Teater Koma Persembahkan Lakon Mahabarata


Penulis: Ardi Teristi Hardi - 08 November 2018, 16:51 WIB
Dok.Instagram
Dok.Instagram

Batara Guru dan Gendeng Permoni tampak bahagia ketika terbang di angkasa menunggangi sapi putih Andini. Mereka memadu kasih sembari menyaksikan keindahan alam semesta.

Ketika berada di atas Pulau Jawa, birahi Betara Guru tetiba muncak. Namun, Gendeng Permoni enggan melayani. Alhasil, keluarlah umpatan dari Betara Guru kepada Gendeng Permoni. Umpatan itu kemudian mengubah fisik dan watak Gendeng Permoni, dari bidadari cantik jelita menjadi reseksi buruk rupa.

"Itu tadi adegan awal di babak kedua," kata N Riantiarno, selaku penulis naskah dan sutradara Teater Koma, kepada para wartawan seusai menyaksikan latihan Teater Koma, di bilangan Bintaro, Jakarta, Rabu (7/11). Adegan itu merupakan cuplikan dari pementasan terbaru Teater Koma, Mahabarata: Asmara Raja Dewa.

Cerita Mahabarata yang akan ditampilkan Teater Koma banyak mengadopsi Mahabarata Jawa dalam versi N Riantiarno. Alkisah, dari kekosongan, Sang Hyang Wenang mencipta tiga dunia beserta penghuninya: Mayapada (dunia atas), Madyapada (dunia gelap), dan Marcapada (dunia bawah), beserta seluruh penghuninya. Lalu, terjadi perang dahsyat, perebutan kekuasaan antara Idajil dan Hyang Tunggal, pewaris Wenang. Idajil kalah, dibelenggu dan diasingkan. Setelah beberapa waktu, Hyang Tunggal lengser dan digantikan Batara Guru.

Inilah kisah tentang Rajadewa, Batara Guru, dalam menjaga kedamaian Tiga Dunia yang selalu diusik oleh penghuni Dunia Gelap. Mereka selalu berhasrat merebut tampuk kekuasaan Tiga Dunia. Belum lagi Idajil, selalu menghasut para perusuh dari belenggu tempat pengasingannya.

Apakah Batara Guru mampu melindungi Tiga Dunia dari gangguan Idajil dan pengikutnya yang haus kuasa? Apakah Kaum Wayang akan termakan provokasi dan hasutan dari Idajil dan pengikutnya? Jawabannya ada dalam lakon Mahabarata: Asmara Raja Dewa yang akan digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 16–25 November 2018.

Pertunjukan yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation tersebut akan dibagi dalam dua babak dengan total durasi sekitar 4 jam.

Menurut N Riantiarno, Mahabarata menarik dipentaskan karena merupakan lakon lama atau kisah lama, tapi masih sangat memikat. "Ini lakon para dewa dan kemudian lakon penciptaan manusia. Genesis. Lakon ini tidak masuk kepada pakem. Ini lakon yang sumbernya bisa dari mana saja," kata pria yang biasa disapa Nano itu.


Menampilkan kebaruan
Pentas teater Mahabarata yang ditampilkan Teater Koma ini juga menampilkan lebih banyak kebaruan, dari sisi pemain hingga teknik pertunjukan. Dari sisi pemain, misalnya, dari 45 aktor dan aktris yang terlibat, sekitar 70% masih muda. Semuanya telah diseleksi secara khusus dan berlatih sekitar satu bulan.

Teknik pertunjukannya juga lebih modern karena memasukkan animasi film. Lakon Mahabarata ini juga menampilkan 28 lagu dengan berbagai tema, terutama tentang penciptaan dan ajaran hidup.

"Teater Koma terus berproses kreatif tiada henti, karya demi karya mengalir sangat produktif. Konsistensi yang dilakukan menjadi inspirasi bagi kita untuk terus melakukan eksplorasi gagasan dalam menghasilkan karya kreatif,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation. (AT/M-2)

 

BERITA TERKAIT