Coastal Clean Up for Sustainable Seas


Penulis: Puput Mutiara - 01 November 2018, 05:20 WIB
Dok KLHK
Dok KLHK

AS an archipelago, Indonesia has plenty of views of the ocean, but also its litter. Around 50% to 70% of marine litter come from the land, the rest from sea, such as from ships. Indonesia is committed to reduce marine litter by 70% by 2025. This is stated in an action plan to combat waste. One of the actions is the coastal clean up (CCU). For the past three years, the Ministry of Environment and Forestry has organized 28 CCU across the country. This year, in May, CCU was being held simultaneously in seven districts and cities in Bali.

The CCU main event was held in Tanjung Benoa beach, Badung District. Other participating beaches were: Masceti beach in Gianyar Regency, Nyanyi beach in Tabanan Regency, Penuktukan beach in Buleleng Regency, Gilimanuk Bay in Jembrana Regency, Segara Kusamba beach in Klungkung Regency, and Matahari Terbit beach, Biawung beach and Mertasari beach in Denpasar.

Director General of Pollution and Environmental Damage Control at the Ministry of Environment and Forestry (PPKL) MR Karliansyah said that the CCU in Bali was a form of concrete action towards coastal and marine pollution control.

“Bali is one of the national strategic tourist destinations that relies on marine tourism. That is why quality coastal and marine environment is the main prerequisite for its sustainability," Karliansyah said.

Based on a PPKL survey in 2017, it is estimated that Indonesia's waters acted as a landfill for 1,2 million tons of marine litter, with an average of 106,386 gram per square-meter area. The composition of macro-sized marine litter (larger than 2,5 centimeters) was dominated by plastic (31,44%) and wood (29,75%), the rest from most to least were ceramic, rubber, cloth, plastic foam, metal, paper and cardboard boxes. The survey was conducted in 18 districts and cities.

“Badung Regency was one of the places we surveyed. Its marine litter composition was dominated by wood with 64,22% and plastic 13,90%," he added.

The 2018 CCU in Bali covered three areas: along the coastlines, sea surface and underwater. Litter collected from those three areas are then weighed and recorded.

The event was participated by approximately 3.000 people, about half crowded the Tanjung Benoa beach while the rest spread in other locations. Local communities, students, non-governmental organizations, fishers, business owners, military and government officials all participated in the event.

“CCU has become an effective program to raise people's awareness on coastal and marine pollution. Through direct experience, survey and collecting litter with their own hands," explained Karliansyah.

Aside from Bali, CCU was also held in other locations such as the Belitung regency on August 13. About 600 people participated, ranging from students, environment and tourism communities, local government, the general public, as well as bussiness owners. Together they cleaned up Tanjung Kelayang beach and Tanjung Tinggi beach.

Karliansyah officially opened the event together with the governor of Bangka Belitung Islands and Belitung district head. It was ceremoniously marked with the release of sea turtle hatchlings and Belitung’s local bird at the Tanjung Kelayang beach.
On September 25, 2018, a cleanup also took place at Binor beach, Probolinggo district, East Java.

Karliansyah said around 37% of marine litter is plastics that take too long to decompose. Plastic waste is not only a problem for Indonesia but also the world.

The government has set four strategies to realize its commitment to reduce plastic waste: raising stakeholders awareness, enforcing management of terrestrial plastic waste, plastic waste management for coastal and marine areas as well as improving funding mechanism, institutional strengthening, law enforcement, and research and development.

Marine litter monitoring
The Indonesian government also puts other efforts to conserve the sea, such as monitoring marine litter by establishing a framework for waste assessment. It is done by first determining the location of targeted beach, taking samples, analyzing data and writing a report.
The chosen beaches are those with a minimum length of 100 meters or one kilometer if the amount of the waste is insignificant, low to moderate beach slope (15-45 degrees), sandy or gravelly, unobstructed access to sea, easy access for the survey team and that the study would not affect the ecosystem around the beach.

The waste classification is done by recording the coordinate of where the sample was taken via GPS, collecting and filtering the waste (filter is with a pore size of 0,5 centimeters diameter), identification process, and calculating and grouping macro and micro waste.

“This survey method refers to the guideline for marine litter monitoring from the Ministry of Environment and Forestry. It’s taken from UNEP (United Nation Environment Programme) and NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration),” said Karliansyah.

The 20 districts and cities that were studied are: Ambon, Badung (Bali), Balikpapan, East Belitung, Bintan, Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Labuan Bajo, Lampung, Makassar, Manado, Manokwari, Padang, Palu, Pandeglang, Pangkalpinang, Surabaya and Tarakan.
“City with the most waste is Padang, that amounted to 455.870 grams from the total of 553.986,55 grams. Plastic waste dominated in almost all locations with 4.884.553,76 grams,” he said.

According to experts, 80% of marine litter comes from land due to lack of on-land solid waste management facilities it then washed to the sea through rivers. In addition to that there are litters that were brought by boats, unused fishing nets and natural disasters.

Plastic waste that got carried into the sea could kill 100.000 marine mammals and two millions of birds every year. Another threat is microplastic waste that can enter the food chain through marine creatures before being consumed by humans.
“Therefore, let’s make sure we maintain and preserve the sea, which is the wealth of Indonesia,” Karliansyah said. (S4-25)


Coastal Clean Up Menjaga Laut Lestari

INDONESIA sebagai negara kepulauan memperhatikan berbagai sampah di laut. Sekitar 50%-70% sampah tersebut berasal dari daratan. Sisanya dari laut, seperti dari kapal.

Indonesia telah berkomitmen akan mengurangi sampah laut sebesar 70% pada 2025. Ini dinyatakan dalam rencana tindakan memerangi sampah. Salah satu tindakan itu berupa coastal clean up (CCU) atau pembersihan pesisir pantai. Dari 2015 sampai 2018, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan sebanyak 28 CCU di berbagai daerah.

KLHK pada pertengahan tahun ini, tepatnya 11 Mei 2018, melakukan kegiatan CCU secara serentak di Bali. Kegiatan tersebut diselenggarakan di tujuh lokasi kabupaten/kota di Provinsi Bali.

Kegiatan utama CCU dilakukan di Pantai Tanjung Benoa, Kabupaten Badung. Lokasi lain tersebar di Pantai Masceti Kabupaten Gianyar, Pantai Nyanyi Kabupaten Tabanan, Pantai Penuktukan Kabupaten Buleleng, Teluk Gilimanuk Kabupaten Jembrana, Pantai Segara Kusamba Kabupaten Klungkung, dan Pantai Matahari Terbit Pantai Biawung, serta Pantai Mertasari Kota Denpasar.

Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK MR Karliansyah menyatakan kegiatan CCU di Provinsi Bali sebagai aksi nyata kepedulian terhadap pengendalian pencemaran pesisir dan laut dari sampah atau sumber lain.
“Bali merupakan salah satu objek wisata strategis nasional yang ditopang dengan wisata bahari. Karena itu, kualitas lingkungan pesisir dan laut menjadi prasyarat utama untuk berkelanjutan,” ucap Karliansyah.

Berdasarkan survei Ditjen PPKL yang dilakukan di 18 kabupaten/kota pada 2017, diketahui estimasi total sampah laut sekitar 1,2 juta ton dengan rerata timbunan sampah laut sebanyak 106.386 gram/m2. Komposisi sampah laut berukuran makro (>2,5 cm) didominasi plastik (31,44%) dan kayu (29,75%), dan sisanya secara berurutan yaitu kaca dan keramik, karet, kain, busa plastik, logam, kertas, dan kardus. “Kabupaten Badung menjadi salah satu dari kabupaten/kota yang disurvei.

Komposisi sampah lautnya didominasi kayu (64,22%) dan plastik (13,90%),” ungkapnya.

Program CCU 2018 di Bali meliputi bersih-bersih di tiga area yaitu pesisir pantai, perairan laut, dan dasar laut (underwater). Kegiatan dilanjutkan penimbangan sampah laut (marine litter) untuk mengetahui jumlah sampah laut di tiga area tersebut.

Aksi peduli lingkungan itu melibatkan 3.000 orang. Rinciannya, 1.500 orang di Pantai Tanjung Benoa dan masing-masing 250 orang di lokasi lain yang terdiri atas masyarakat sekitar, pelajar dan mahasiswa, komunitas masyarakat/LSM, nelayan, dunia usaha, Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta perwakilan instansi pemerintah daerah, dan unit pelaksana teknis pemerintah pusat di Bali.

