Ilusi Swasembada


Penulis: Raja Suhud, Wartawan Media Indonesia - 08 November 2018, 20:47 WIB

SEJARAH peradaban umat manusia mencatat bahwa revolusi pertanian yang dilakukan pada masa 9500 SM merupakan tipuan terbesar  yang pernah ada.  Disebut tipuan karena ilusi kesejahteraan yang mendasari ide transformasi dari masyarakat pemburu menjadi masyarakat agraris itu menimbulkan lebih banyak kesengsaraan ketimbang kenikmatan.

Yuval Noah Harari, Profesor Sejarah dari Universitas Ibrani, Jerusalem dalam bukunya Homo Sapiens menuliskan bagaimana manusia tercerabut dari akarnya sebagai manusia bebas menjadi manusia yang terkekang, gara-gara bertani. Manusia yang awalnya bebas berkelana dan memungut apa saja yang ditemuinya untuk dimakan, mendadak harus berdiam di suatu tempat guna menunggui tanaman rumput yang sekarang kita kenal sebagai gandum dan padi. Saat panen tiba, mereka harus membuat lumbung untuk menyimpan surplus produksi dan berjaga siang malam agar hasil panenannya tidak dicuri orang atau binatang pengerat seperti tikus.

Hiruk pikuk dunia pertanian Indonesia saat ini akarnya mirip seperti cerita di atas.  Kita terjebak pada ilusi swasembada. Konsep yang  digagas sejak jaman Orde Baru itu dipercaya dapat menjamin kesejahter an masyarakat karena urusan perut terjaga.  Padahal, sejatinya, swasembada itu merupakan sarana dan bukan tujuan. Bila  bicara kesejahteraan, rumusannya adalah pangan tersedia dengan tingkat harga yang terjangkau seluruh lapisan masyarakat. Tidak masalah pasokannya berasal dari dalam atau luar negeri.

Celakanya kita menjadikan swasembada itu sebagai tujuan. Bertambah pelik ketika memasukkannya dalam ranah politik. Produksi diutak-atik berdasarkan data yang validitasnya diragukan.  Seperti pada kasus surplus beras dan jagung yang diklaim Kementerian Pertanian yakni 15 juta untuk beras dan 12,9 juta untuk jagung.  Berdasarkan posisi surplus yang meragukan itu, tindakan impor yang dilakukan pemerintah seakan-akan tidak memuliakan petani.  Padahal bila tujuannya ingin memuliakan petani, caranya tidak neko-neko.
Petani hanya butuh memperoleh  bibit, pupuk, dan air saat ingin bertanam.  Petani juga ingin hasil panen mereka terserap. Dan seperti anggota masyarakat lainya, petani juga  butuh harga pangan yang terjangkau, bisa menyekolahkan anak, dan memperoleh akses kesehatan yang baik.

Jadi buat apa lagi buang energi dengan mempertahankan ilusi swasembada sekuat mungkin bila ujungnya ternyata tidak berdampak pada  kesejahteraan petani dan masyarakat yang lebih luas. Saatnya keluar dari ilusi itu dan bekerja untuk hal yang sungguh riil.(E-2)

BERITA TERKAIT