05:00 WIB
ANTARA FOTO/Aji Styawan
ANTARA FOTO/Aji Styawan

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan rekomendasi impor jagung untuk pakan ternak berasal dari Kementerian Pertanian dengan alasan pasokan yang mulai terbatas.

“Yang melakukan impor itu Mendag, tetapi rekomendasinya itu Mentan,” kata Darmin di Jakarta, Rabu (7/11) malam.

Menurut dia, Kementan mere-komendasikan adanya impor jagung karena ada keluhan dari para peternak ayam yang sulit untuk mencari pakan.
Untuk itu, permintaan impor dilakukan karena pasokan jagung untuk pakan ternak tidak lagi mencukupi dan harganya mengalami kenaikan tinggi.

Dengan melihat kondisi itu, Darmin pun meminta tidak ada lagi polemik terkait dengan impor jagung, apalagi hal ini sudah menjadi keputusan dalam rapat koordinasi pada Jumat (2/11).
Meski demikian, ia sempat mempertanyakan permintaan untuk impor komoditas itu karena Kementan mengklaim produksi jagung mengalami surplus.

“Jangan menyalahkan yang lain, kalau harga naik itu ada yang kurang, sederhana saja,” kata Darmin.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan rencana impor jagung sebesar 50 ribu ton sampai maksimal 100 ribu ton dilakukan sebagai alat kontrol untuk menjaga stabilisasi harga pakan ternak.

“Ini baru mau impor 50 ribu ton, itu pun pemerintah impor bukan dilepas. Kalau nanti harga turun, tidak mungkin dikeluarkan. Jadi impor sebagai alat kontrol saja,” kata Amran.
Saat ini Perum Bulog telah membuka proses lelang untuk impor jagung 100 ribu ton. Mungkin jagung itu akan didatangkan dari Argentina dan Brasil.

“Sekarang sudah dibuka tender. Dari Argentina dan Brasil,” ujar Direktur Pengadaan ­Perum Bulog Bachtiar di Jakarta, ­kemarin.

Ia mengatakan proses pemasuk-an akan dilakukan secara bertahap. Di fase awal, direncanakan jagung impor akan masuk sebanyak 70 ribu ton. Sisanya akan masuk kemudian sebelum akhir Desember.
“Pokoknya akhir Desember ini masuk, sesuai keputusan rakortas, 100 ribu ton,” ujarnya.

Data tidak sinkron
Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) mempertanyakan sikap Menteri Pertanian yang terus menyuarakan surplus jagung 13 juta ton.
Jika benar ada surplus jagung sebanyak itu, secara logika pemerintah akan membutuhkan lebih dari 3.000 gudang penyimpanan seluas 1.622 kilometer persegi, seperti milik Perum Bulog di Kelapa Gading, Jakarta.

Hal itu tentu jauh dari kenyataan karena Bulog saja hanya memiliki sekitar 4.000 gudang yang utamanya difungsikan untuk memyimpan beras.

“Saat masih ada impor jagung, misalnya di 2015, sekitar 3,2 juta ton, sering kali ada keluhan harga jagung dalam negeri anjlok. Kalau sekarang surplus sampai 13 juta ton, tidak terbayang bagaimana keluhan para petani jagung, bisa-bisa mereka tidak mau tanam jagung lagi di musim berikutnya karena harga pasti anjlok tidak keruan,” kata Direktur Pataka Yeka Hendra Fatika.

Kenyataan yang ada sekarang harga jagung melambung sampai Rp5.300 per kilogram sehingga ada yang tidak sinkron. Oleh karena itu, ia meragukan klaim surplus yang disuarakan Menteri Pertanian. (Pra/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT