Konflik AS-Tiongkok Berpotensi Bentuk Tirai Besi Ekonomi


Penulis: Tesa Oktiana Surbakti - 08 November 2018, 06:20 WIB
Johannes EISELE/AFP
Johannes EISELE/AFP

POLEMIK perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok harus diurai sebelum dampaknya semakin meluas. Hal itu diutarakan mantan Menteri Keuangan AS, Henry Paulson, yang memperingatkan risiko ‘tirai besi ekonomi’ apabila ketegangan konflik dagang tak kunjung mereda.

Dalam beberapa bulan terakhir, Washington dan Beijing larut dalam pusaran perang dagang. Apalagi, pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump berjanji untuk mengakhiri­ praktik perdagangan Tiongkok yang dinilai merugikan ‘Negeri Paman Sam’ selama bertahun-tahun.

AS telah memberlakukan tarif impor baru pada komoditas impor Tiongkok. Langkah itu memantik serangan tarif balasan oleh Tiongkok yang menerapkan pungutan tarif baru atas komoditas asal AS. Tidak berhenti sampai di situ, AS menggulirkan serangan melalui dukungan peralatan militer terhadap Taiwan, serta mencela catatan persoalan hak asasi manusia (HAM) di Tiongkok.

Dalam pidatonya di Bloomberg New Economy Forum, Singapura, bertepatan dengan penyelenggaraan pemilihan umum (pemilu)­ paruh waktu atau sela AS, Paulson menggarisbawahi ketegangan ekonomi global mencapai titik puncak di tengah memanasnya perang dagang antara AS dan Tiongkok.

“Semestinya kedua negara harus berhati-hati dalam melihat dampak ke depan. Kompetisi strategis ini telah meniupkan gelombang Perang Dingin,” cetus Paulson, yang menjabat posisi menteri keuangan dalam kabinet pemerintahan George W Bush.

Sebelumnya, Paulson menaruh dukungan terhadap saingan Donald Trump dalam pemilu presiden 2016, yakni Hillary Clinton dari Partai Demokrat.

Integrasi ekonomi
Dia kembali menekankan integrasi ekonomi AS-Tiongkok yang berjalan kondusif dalam beberapa dekade lalu kini berbalik arah. Dampaknya pun bisa meluas ke sisi negatif.

“Saya khawatir sebagian besar ekonomi global akan mengalami hambatan, khususnya terkait aliran investasi dan perdagangan. Saya sekarang melihat prospek ‘tirai besi’ ekonomi, suatu hal yang melemparkan dinding baru di setiap sisi dan menghempaskan ekonomi global seperti yang sudah kita ketahui,” imbuh Paulson.

‘Tirai besi’ merupakan istilah yang menggambarkan batas atau penghalangan ideologi dan politik yang memisahkan Eropa Barat dari Uni Soviet selama Perang Dingin. Ketegangan perang dagang AS-Tiongkok memberikan ujian tersendiri pada perdagangan global, terutama jelang paruh semester 2018.

Pada awal bulan ini, dalam sebuah pidato, Trump sempat menyebut Tiongkok seperti seorang penjahat dan berencana untuk menjatuhkannya. Senada, Wakil Presiden AS Mike Pence menegaskan AS siap melawan raksasa Asia itu dalam berbagai bidang. Dia pun menuduh Beijing berupaya ikut campur dalam perhelatan pemilu sela.

Kementerian Luar Negeri AS menyatakan pembicaraan tingkat tinggi AS-Tiongkok mengenai keamanan akan berlangsung Jumat waktu setempat di Washigton.

Hal itu menunjukkan tanda perbaikan antara kedua negara. Akan tetapi, Paulson tetap mengingatkan potensi musim dingin yang panjang dalam hubungan AS-Tiongkok.

Sebelumnya, pendiri dan pemimpin eksekutif Alibaba Jack Ma turut mengomentari perang dagang antara AS dan Tiongkok. Dirinya mengaku sangat membenci hal yang menimpa kedua negara tersebut saat ini.

“Perang dagang ialah hal yang paling bodoh di dunia,” kata Ma, Senin (5/11) waktu setempat dalam sebuah konferensi di Shanghai, dikutip dari CNN. (AFP/I-1)

BERITA TERKAIT