Time is Brain, Jangan Tunda Penanganan Stroke


Penulis:  (Nik/H-2) - 07 November 2018, 08:05 WIB
afp
afp

STROKE kerap diidentikkan dengan kematian dan kecacatan. Namun, dengan penanganan yang cepat dan tepat, penderita serangan stroke bisa pulih kembali.

"Dalam penanganan stroke, prinsipnya time is brain. Semakin lama menunda penanganan, semakin banyak sel-sel otak yang rusak. Semakin banyak sel otak yang rusak, makin tinggi risiko kecacatan dan kematian. Jadi, kuncinya ialah penanganan cepat dan tepat," ujar Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr Sahat Aritonang SpS, pada temu media membahas penanganan stroke di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terhenti karena sumbatan pembuluh darah otak (stroke iskemik) atau karena pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemoragik). Karena tidak mendapat pasokan darah, sel-sel otak akan kekurangan oksigen hingga akhirnya mati. Kematian sel-sel otak itulah yang akan menyebabkan kecacatan, bahkan kematian.

Untuk menyelamatkan sel-sel otak dari kematian, aliran darah ke otak harus segera dinormalkan kembali, yakni dengan menghancurkan sumbatan atau mengatasi pembuluh darah yang pecah.

"Untuk stroke karena sumbatan, jika pasien datang ke rumah sakit dalam waktu kurang dari 3-4,5 jam setelah muncul gejala, bisa diatasi dengan obat-obatan penghancur sumbatan," kata Sahat.

Jika pasien datang lebih lama tapi masih di bawah 8 jam setelah muncul gejala, penanganan bisa dilakukan tapi lebih rumit dan biayanya lebih mahal karena dokter harus menghancurkan sumbatan secara mekanik dengan bantuan peralatan digital subtraction angiography (DSA). Adapun untuk stroke hemoragik, penanganan dilakukan melalui operasi.

Jadi, lanjut Sahat, jika seseorang mengalami gejala stroke, jangan tunda-tunda, segera bawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan penanganan stroke. Apa saja gejala yang harus diperhatikan? Sahat menyebut, gejala itu, antara lain, sakit kepala, wajah merot (turun), bicara cadel atau tidak jelas, penglihatan buram, hilang keseimbangan, mati rasa, hingga hilang kesadaran.

"Kadang gejala stroke juga tidak selalu nyata, ringan saja seperti gangguan bahasa, memori, perilaku, dan demensia (pikun)," imbuhnya.

Yang juga harus diperhatikan, lanjut Sahat, ialah serangan stroke sesaat atau transient ischemic attack (TIA). Pada kasus TIA, pasien mengalami gejala stroke, tetapi bisa pulih sendiri dalam waktu kurang dari 24 jam.

"Meski tampaknya sudah tidak ada masalah, pasien TIA berpotensi lebih tinggi untuk mengalami stroke ulangan. Stroke ulangan selalu lebih parah tingkatannya. Jadi, meski sudah pulih, pasien TIA tetap harus memeriksakan diri ke dokter, menjalani pemeriksaan seksama dan mendapat pengobatan memadai," terang Sahat.

BERITA TERKAIT