Investasi Eksplorasi Migas US$1,3 Miliar hingga 2026


Penulis: Andhika Prasetyo - 09 November 2018, 03:20 WIB
ANTARA FOTO/HO/Humas Kementerian ESDM/Yustinus Agyl Kurniawan
ANTARA FOTO/HO/Humas Kementerian ESDM/Yustinus Agyl Kurniawan

SATUAN Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usa­ha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Mi­­gas) mengungkapkan nilai investasi migas pada periode 2019 hingga 2026 mencapai US$1,3 miliar.
Investasi tersebut akan ditujukan kegiatan eksplora­si seperti survei, airborne magnetic, airborne gravity, seismik, dan pengeboran.

“Nilai yang cukup besar ter­sebut berasal dari komitmen kerja pasti dari 13 kontrak­tor kontrak kerja sama (KKKS),” ungkap Kepala SKK Migas Amin Sunaryadi dalam paparannya pada media gathering di Ciloto, Jawa Barat, kemarin.

Menurut Amin, angka inves­tasi eksplorasi migas tersebut menjadi angin segar karena bisa memunculkan harapan akan ditemukan lagi blok migas baru sebagai sumber pe­me­nuhan kebutuhan dalam negeri.

Pasalnya, selama dua dekade terakhir, produksi minyak bu­­mi dalam negeri terus merosot, sedangkan kebutuhan kian ber­tumbuh. Pada 2002, misal­nya, angka produksi dan kebutuhan seimbang di angka 1.200 mbopd.

Namun, pada 2016, angka produksi tercatat hanya ber­­ki­sar 800 mbopd, sedangkan kebutuhan mencapai 1.600 mbopd. Alhasil, imbuh aimpor menja­di jalan pintas dalam upaya me­menuhi kekosong­an. Nera­ca perdagangan pun menjadi defisit akibat impor. “Turunnya kinerja produksi ini tidak terlepas dari minimnya nilai investasi terutama dalam hal eksplorasi selama puluhan tahun terakhir.”

Ia menyampaikan sejak 2010 hingga 2019, SKK Migas menca­tatkan nilai investasi di sek­tor eksplorasi hanya sebesar Rp1,02 triliun atau sekitar US$69 juta.

Adapun sepanjang Januari hingga September tahun ini, realisasi investasi hulu migas tercatat US$7,9 miliar atau le­bih besar daripada capaian di periode yang sama tahun sebelumnya US$5,57 miliar.

“Tahun ini ditargetkan in­­ves­tasi hulu migas sebesar US$14,2 miliar. Namun, melihat raihan hingga kini, target diprediksi meleset dengan ke­mungkinan realisasi hanya 79%,” jelas Amin.

Amin juga berharap agar pe­merintah menggencarkan kegiatan eksplorasi migas untuk menyelamatkan diri dari rutinitas impor migas yang sa­­ngat tinggi.

Potensi migas
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mine­ral (ESDM) Arcandra Tahar me­nyatakan Blok Migas Ka­raeng di Kabupaten Jeneponto, Su­lawesi Selatan, akan dikaji kembali lebih detail.
Saat meninjau lokasi itu, Se­­lasa (6/11), Arcandra menyampaikan akan dilakukan penambahan data untuk Blok Karaeng melalui joint study.

Menurut dia, rencananya sa­lah satu KKKS migas yang beroperasi di wilayah Sulawesi Selatan akan melakukan joint study untuk lebih mendalami potensi yang ada sekaligus melakukan penambahan data.

“Insya Allah proses administrasi dan lain-lainnya mulai minggu depan. Semoga setelah joint study ada harapan benar adanya potensi dari minyak atau gas,” pungkas Arcandra.

Arcandra juga menegaskan Kementerian ESDM sangat mendukung usaha-usaha agar energi berkeadilan bisa dinikmati seluruh rakyat Indonesia.

Berdasarkan data SKK Migas, dari 89 wilayah kerja (blok) eks­ploitasi di Indonesia, 19 blok berusia di bawah 19 tahun, 30 wilayah kerja ber­usia 15-25 tahun, 36 blok berusia di antara 25-50 tahun, dan 4 blok sudah melebihi 50 tahun. (E-3)

BERITA TERKAIT