Korsel Minta Maaf atas Perkosaan Pasukan Militer


Penulis: (AFP/Yan/I-1) - 08 November 2018, 07:00 WIB
Alex Wong/Getty Images/AFP
Alex Wong/Getty Images/AFP

KEMENTERIAN Pertahanan Korea Selatan, Rabu (7/11), meminta maaf untuk pasukan darurat militer yang memerkosa wanita, termasuk remaja, ketika mereka menggulingkan pemberontakan prodemokrasi pada 1980.

Menteri Pertahanan Jeong Kyeong-doo mengeluarkan permintaan maaf publik atas luka dan rasa sakit yang tak terkatakan pada perempuan tak berdosa yang diperkosa dan menjadi sasaran penyiksaan seks oleh tentara yang menindak protes terhadap kudeta militer Jenderal Chun Doo-hwan.

Demonstran di Kota Gwangju di selatan dan orang-orang yang lewat dipukul sampai mati, disiksa, dibayonet, dan dicukur, atau ditembaki.

Lebih dari 200 orang dibiarkan mati atau hilang. Sementara itu, aktivis mengatakan jumlah korban mungkin tiga kali lipat.

Pasukan Chun diyakini juga telah melancarkan serangan seksual terhadap perempuan, tetapi masalah ini telah lama ‘disembunyikan di bawah karpet’ karena korban yang trauma tetap enggan untuk maju.

Suasana berubah setelah pemilihan Presiden Moon Jae-in liberal saat ini, yang mengungkap kebenaran tentang Gwangju dan ketika salah satu korban dimotivasi oleh gerakan #MeToo yang sedang tumbuh di Korea Selatan.

Seorang pendemo Kim Sun-ok mengatakan kepada sebuah televisi pada Mei bahwa dia telah diperkosa oleh seorang interogator pada 1980. Hal ini mendorong pihak berwenang untuk memulai penyelidikan yang mengonfirmasi ada 17 kasus.

“Penyelidikan telah mengonfirmasi perkosaan, penyerangan seksual, dan penyiksaan seks dilakukan oleh pasukan darurat militer,” kata menteri pertahanan dalam sebuah pernyataan. “Korban termasuk remaja dan wanita muda, termasuk pelajar muda dan wanita hamil yang bahkan tidak ikut dalam protes.”

“Atas nama pemerintah dan militer, saya membungkuk dalam-dalam dan menawarkan kata-kata maaf saya untuk luka-luka mendalam yang tak terkatakan dan rasa sakit yang ditimbulkan pada korban yang tidak bersalah,” kata Jeong.

Namun, Profesor Kim menolak permintaan maaf itu. “Saya tidak mendengarkannya karena pengalaman traumatis saya,” katanya.

“Kecuali mereka yang bertanggung jawab dibawa ke pengadilan dan dihukum, sejuta permintaan maaf tidak akan berarti apa-apa.”

BERITA TERKAIT