Kegigihan Jadi Jalan untuk Mendunia


Penulis: Liliek Dharmawan - 02 November 2018, 13:00 WIB
MI/Liliek Dharmawan
MI/Liliek Dharmawan

MENJELANG  sore pada Sabtu (20/9) lalu, rombongan duta besar (dubes) dari 13 negara berkunjung Pusat Batik Raja Mas dan 'Handycraft' Raja Serayu di Maos, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng). 

Satu perempuan dari rombongan para dubes meminta untuk membatik. Seorang dari empat perajin yang sedang membatik mempersilakannya. 

Ia memegang canting untuk mengambil lilin cair dari wajan kecil yang dipanaskan. Satu dua kali, dia  menggoreskan ke kain yang ada di depannya. Dengan bahasa tubuh karena terkendala bahasa, dia menyampaikan terima kasih dan bersalaman dengan perajin batik setempat. 

Rombongan yang dipimpin oleh Dubes Serbia untuk Indonesia, Slobodan Marinkovic cukup terkesima dengan berbagai jenis batik serta kerajinan yang tempat usaha tersebut.

Usaha yang dikelola pasangan suami istri Tonik Sudarmaji dan Euis Rohaini tentu istimewa. Karena menjadi salah satu tempat singgah para dubes dalam rangka Diplomatic Tour to Cilacap. 

"Jelas sangat bahagia, karena ada kunjungan dari belasan dubes. Biasanya, kami yang berkeliling ke negara-negara lain untuk memamerkan produk kami. Tapi ini malah mereka yang datang ke sini," ungkap Tonik saat ditemui Media Indonesia pada Rabu (31/10) lalu.

Tonik menceritakan kalau usaha di Maos mulai dirintis justru ketika dia mengalami kebangkrutan. Sebelumnya, Tonik dan Euis mencoba peruntungan di Bandung. Usaha konveksinya cukup berhasil selama 2003-2005. Bahkan, bisa sampai mengekspor hingga ke Inggris. 

"Baru mulai beranjak maju, tahun 2005 agen ekspor berulah tidak benar. Sehingga uang permodalan yang lebih dari Rp125 juta hilang. Bahkan, saya harus merelakan rumah di Bandung. Mau tidak mau, kami harus pulang. Pilihannya di Maos. Tapi, pulang hanya membawa uang Rp2 juta dan 12 mesin jahit bekas usaha konveksi sewaktu di Bandung," kata Tonik.

Ia bersama isterinya memulai dari nol lagi di tengah tekanan psikologis cukup berat. Bagi warga desa umumnya, orang merantau haruslah sukses, namun nasib buruk malah menimpa mereka. 

"Saya pulang kan dengan kondisi tidak punya apa-apa. Seperti layang-layang yang menukik. Tetapi biarlah apa kata orang-orang. Yang penting, usaha harus dimulai lagi. Tahun 2005pada saat pulang kampung, berbekal mesin jahit yang tersisa, kami memulai usaha konveksi. Langkah awal terasa begitu berat," ujarnya.

Menurut Tonik, sekitar setahun merangkak, muncullah harapan baik setelah ada pesanan jaket dari sebuah dealer sepeda motor. Bahkan, dealer menawarkan sepeda motor dengan bayaran jaket. 

Usaha telah berjalan, tapi kemudian ia bersama istrinya berpikir, ternyata usaha konveksi saingannya cukup banyak, sehingga diperlukan diversifikasi usaha lainnya. 

"Nah, setelah dua tahun berjalan di Maos, kami mendatangi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) di Cilacap untuk menanyakan potensi kerajinan. Dari dinas, kami diminta untuk mengembangkan batik. Karena sebetulnya Maos dulunya merupakan sentra batik, tetapi waktu itu jarang ada orang membatik," ungkapnya.

Tonik mencari para pembatik yang ada di Maos dan menemukan sejumlah perempuan pembatik. Tentu saja, kalau ada yang bekerja, maka butuh modal tambahan. 

"Saya ingat betul, Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap memiliki program pemberdayaan bagi UKM seperti kami. Mereka menyalurkan dana bergulir dan menjadikan kami mitra binaan melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Waktu itu rasanya plong, lega. Kami dibantu dana bergulir. Benar-benar sangat beguna bagi kami yang mulai merangkak usahanya," kata Tonik.

Usaha semakin lancar, Tonik diberi kesempatan untuk mengadakan pameran oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Cilacap untuk pameran di JCC Jakarta pada April 2008. 

"Dari sanalah, usaha kami semakin berkembang. Apalagi dalam pameran itu, kami mampu menjual 200 potong kain dengan rata-rata harga Rp300 ribu hanya dalam waktu tiga hari dari total lima hari pameran. Kami juga digratiskan oleh pengelola yang seharusnya membayar Rp15 juta," tuturnya. 

"Bahkan, kemudian ditawari lagi dua bulan setelahnya untuk pameran lagi. Tahun 2008 menjadi tonggak perkembangan usaha kami. Apalagi setelah itu, Pemkab Cilacap meminta kepada PNS setempat untuk memakai batik Cilacap produksi kami," paparnya.

Sementara, Euis, istri Tonik, mengungkapkan berbagai upaya terus dilakukannya untuk mengembangkan usaha dan terus mengikuti pameran. Kiprah Euis di bidang kewirausahaan diapresiasi oleh pemerintah. Pada 2009, ia terpilih menjadi kampiun pemuda pelopor tingkat nasional.

"Dengan penghargaan itu semakin memicu untuk terus mengembangkan wirausaha yang kami tekuni. Kami juga dipromosikan ke Turki selama tiga pekan. Setelah dari Turki, pada awaktu-waktu berikutnya kami terus berkeliling untuk pameran dan mengenalkan batik dan kerajinan lainnya negara lain. Hampir seluruh negara Eropa pernah saya singgahi, mulai dari Jerman, Spanyol, Inggris, Belanda, Swiss, Italia bahkan sampai Rusia. Juga di negara-negara Asia."

Di setiap negara yang dikunjungi, umumnya karena ada pameran produk. Jadi, sebelum berangkat, dirinya membawa berbagai macam produk batik yang dapat dipamerkan di sana. 

"Kalau sekarang, tidak hanya batik, tetapi juga 'handycraft'. Dalam beberapa waktu terakhir, kami memproduksi 'laundry basket', keranjang anyaman bambu yang dipadu dengan batik, tas, dan lainnya. Seluruhnya 'handmade'," katanya.

Euis juga pernah mendapat kesempatan studi banding dengan mengikuti kursus di Flinders University, Adelaide, Australia, selama enam bulan pada 2015 silam. Di sela-sela ikut pelatihan, Euis menawarkan produk batiknya kepada orang-orang di Australia. 

"Jadi berbagai kesempatan kami manfaatkan benar. Termasuk ajakan-ajakan pameran di luar negeri,"tandasnya.

Kewirausahaan Sosial
Bagi Tonik dan Euis, perjalanan usaha di Maos yang dirintisnya sejak 13 tahun lalu, bukanlah seperti membalikkan tangan. 

"Salah satu yang terus kami lakukan adalah terus berpromosi dan mengembangkan diversifikasi produk. Jika hanya berkutat pada batik, rasanya akan sulit berkembang. Apalagi sebagian besar batik dipasarkan di lokal. Hanya sebagian kecil atau skala retail yang diekspor. Karena itulah, kami mengembangkan produk lainnya yakni kerajian tangan," jelasnya.

Menurut Euis, pengembangan produk 'handmade' ternyata mampu mendapatkan kesempatan untuk pameran di Frankfurt, Jerman. 

"Selama beberapa hari pada Februari 2017, saya berada di Jerman. Produk berupa kerajinan tangan yang mengombinasikan antara anyaman bambu dengan material tekstil dan batik mendapat apresiasi. Usai pameran, produk kami juga dipajang di 'display' Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Jerman," ungkapnya. 

Selain itu, juga ada empat negara lainnya yakni Rusia, Spanyol, Thailand dan Singapura. Khusus di Singapura, hampir setiap ada pameran menjelang Ramadan, Euis berangkat ke sana membawa batik. 

"Konsumennya adalah orang-orang kaya dari Malaysia dan Brunai Darussalam," katanya.

Sementara pada Juli-Agustus lalu, Euis baru saja berkeliling ke Tiongkok atas undangan ASEAN. Ia berkeliling bersama-sama dengan para perajin di negara-negara ASEAN untuk memperkenalkan produk. 

"Di sana, kami menjalin kerja sama dengan Alibaba. Bahkan, kami diberi fasilitas sebagai 'good member' Alibaba untuk memamerkan produk kami. Lumayan lah, karena kalau bayar di 'display' Alibaba tersebut bisa mencapai US$1.500," ujarnya.

Hingga kini, pihaknya juga telah mengekspor sejumlah produk kerajinan ke Arab Saudi, bahkan telah empat kali. Ekspor pertama kali pada Maret 2017 lalu sebanyak satu kontainer dengan nilai Rp100 juta. 

"Kalau sekarang agak naik dikit nilainya, karena ada kenaikan kurs dollar. Barang ekspornya adalah berbagai macam kerajinan, terutama adalah 'laundry basket', produk tas pandan dan lainnya. Kini, kami tengah menjajaki lagi ekspor ke sejumlah negara seperti Australia, Mesir dan Inggris. Mereka tahu, setelah ada 'display' di Alibaba," kata dia

Euis menyebut, dengan Australia proses sudah 80% kesepakatannya. Ia berharap kesepalatan segera rampung, sehingga bisa dieksekusi ekspornya,.

Tonik menyatakan dengan adanya diversifikasi produk, kini unit usahanya ada batik dengan Rajamas dan untuk kerajinan adalah Raja Serayu. Di tempat usaha ini, kata Tonik, pihaknya hanya memiliki karyawan 20 orang, dua di antaranya masih muda dan sekarang tengah kuliah. Sementara kalau mitra kerja, jumlahnya hingga ratusan, terutama yang membuat kerajinan. Ada dua desa di Kecamatan Nusawungu, puluhan warga dari Kecamatan Binangun dan tengah dirintis juga dari Kecamatan Cipari. 

"Warga kami ajak bermitra untuk mengembangkan kerajinan. Sedangkan di Kecamatan Kesugihan, ada 30 pembatik yang kami ajak ikut serta. Kami sengaja tidak membuat perusahaan, kemudian merekrut karyawan. Kami memilih mengembangkan kewirausahaan sosial, sehingga usaha kecil mitra kami juga makin maju," ujarnya.

Tonik menambahkan, Pertamina RU IV  Cilacap telah berkomitmen turut serta untuk mengembangkan para perajin mitra mereka. 

"Beberapa waktu lalu ada kabar baik, kalau Pertamina Cilacap bakal memberikan bantuan dana CSR bagi pengembangan para perajin yang menjadi kitra kami. Terus terang, ini membanggakan, karena kami besar salah satu andilnya juga dari Pertamina. Sampai sekarang kami juga masih menjadi mitra binaan mereka," tandasnya. (OL-3)

BERITA TERKAIT