Dua Tempat Berbeda


Penulis: Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia - 04 November 2018, 06:40 WIB
DOK PRIBADI
DOK PRIBADI

KALANGAN jurnalistik kembali membenturkan logika dalam deskripsi berita. Gaya bahasa yang menjadi ragam itu selalu hadir di depan pembaca. Karakter ini cenderung lama dan sulit diubah. Tak jarang masyarakat pembaca menirukan tingkah pola kata yang melewah. Salah satunya ialah 'dua tempat berbeda'.

Rupanya gabungan kata 'dua tempat yang berbeda' ini sudah dipakai dalam ukuran waktu yang lama. Media cetak dan elektronik menjadi saluran penyebarannya. Hingga kini ribuan tulisan memuat gabungan kata yang disebut frasa itu. Sekadar contoh, saya hadirkan beberapa di antaranya: 'Mayat Pasutri

Ditemukan di Dua Tempat Berbeda' (Kompas.com) dan 'Kisruh Partai Hanura, Dua Kubu Rapat di Dua Tempat Berbeda' (Cnnindonesia.com)'.

Amatilah dua contoh di atas. Jika persepsi kita sama, tentu saja Anda akan menemukan kesalahan itu. Gabungan kata dua (tempat) dan berbeda menunjukkan kemubaziran. Sebagai pertanyaan, bukankah dua tempat itu pasti berbeda, kan? Tentu tidak mungkin dikatakan dua tempat bila Anda berapa pada lokasi yang sama. Jadi, dengan menyebut dua tempat, pasti secara lokatif merujuk pada lokasi yang berbeda. Begitu pula bila yang dimaksud berbeda, pastilah bukan satu tempat, tetapi bisa dua, tiga, dan seterusnya.

Untuk penguat logika, Anda bisa memahami kalimat 'Saya pergi ke toko yang berbeda'. Dengan cepat, pesan kalimat itu dapat kita tangkap: bahwa si agentif saya pergi tidak hanya ke satu toko, tetapi bisa (pergi) ke dua, tiga, atau ke banyak toko. Kalau saja kalimat itu menjadi 'Saya pergi ke toko yang berbeda, yakni toko A dan B', tentulah lebih mudah lagi dipahami bahwa si agentif saya pergi hanya ke dua toko, tidak tiga, empat, atau banyak toko.

Dari pemaknaan di atas, sebenarnya penulis berita bisa saja berhemat kata dengan hanya merangkai 'terjadi di dua tempat' atau 'terjadi di tempat berbeda'. Dengan seperti ini, tidak lebih dan tidak kurang. Cukup!

Bentuk redundansi seperti ini sudah terlalu sering terjadi. Seakan lepas dan tidak terkendali. Terkadang hilang karena sering ditentang, tetapi datang kembali dengan berani. Gabungan kata 'naik ke atas', 'turun ke bawah', dan 'mundur ke belakang' tentu kesalahan yang sudah terasa basi. Namun, contoh terbarukan bisa seperti 'letakkan buku di atas meja' atau 'masukkan baju ke dalam lemari'.

Lagi-lagi kelompok kata terakhir mengganggu arti. Susunan 'letakkan buku di atas meja' tentu saja salah secara makna. Bukankah fungsi dasar dari meja ialah bagian atasnya? Bila setuju 'iya', Anda tidak akan pernah lagi menuliskan 'di atas meja', tetapi cukup 'di meja'.

Begitu pula dengan 'di dalam lemari'. Karena fungsi utama lemari ialah bagian dalamnya, Anda tidak akan pernah menuliskan lagi 'di dalam lemari', tetapi cukup 'di lemari'. Lebih hemat, kan?

Terakhir. Walaupun tidak dapat dikatakan besar, rasa optimistis saya tetap ada bahwa kemunculan redundansi akan berkurang. Ya, tentu saja dengan sedikit berjuang. Kehadirannya cukuplah menjadi kekeliruan sementara yang akan selalu dihadang sehingga tidak melewah ke mana-mana. Semoga!

BERITA TERKAIT