Pesona 'Dunia Biru' Raja Ampat


Penulis: Ferdian Ananda Majni - 05 November 2018, 18:32 WIB
dok.Kemenpar
dok.Kemenpar

Tak kalah pamor dengan Bali, Kepulauan Raja Ampat kian memesona, memikat siapa saja yang ingin menikmati empat gugusan pulau yang berdekatan, di barat bagian Kepala Vogelkoop atau burung Pulau Papua tersebut. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Indonesia. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan biota alam lautnya. Buat kalian yang ingin menikmati suasana berbeda dari Raja Ampat, jangan lewatkan momentum Festival Bahari Raja Amat yang biasanya digelar pada medio Oktober.

Pada Oktober tahun ini, festival dihelat dengan konsep sail trip dan live on board a la nomadic tourism. Konsep live on board digelar untuk menguatkan kesan festival. Yang digunakan ialah kapal Sangiang milik PT Pelni. Konsep trip via lautan ini baru kali pertama. Pada pelaksanaan sebelumnya, festival terfokus di satu tempat. Karena seluruh trip mengunakan kapal, destinasi-destinasi top di Raja Ampat bisa dinikmati. Begitu juga dengan budaya dan kekayaan alamnya.

Kapal Sangiang berangkat dari Pelabuhan Sorong Besar yang berjarak sekitar 10 menit dari Bandara Dominique Edward Osok, Sorong. Kapal Sangiang kemudian membawa seluruh wisatawan menuju Waisai dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Keseluruhan perjalanan akan memakan waktu 5 hari 4 malam. Sail trip Festival Bahari Raja Ampat yang memakan waktu 5 hari 4 malam ini menyambangi destinasi-destinasi terbaik. Ada Waisai, Piaynemo, Misool, dan beberapa destinasi lainnya. Selain itu, ada juga Ritual Buka Sasi Laut --ritual meminta izin dan syukur atas apa yang telah diberikan ke masyarakat-- dan Exploring Kofiau.

Dengan segala pesonanya, Raja Ampat sudah selayaknya menjadi destinasi dunia. So, jangan pernah melewatkan kesempatan ke Raja Ampat. Karena, inilah salah satu destinasi terbaik di Indonesia yang reputasinya sudah mendunia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, menyambut baik terobosan yang diterapkan di Festival Bahari Raja Ampat tahun ini. “Terobosan bagus karena kesan baharinya semakin kuat. Intinya, berikan sebuah penawaran buat wisatawan. Penawaran yang sulit untuk mereka tolak. Raja Ampat memiliki itu. Tinggal bagaimana mengemas paket-paket wisatanya untuk menarik wisatawan,” jelasnya seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Media Indonesia, baru-baru ini.

Jo suba!

Pelaksanaan Festival Pesona Bahari Raja Ampat sendiri patut diacungi dua jempol. Teriakan jo suba!' langsung menyambut wisatawan yang turun dari KM Sangiang. Jo suba ialah bahasa Papua yang berarti selamat datang. Bertempat di Pantai Waisai Torang Cinta (WTC), Raja Ampat, Kamis (18/10), festival yang mempersembahkan beragam budaya setempat itu dibuka Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty.

Setelah itu, Tarian Mansorada --tarian penyambutan tamu-- berlangsung. Atraksinya, memainkan alat musik tradisional tambur. Ketukan alat musik ini mengiringi gerakan penari. Puncaknya, perwakilan wisatawan diberikan topi tradisional. Setelah itu, wisatawan menginjak air yang ada di baskom. Maknanya agar wisatawan tersebut betah, selalu aman, selama di Raja Ampat.

Atraksi budaya kembali dihadirkan di Pantai WTC. Kali ini aksi ditampilkan anak-anak binaan sanggar Tari Mbilin Kayam, Waisai, Raja Ampat. Dengan alat musik tambur, mereka menyambut para tamu undangan. Selain itu, mereka juga menampilkan tari kreasi. Nuansa budaya semakin kental dengan tampilnya ritual Sasi, untuk hutan dan laut, yang dibawakan Suku Asmat asal Misool.

Puncaknya ialah penampilan penyanyi Edo Kondologit. Penyanyi yang pernah ambil bagian di Asia Bagus dan Indonesia Idol itu bahkan mengajak para tamu undangan untuk menyanyi bersama. “Hitam kulit, keriting rambut aku Papua. Tapi, karena Papua milik semua, kita ubah liriknya ya. Jadi hitam putih, keriting lurus,” ujar Edo seraya berdendang. (Fer/M-2)

BERITA TERKAIT