Gigi Berlubang Bisa Sebabkan Penyakit Jantung


Penulis: Indriyani Astuti - 04 November 2018, 18:30 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KESEHATAN gigi dan gusi  berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah dan jantung. Gigi yang berlubang dan gusi tidak sehat, dapat memicu penyakit lain diantaranya penyakit kardiovaskular hingga serangan jantung.  

Professor Anton Rahardjo dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia menjelaskan hal itu dibuktikan oleh sejumlah penelitian pada jurnal internasional kedokteran gigi disebutkan ada hubungan antara peradangan jaringan pendukung gigi (periodontitis) dengan penyakit jantung. Pasien yang menderita periodontitis, juga memiliki mediator radang yang ada pada penyakit jantung.

Penelitian lainnya, pada Forum Ilmiah Periodontist Eropa beberapa tahun lalu menyebutkan bahwa bakteri Porphyromonas gingivalis dapat merangsang produksi sitokin. Sitokin menimbulkan penyumbatan pembuluh darah yang berpengaruh ke jantung.

"Infeksi gusi akan meningkatkan reaksi C-reactive proteinnya meningkat dan memengaruhi penyempitan pembuluh darah. Jadi ada penumpukan plak di pembuluh darah," terang Prof Anton seusai menghadiri peluncuran Riset Kesehatan Dasar di Kementerian Kesehatan, pada Jumat (2/11) lalu.

Menurut Prof Anton, untuk meningkatkan kesehatan gigi di masyarakat diperlukan sosialisasi mengenai pentingnya menyikat gigi sejak dini menggunakan pasta gigi berfloride dan rutin melakukan pemeriksaan gigi ke dokter minimal enam bulan sekali.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan, kondisi kesehatan gigi masyarakat Indonesia cenderung tidak baik. Dari hasil survei kesehatan yang melibatkan 2132 dokter gigi itu didapat, 57,6% penduduk Indonesia mengakui mengalami masalah gigi dan mulut dan hanya 10,2% yang mendapat penanganan medis gigi.

Prevalensi gigi berlubang pada anak usia dini juga sangat tinggi yakni 93%, artinya hanya 7% anak Indonesia yang bebas dari karies gigi. Jumlah itu masih jauh dari target Badan Organisasi Dunia (WHO)  yang menginginkan 50% anak usia 5-6 tahun bebas dari karies gigi. Adapun rata-rata karies gigi pada anak usia 5-6 tahun sebanyak 8 gigi ataupun lebih.

Prof Anton mengatakan, gangguan pada gigi susu akan mempengaruhi tumbuh kembang anak-anak pada masa mendatang karena asupan nutrisi mereka terganggu. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mengajarkan cara memelihara kesehatan gigi dan mulut sejak usia dini untuk mencegah karies.

"Kaitannya ada program pemerintah usia 12 tahun bebas karies. Ini pekerjaan berat untuk dokter gigi seluruh Indonesia. Data Riskesdas akan digunakan untuk membuat program kesehatan gigi di komunitas harus ditingkatkan," ujarnya.

Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD hingga sekolah dasar, terang Prof Anton, menjadi usia ideal mengedukasi anak-anak menjaga kesehatan gigi sebagai bagian dari program pencegahan.

"Harus mulai diajarkan sikat gigi karena floride penting memperhankan gigi terhadap asam. Kalau ada gula dan bakteri dalam mulut, mulut menjadi asam. Itu merusak gigi layaknya besi berkarat," tukasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT