Dilema Media dan Kegelapan Sosial


Penulis: Gantyo Koespradono, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta - 31 October 2018, 11:05 WIB

"GAWAT Darurat Hoaks". Itu judul opini saya di rubrik ini beberapa hari lalu. Kabar bohong (hoaks) yang kandungannya fitnah, ujaran kebencian dan karangan menyeramkan, ibarat makanan, menjadi menu sehari-hari masyarakat.

Celakanya, banyak di antara kita yang merasakan nikmat ketika menyantap menu kabar horor itu. Peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air di Pantai Karawang Senin (29/10) tak urung pula diolah sedemikian rupa menjadi hoaks.

Lagi-lagi untuk meyakinkan penggemar hoaks, kabar bohong pun dibumbui dengan kalimat religi, sampai-sampai ada netizen (emak-emak) yang menulis bahwa jatuhnya pesawat Boeing 373 itu sebagai azab dari Tuhan karena manusia telah kualat menggunakan udara sebagai sarana untuk bertransportasi. Soal ini, katanya, tidak diatur dalam kitab suci.

Musibah itu juga dimanfaatkan "politikus busuk" pendukung salah satu calon presiden untuk "berkhotbah".

Memanfaakan "aji mumpung" kecelakaan Lion Air, ia menulis di akun medsosnya seperti ini: "Sejak SBY lengser. Musibah, bencana, terus silih berganti menimpa negeri kita. Mohon doa untuk bisa berubah suasana lebih baik di 2019. Insya Allah, negeri kita kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Atas Ridla Illahi. Aamiin."

Media sosial (medsos) memang telah, sedang dan akan dimanfaatkan habis-habisan oleh produsen dan penggemar hoaks setelah mereka tidak kuasa dan tak berdaya memanfaatkan media massa resmi yang dipagari rambu-rambu, seperti UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, norma-norma dan etika lainnya.

Tak kurang akal, para produsen dan penghobi hoaks kemudian memanfaatkan media online abal-abal untuk menyalurkan pikiran dan tindakan kotornya. Padahal selain tak terdaftar di Dewan Pers, media online itu juga tidak berbadan hukum.

Media abal-abal ini lazimnya muncul saat ada hajatan pemilu kepada daerah (pilkada), pemilu legislatif, dan terutama pemilu presiden (pileg).

Supaya meyakinkan publik, media online abal-abal itu  sengaja dibuat dan diluncurkan menggunakan nama-nama pop (khalayak umum) dan "surgawi" (khalayak khusus) untuk memunculkan kesan bahwa pengasuh atau awak redaksinya adalah orang-orang soleh.

Ironisnya, banyak anggota masyarakat -- maaf terutama yang tak berpendidikan dan tak berpengajaran -- percaya dengan berita-berita recehan yang dimuat di "portal-portal berita" semacam itu dan kemudian menyebarluaskannya tanpa berpikir panjang.

Sayangnya pula, ada anggota masyarakat yang sebenarnya waras dan berpendidikan tinggi, ada yang percaya dengan berita bohong dan bombastis yang dimuat di situs-situs semacam itu.

Beruntung lewat grup-grup What's App (WA), mereka bertanya, "berita ini benar nggak?" dan langsung dijawab "HOAX" oleh mereka yang tahu.

Guna memproduksi hoaks secara sistematis, terstruktur dan masif, jumlah portal abal-abal itu kini tak berbilang. 

Sekadar informasi, di Indonesia saat ini diperkirakan ada 40.000-an portal berita/opini. Bayangkan, dari jumlah itu, yang terverifikasi di Dewan Pers hanya 200-an alias cuma 0,5%!

Selebihnya tentu portal abal-abal. Portal recehan inilah yang belakangan, terutama mendekati pileg dan pilpres, sedang bermesraan dan bercumbu rayu dengan media sosial dan aplikasi pesan WA yang dikelompokkan oleh para ahli komunikasi sebagai dark social.

Jika arus dan penyebaran informasi di era kekinian tersebut digambarkan dalam sebuah lingkaran besar, dark social menempati posisi lebih dari tiga perempat lingkaran.

Di wilayah itulah, berita-berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, fitnah, agitasi, insinuasi dan sejenisnya beredar dan dianggap sebagai kebenaran.

Media sosial menempati porsi kurang dari separuh lingkaran besar, sedangkan media massa berbadan hukum (koran, media online, radio dan televisi) porsinya sangat kecil. Jika diibaratkan dengan tata surya, posisi media massa (pers) mirip Merkurius, planet yang ukurannya paling kecil.

Kita menduga, Facebook, Twitter dan sejenisnya adalah media sosial yang paling banyak digunakan oleh mayarakat dunia dalam melakukan interaksi sosial di dunia maya, termasuk dalam menyebarluaskan berita.

Namun, berdasarkan data yang dirilis Hadium One Social tahun 2016, dugaan itu ternyata keliru. Pasalnya, mayarakat dunia (termasuk di Indonesia tentunya), ternyata lebih senang bermain di wilayah dark social. Aplikasi chatting seperti WA, Line, Messenger Facebook, Telegram dan sejenisnya ternyata dimasukkan dan berada di wilayah ini.

Berbeda dengan media sosial (Facebook, Twitter, Youtube, Instagram) yang terbuka, di wilayah dark social, sesuai dengan istilah yang dipakai, semuanya serba gelap dan sulit dipantau.

Di dunia gelap itulah para penjahat informasi komunikasi menyebarluaskan informasi sesat. Hoaks terus diamplifikasi. Ujung-ujungnya, kita sering menerima pesan di grup-grup WA yang tak jelas asal-usulnya. Bahkan guna meyakinkan anggota grupnya, sebuah tulisan dicopy-paste sedemikian rupa dengan mencantumkan nama seorang tokoh, seolah-olah tokoh itu yang menulis.

Beberapa hari lalu pasca jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, di WA beredar puisi yang disebut atau diklaim ditulis oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Puisinya sangat bagus. Namun, saya sempat meragukan (maaf), apakah benar Sri Mulyani mampu menulis puisi seindah itu?

Keraguan itu saya patahkan dengan logika lain. Ah, jangan-jangan memang Sri Mulyani yang menulis puisi tersebut, sebab ada sejumlah pejabat Kementerian Keuangan di Bangka Belitung yang juga menumpang pesawat nahas tersebut.

Kemarin beredar kabar baru bahwa puisi yang sebelumnya dipercayai ditulis oleh Sri Mulyani ternyata ditulis oleh seorang pemilik akun Facebook bernama Jayaning Hartami.

Kementerian Perindustrian mencatat, saat ini terdapat 24 perusahaan manufaktur komponen produk ponsel dan tablet di dalam negeri. Berdasarkan laporan e-Marketer, pengguna aktif smartphone di Indonesia akan tumbuh dari 55 juta orang pada tahun 2015 menjadi 100 juta orang tahun 2018.

Dengan jumlah tersebut, Indonesia akan menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah China, India, dan Amerika.

Saya pastikan, para pengguna smartphone juga memiliki aplikasi WA dan menggunakannya untuk membagi-bagi informasi. Dengan kata lain, disadari atau tidak, mereka melakukan aktivitas di ruang gelap sosial (dark social).

Mendekati pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden, saya menduga, penjahat informasi (entah dari kubu mana) akan semakin bergentayangan menyebarluaskan hoaks, agitasi dan insiniuasi berbungkus agama.

Semoga aparat terkait (Kepolisian, Kementerian Komunikasi dan Informasi) siap mengantisipasi berbagai kemungkinan yang sudah menggejala dan telah terjadi.

Ini sekaligus tantangan bagi media massa yang telah terverifikasi di Dewan Pers agar tidak larut terbawa arus menuju ke wilayah sosial yang serba gelap, sehingga menjadi sebuah dilema tak bersolusi.

Halo para awak media, silakan Anda berpikir ulang, dalam situasi seperti itu, masihkah Anda tega menjadikan mereka yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang jelas-jelas mendukung dan memproduksi fakta palsu menjadi nara sumber dan leluasa berceloteh di media yang Anda kelola?

Lalu setelah itu, ucapan mereka disebarluaskan (padahal tidak pantas) oleh para pendukungnya di dunia maya, termasuk di wilayah dark social, hanya karena orang-orang itu terlanjur percaya bahwa media yang Anda kelola adalah media yang memiliki kredibilitas?

Tanpa bermaksud menggurui Anda, ada baiknya kita renungkan nasihat seorang netizen saat kita menggelar Asian Para Games 2018 tempo hari dan di dark social ramai beredar kabar penuh tafsir tentang salah seorang atlet putri yang batal berlaga.

Sang netizen menulis pesan untuk pengelola media seperti ini: "Daripada menulis dengan judul 'Pemain Judo Indonesia ini Didiskualifikasi karena tidak mau Melepaskan Jilbab', mengapa bukan 'Takut Lehernya Tercekik dan Terpelanting, Panitia Terpaksa tidak Mengikutsertakan Atlet Judo Indonesia?'"

Saya aminkan nasihat itu daripada kita terus berada dalam kegelapan sosial.

BERITA TERKAIT