Deklarasi Bali Disepakati Aklamasi


Penulis: Fathia Nurul Haq - 02 November 2018, 08:56 WIB
MI/Pius Erlangga
MI/Pius Erlangga

SETELAH diskusi yang cukup panjang, The Fourth Intergovernmental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land Based Activities (IGR-4) menghasilkan Deklarasi Bali yang disepakati seluruh anggota forum.

"Dengan diadopsinya Dekla-rasi Bali, kami percaya transformasi global komitmen kami untuk kebaikan sekarang aman dan benar-benar akan menuju pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) 14 dari agenda 2030," ujar Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya pada penutupan IGR-4 di Nusa Dua, Bali, tadi malam.

Sidang pleno yang menjadi puncak acara IGR-4 sempat diundur hingga 4 jam lantaran pembahasan yang alot mengenai substansi dan signifikansi acara lima tahunan itu.

Isi naskah Deklarasi Bali antara lain kesepakatan meningkatkan pengarusutamaan perlindungan ekosistem pesisir dan laut, terutama dari ancaman lingkungan yang disebabkan peningkatan gizi, air limbah, sampah laut, dan mikroplastik.

Selain itu, disepakati untuk meningkatkan pengembangan kapasitas pengetahuan dan berbagi pengetahuan melalui kolaborasi dan kemitraan yang melibatkan pemerintah, swasta, masyarakat sipil, dan para ahli di tingkat regional dan global dalam perlindung-an ekosistem pesisir dan laut dari kegiatan berbasis lahan dan sumber polusi.

Deklarasi Bali yang dibacakan diplomat senior Makarim Wibisono itu akan menjadi arah kebijakan internasional terkait dengan lingkungan, dalam hal ini kemaritiman.

Makarim memuji keberhasilan Menteri Siti memfasilitasi pertemuan tingkat tinggi itu hingga menghasilkan naskah yang bisa dibawa sebagai rekomendasi pada pertemuan United Nation Environment Assembly di Nairobi, Kenya, tahun depan.

"Ini merupakan keberhasilan Ibu Menteri yang bisa mempersatukan beberapa kepentingan. Masalah ini sebetulnya sudah pernah dicoba di Manila, tapi tidak berhasil. Tidak menghasilkan apa-apa. Jadi, semua orang merasakan ada kemajuan dari forum tahun ini, mungkin karena dilaksanakannya juga di Bali," ujar Makarim seusai membacakan deklarasi berisikan lima rekomendasi untuk disahkan menjadi Global Program of Action.

Koordinator GPA-UNEP Habib N El-Habr menyampaikan bahwa aklamasi dalam forum itu merupakan bukti komitmen bersama antarnegara yang besar dan rela menyampingkan ego pribadi masing-masing.

"Saya sangat berterima kasih kepada para pihak sebagai anggota partisipan atas partisipasi, kesabaran, dan pemahaman sehingga kita bisa menghasilkan sesuatu dari forum ini," ucap Habib.

Anutan
Salah satu pembahasan dalam IGR-4 yang cukup menuai dukungan ialah rencana untuk menjadikan Indonesia anutan peningkatan kapasitas untuk mengatasi persoalan sampah. Ide itu muncul dari petinggi UNEP yang sempat mengunjungi Surabaya dan melihat langsung bagaimana pemerintah setempat mengelola sampah.

"Pimpinan dari UNEP dan IGR-4 itu ke Surabaya melihat program di Benowo, program di Jambangan. Ternyata kita tidak hanya ngomong, tapi kita juga melakukan dan diterjemahkan ke dalam aksi-aksi," ungkap Makarim.

Kunjungan itu membuka mata dunia bahwa Indonesia serius menangani sampah domestik. (Drd/Gol/X-10)

BERITA TERKAIT