Diabetes bukan Penghalang Prestasi Anak


Penulis:  Putri Anisa Yuliani - 07 November 2018, 07:45 WIB
MI/Seno
MI/Seno

Dengan penanganan yang baik, anak pengidap diabetes bisa bertumbuh kembang secara normal, juga berprestasi. Pemahaman orangtua dan anak akan penyakit tersebut menjadi kuncinya.

POSTURNYA tegap berisi, geraknya lincah, wajahnya pun ceria. Dengan penampilan seperti itu, mungkin semua yang melihatnya mengira Uki, 12, sehat-sehat saja. Padahal, bocah kelas 1 SMP itu mengidap penyakit yang bisa mematikan, yakni diabetes, tepatnya diabetes melitus tipe 1.

Uki yang bernama lengkap Fulki Baharuddin Prihandoko itu didiagnosis mengidap diabetes sejak kelas 4 SD. Namun, ia sudah merasakan gejala-gejalanya sejak kelas 2 SD.

"Kalau luka sembuhnya lama. Terus kalau pagi sering lesu. Sering merasa haus, padahal sudah minum banyak," terangnya saat ditemui dalam media briefing Anak juga Bisa Diabetes yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan akhir Oktober lalu di Jakarta.

Awalnya, Uki dan orangtuanya tak pernah menganggap gejala itu sebagai persoalan serius. Sampai saat kelas 4 SD, gejala mulai bertambah, seperti rambut makin banyak rontok, sering buang air kecil, bahkan mengompol di malam hari, serta berat badan turun drastis.

Melihat hal yang tidak biasa pada bungsu dari tiga bersaudara itu, sang ibu, Aisyah Rahmah, tentu khawatir. Ia pun beberapa kali memeriksakan Uki ke dokter, tetapi tidak mendapat diagnosis yang memuaskan. Hingga suatu hari, ketika Uki kembali mengompol untuk ke sekian kalinya, Aisyah curiga anaknya terkena diabetes. Ia pun berinisiatif meminta dokter melakukan tes darah.

"Saat kami pulang dari RS, dokter telepon dengan setengah teriak bahwa Uki harus kembali ke RS untuk dirawat karena kadar gula darahnya sampai 750 mg/dL," tuturnya.

Dokter mendiagonosis Uki mengidap diabetes tipe 1 yang mengharuskan dia memakai insulin seumur hidupnya. Awalnya, berat bagi Uki dan orangtua untuk menerima fakta itu. Namun, Aisyah menguatkan diri, merawat anaknya dengan mengikuti petunjuk dokter.

Kini, tiga tahun sudah Uki rutin suntik insulin dan menjaga pola makan. Aisyah menyebut Uki sudah sangat mandiri dan tidak lagi mengeluh.

"Dia tidak minta makanan manis lagi. Dia juga tidak malu untuk suntik insulin di mana saja kalau jadwalnya sudah tiba," imbuh Aisyah.

Kepada keluarga dan pihak sekolah, Aisyah menjelaskan kondisi Uki. Namun, Aisyah tak meminta Uki diperlakukan istimewa. Misalnya, saat sekolah melangsungkan seleksi anggota Pramuka yang akan mengikuti kegiatan jambore internasional di Australia. "Saya isi formulir apa adanya. Saya juga yakinkan Uki sudah mandiri."

Hasil seleksi meloloskan Uki menjadi salah satu peserta yang akan mengikuti jambore itu November ini. Pencapaian itu membuktikan penyakit diabetes, jika dikelola dengan baik, tidak menghalangi penderitanya untuk tetap beraktivitas dan berprestasi.

Lebih dini, lebih baik

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman Bhakti Pulungan SpA, menjelaskan, meski anak yang didiagnosis diabetes tipe 1 akan mengidap penyakit itu seumur hidup, bukan mustahil baginya untuk hidup normal dan berprestasi.

"Kata kuncinya, penerimaan dan edukasi. Sampai saat ini banyak orangtua yang belum bisa menerima anaknya terkena diabetes. Memang itu paling sulit, tetapi setelah bisa menerima, langkah selanjutnya akan jadi jauh lebih mudah," papar ahli endokrin anak itu.

Lebih lanjut Aman menerangkan, mayoritas diabetes pada anak merupakan tipe 1. Diabetes tipe 1 tak dapat dicegah. Penyakit itu terjadi karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin akibat kombinasi faktor genetik, autoimun, dan lingkungan.

"Anak dengan diabetes tipe 1 ini merupakan anak 'terpilih'. Diabetes tipe 1 dipengaruhi gen tertentu, tapi bukan turunan. Ada faktor dari lingkungan yang memicu autoimun (ketidaknormalan sistem pertahanan tubuh) yang kemudian meningkat menjadi diabetes. Faktor itu, seperti infeksi arbovirus, virus polio, coxsackie, juga defisiensi vitamin D," terang Aman.

Penderita diabetes tipe 1 harus menjalani pengobatan, yakni penyuntikan hormon insulin, seumur hidup. Oleh karena itu, edukasi kepada anak menjadi faktor penting. Dengan edukasi yang baik, anak dengan diabetes bisa mandiri dalam melakukan pengobatan dengan benar. "Memang harus seumur hidup diperhatikan, tetapi bukan berarti dia tidak bisa berprestasi. Contohnya aktris Hollywood Halle Berry dan penyanyi Nick Jonas. Mereka bisa sukses walau diabetes," imbuhnya.

Ia menambahkan, semakin dini diabetes terdeteksi dan ditangani dengan benar, semakin baik hasilnya. Oleh karena itu, orangtua wajib memahami dan mewaspadai gejala diabetes pada anak (lihat grafik). "Ketika sudah ada tanda sekecil apa pun, harus pikirkan tentang diabetes. Kalau dokter tidak terpikirkan, orangtua yang harus waspada. Minta cek gula darah."

Terkait dengan diabetes tipe 2, menurut Aman, meski kejadian pada anak masih sedikit, jumlah kasusnya terus meningkat. Salah satu faktor penyebabnya ialah obesitas.

Hal senada disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Cut Fitri Arianie. Pergeseran gaya hidup ke arah tidak sehat, khususnya di kota-kota besar, membuat anak-anak rentan terkena diabetes tipe 2, seperti tren gaya hidup minim aktivitas dan pola makan tinggi karbohidrat, lemak, dan gula.

Karena itulah, lanjut Cut, Kemenkes terus meningkatkan sosialisasi pentingnya gaya hidup sehat dan peningkatan kewaspadaan terhadap diabetes. "Di posyandu maupun posbindu ada layanan screening awal diabetes. Jika hasil screening menunjukkan kecurigaan, warga bisa memeriksakan diri lebih lanjut ke puskesmas." (Ant/H-1)

BERITA TERKAIT