BPOM-WHO Kembangkan Sistem Pelaporan Obat Palsu


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 08 November 2018, 18:02 WIB
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggelar kerja sama program pelaporan obat palsu dan obat substandar melalui aplikasi ponsel pintar. Program pilot project WHO tersebut dilaksanakan di enam provinsi di Pulau Jawa, yaitu DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.

"Pelaporan obat palsu dan obat substandar diyakini berperan penting dalam menanggulangi peredaran obat palsu dan obat substandar di suatu negara. Karena dengan pelaporan tersebut, diharapkan dapat menjadi sinyal awal untuk mengatasi peredarannya," kata Kepala BPOM Penny K Lukito di Jakarta, Kamis (8/11).

Menurutnya, budaya pelaporan di kalangan tenaga kesehatan perlu dioptimalkan. Pasalnya, para tenaga kesehatan bisa menjadi garda terdepan dalam penanggulangan peredaran obat palsu di tingkat lokal.

Baca Juga:

BBPOM Medan Amankan Ribuan Obat dan Pil KB Palsu

 

Sementara itu, Techical Officer SF Medical Products dari WHO, Diana Lee, mengatakan masalah peredaran obat palsu terjadi di berbagai negara. Indonesia merupakan negara kedua pilot project tersebut setelah Tanzania. Masalah peredaran obat palsu dan substandar, menurutnya, bisa diatasi dengan pengawasan postmarket melalui pelaporan secara efektif.

 

"Studi WHO menemukan 1 dari 10 produk obat ialah palsu. Itu mengakibatkan kerugian secara global mencapai US$30,5 miliar. Pelaporan oleh tenaga kesehatan amat penting sebagai sistem peringatan dini karena itu mereka harus memiliki kapasitas untuk mendeteksinya," ucapnya.(OL-5)

BERITA TERKAIT