“CCU menjadi kegiatan yang efektif untuk meningkatkan kesadaran masyakarat terhadap pencemaran pesisir dan laut. Caranya melalui pengalaman langsung, survei, dan mengambil sampah dan sumber pencemaran lain di pesisir dan pantai secara langsung,” jelas Karliansyah.

Selain Bali, kegiatan CCU berlanjut di sejumlah tempat lain, seperti Kabupaten Belitung, pada 13 Agustus 2018. Sekitar 600 orang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, mulai kalangan pelajar, komunitas lingkungan dan pariwisata, jajaran OTD, masyarakat umum, sampai pelaku usaha bersama-sama membersihkan area Pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi.

Kegiatan itu dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal PPKL KLHK MR Karliansyah didampingi Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Bupati Belitung. Prosesi simbolis ditandai dengan pelepasan tukik dan burung etnik khas Belitung di Pantai Tanjung Kelayang.
Pada 25 September 2018, aksi bersih-bersih berlangsung di Pantai Binor, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, akhir September lalu.

Karliansyah menerangkan sekitar 37% sampah di laut berjenis plastik yang sulit terurai. Persolan sampah plastik itu bahkan bukan hanya dialami perairan laut Indonesia, melainkan dunia.

Terkait dengan pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut, pemerintah Indonesia dalam berbagai forum internasional telah menyatakan komitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut sampai dengan 70% pada 2025.

Aksi untuk mencapai komitmen tersebut dilakukan dengan empat strategi. Hal tersebut terdiri atas peningkatan kesadaran para pemangku kepentingan, pengelolaan sampah plastik teresterial, pengelolaan sampah plastik di pesisir dan laut, serta mekanisme pendanaan, penguatan kelembagaan, penegakan hukum, penelitian dan pengembangan.

Pemantauan sampah laut
Tidak hanya itu, upaya pelestarian laut juga dilakukan melalui pemantauan sampah laut dengan membangun kerangka kerja untuk penilaian sampah. Ini dilakukan mulai dari menentukan lokasi pantai, pengambilan sampel, hingga analisis data dan pelaporan.
Untuk kriteria pemilihan pantai, di antaranya memiliki minimum panjang 100 meter atau jika sampah sedikit membutuhkan panjang pantai 1 km.

Kriteria lain yaitu slope pantai rendah sampai sedang (15-45 derajat), berpasir atau berkerikil, akses ke laut tidak terhalang, mudah diakses oleh tim survei, dan tentu tidak berdampak pada keberadaan binatang di sekitar pantai.

Sementara itu, penentuan dan klasifikasi sampah dilakukan dengan mencatatkan koordinat lokasi pengambilan sampel menggunakan GPS, mengumpulkan dan menyaring sampah dengan diameter saringan berpori 0,5 cm, identifikasi, serta menghitung dan mengelompokkan sampah makro dan mesco.

“Metode survei yang kami gunakan mengacu pada pedoman pemantauan sampah laut dari KLHK. Untuk guidelines, memakai yang sudah disusun oleh UNEP (United Nation Environment Program) dan NOAA,” terang Karliansyah.

Adapun 20 kabupaten/kota yang dijadikan lokasi pengambilan sampel, yaitu Ambon, Badung (Bali), Balikpapan, Belitung Timur, Bintan, Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Labuan Bajo, Lampung, Makassar, Manado, Manokwari, Padang, Palu, Pandeglang, Pangkalpinang, Surabaya, dan Tarakan.

“Kota dengan sampah paling banyak yaitu Padang yang mencapai 455.870 gram dari total 553.986,55 gram. Hampir di seluruh lokasi, jenis sampah didominasi plastik dengan 4.884.553,76 gram,” paparnya.

Menurut para pakar, 80% sampah yang ada di laut berasal dari daratan disebabkan kurangnya layanan pengolahan limbah padat di daratan dan terbawa aliran sungai atau kanal. Sampah tersebut umumnya terbawa kapal, jaring ikan yang tidak terpakai, dan bencana alam.

Sampah plastik yang ikut terbawa ke laut, bahkan, dapat membunuh 100 ribu mamalia laut dan 2 juta burung-burung laut setiap tahun. Bahaya lain juga dapat berdampak pada kesehatan manusia akibat sampah plastik yang masuk ke rantai makanan.

“Karena itu, pastikan kita semua bersama-sama menjaga dan melestarikan laut yang menjadi kekayaan bangsa Indonesia,” pungkas Karliansyah. (S4-25)

 

BERITA TERKAIT