23% Elpiji 3 Kg Salah Sasaran di Jateng


Penulis: Liliek Dharmawan - 31 October 2018, 14:55 WIB
ANTARA
 ANTARA

SEBANYAK 6,8 juta tabung lebih atau 23% elpiji 3 kilogram (kg) di Jawa Tengah (Jateng) salah sasaran pendistribusiannya. Elpiji 3 kg tersebut diduga tersalur ke warga mampu dan warung-warung makan.

Sales Executive (SE) Elpiji Pertamina Jateng-DIY Rayon VII Agung Surya Pranata mengatakan selama setahun ada 6,8 juta tabung lebih elpiji 3 kg yang salah sasaran. 

"Seharusnya gas 3 kg bersubsidi diperuntukkan bagi  warga yang tidak mampu atau pra sejahtera. Tetapi pada kenyataannya, di Jateng ada sekitar 23% tabung yang terdistribusi ke kalangan mampu," kata Agung saat sosialisasi di Purwokerto, Jateng, Rabu (31/10).

Menurut Agung, kalau dirinci, dari 6,8 juta lebih tabung elpiji 3 kg yang salah sasaran tersebut, setiap bulannya ads 570 ribu tabung per bulan atau 22 ribu tabung setiap harinya. Kalau dirata-rata, ada 500 tabung yang salah sasaran di masing-masing kabupaten/kota di Jateng. 

"Perhitungan tersebut didasarkan pada angka realisasi penyaluran elpiji 3 kg di Jateng yang menjangkau 93% jumlah penduduk. Padahal, penduduk di Jateng yang berhak mengonsumsi elpiji 3 kg sebanyak 69,8%, sehingga ada 23% yang salah sasaran," ujarnya.

Menurut Agung, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM tentang Penyediaan dan Pendistribusian LPG serta UU No.20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, pengguna elpiji adalah konsumen rumah tangga dan usaha mikro.

"Jelas kalau berdasarkan aturan itu, maka kalangan mampu atau usaha di atas usaha mikro bukan menjadi konsumen elpiji 3 kg," jelasnya.

 

Baca juga: 

1381 Pemilik Pangkalan Elpiji di Palu Beroperasi Lagi

Polda Lampung Ungkap Penyebab Kelangkaan Elpiji 3 kg

 

Oleh karena itu, Pertamina bersama dinas terkait dan kepolisian akan terus melakukan pengawasan dan sidak terutama ke warung-warung makan. 

"Sejak Agustus lalu, kami bersama pemkab, kepolisian dan Hiswana Migas melakukan monitor ke wilayah-wilayah, terutama warung makan. Ternyata lumayan juga efeknya, karena masih ada warung makan cukup besar yang memakai elpiji 3 kg. Kami ingin memunculkan rasa malu terlebih dahulu dengan melakukan teguran, sehingga mereka beralih mengonsumsi elpiji 12 kg,"kata dia.

Sampai sekarang, lanjut Agung, memang masih bersifat monitor dan teguran saja, tetapi setelah Desember atau mulai 2019 mendatang kemungkinan ada sanksi tegas. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT