Ketekunan dan Kreativitas Ibu, Kunci Atasi Picky Eater


Penulis: Eni Kartinah - 06 November 2018, 23:15 WIB
Ist
Ist

ANAK pilih-pilih hanya mau makan makanan tertentu (picky eating), bahkan tidak mau makan sama sekali, kerap menjadi problem yang dialami banyak ibu. Termasuk artis Nagita Slavina, ibu dari Rafathar Malik Ahmad, balita berusia tiga tahun.

"Pernah Rafathar nggak mau makan sayur. Pernah juga dia nggak mau makan apa-apa, maunya minum susu terus," tuturnya saat hadir dalam talkshow kesehatan anak sekaligus peluncuran Susu Curcuma Plus oleh Soho Global Health di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Awalnya, dia sempat panik karena khawatir asupan gizi Rafathar kurang. Namun, berkat konsultasi dengan dokter, sharing pengalaman dengan ibu-ibu lain, dan menambah pengetahuan melalui berbagai bacaan, perempuan yang akrab disapa Gigi itu bisa juga menyelesaikan masalah tersebut.

"Aku akalin, kalau Rafathar lagi nggak suka makan nasi, ganti dengan sumber karbohidrat lain seperti kentang atau roti. Sayuran aku olah, campur dengan daging giling, atau diblender bikin smoothie bareng buah. Alhamdulillah bisa teratasi. Menurutku, kalau menghadapi anak picky eater yang penting kita tetap tenang dan kreatif dalam menyajikan makanan maupun membujuk si anak," tuturnya.

Selain itu, dalam memilih susu untuk Rafathar, Gigi kini mengandalkan susu yang mengandung temulawak.

"Di Rafathar, susu dengan temulawak ini ngefek banget meningkatkan nafsu makannya, jadi membantu banget, termasuk dalam mengatasi saat-saat dia lagi susah makan atau picky eating," sambungnya.

Pada kesempatan sama, dokter spesialis anak Prof dr Rini Sekartini SpA(K) menjelaskan, problem anak picky eating umumnya disebabkan oleh kurangnya variasi makanan anak, anak tidak boleh memilih makanan yang disukai, suasana di rumah tidak menyenangkan, kurang perhatian orangtua, atau contoh yang kurang baik dari orangtua.

"Kalau anak tidak suka sayur, coba perhatikan apakah orangtua sehari-hari sudah gemar mengonsumsi sayur? Karena anak cenderung meniru kebiasaan orang sekitarnya," ujar Rini.

Salah kaprah

Terkait upaya mengatasi picky eating, Rini menyebut banyak orangtua salah kaprah menyiasatinya dengan mengandalkan susu sebagai solusi. Anak diberi banyak susu dengan harapan kebutuhan gizinya tercukupi. Padahal, tegas Rini, susu sebetulnya hanya pelengkap.
Ia menjelaskan, susu memang kaya gizi, tapi kandungan zat besi di dalamnya biasanya kurang optimal. Dalam 1.000 cc susu hanya mengandung 0,5-2 mg zat besi. Sedangkan bayi satu tahun saja butuh 6 gram zat besi setiap hari.

"Itulah mengapa sebaiknya orang tua tidak hanya mengandalkan susu untuk memenuhi kecukupan gizi anak. Pada usia balita, kebutuhan susu sekitar 500-600 cc per hari. Selebihnya, anak harus makan," tegas guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Dalam menghadapi anak picky eater, lanjutnya, orangtua harus tetap berusaha memenuhi kebutuhan gizi anak. Yakni, anak harus mengasup sumber karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral.

"Di sini lah kreativitas orangtua diperlukan. Ganti jenis makanan yang tidak disukai anak dengan jenis lainnya. Misalnya, anak tidak suka ayam, biarkan dulu. Coba beri dia sumber protein lainnya seperti daging, ikan, atau telur. Tapi usaha memberikan menu olahan ayam tetap harus dilakukan pelan-pelan. Demikian juga kalu anak lagi nggak suka nasi, beri beri sumber karbohidrat lain misalnya kentang. Yang penting, menu makan anak harus mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral," papar Rini.

Pada kesempatan sama, psikolog anak, Tari Sanjojo, menyarankan orangtua untuk tidak panik menghadapi anak picky eater, namun juga tidak boleh menganggapnya sepele. Sebab, bila tidak diatasi dengan tepat dapat menyebabkan anak menjadi malas makan dan pada kelanjutannya menyebabkan anak menjadi cepat lesu, tidak bersemangat, kurang konsentrasi, bahkan sakit.

"Yang terpenting, orangtua harus sabar, tekun, dan kreatif dalam mengolah dan menyajikan menu bervariasi serta menciptakan suasana menyenangkan saat makan. Penting juga bagi orangtua untuk menerapkan pola makan sehat agar bisa dicontoh anak," sarannya.

Langkah lain yang bisa membantu mengatasi picky eater ialah meningkatkan nafsu makan anak. Misalnya, menggunakan suplemen atau susu berkandungan temulawak, salah satu bahan herbal asli Indonesia yang sejak lama digunakan untuk meningkatkan nafsu makan.

"Soho Global Health telah melakukan uji epigenetic untuk melihat dan menggali potensi-potensi temulawak. Untuk dapat mengambil kebaikan temulawak dalam hal mengatasi picky eate, inovasi terhadap bentuk dan cara penyajian maupun rasa perlu untuk dilakukan. Hal tersebut yang dilakukan oleh Soho Global Health. Salah satunya adalah pada Susu Curcuma Plus yang mengombinasikan ekstrak temulawak dengan nutrisi susu," ujar Vice President Research & Development, Regulatory & Medical Affairs Soho Global Health, Raphael Aswin Susilo.

Vice President Marketing Soho Global Health, Sylvia A Rizal, menambahkan, susu Curcuma Plus hadir bukan sebagai pengganti makanan, namun membantu agar anak tetap makan lahap dengan ragam makanan yang bergizi.

"Diharapkan ketika anak makan bergizi seimbang, kebutuhan gizi hariannya akan terpenuhi dan dapat mendukung maksimalnya pertumbuhan dan perkembangan anak," tegas Sylvia. (OL-1)

BERITA TERKAIT