Marine Litter, A Serious Threat


Penulis:  (Fat/S4-25) - 31 October 2018, 05:15 WIB
doc klhk
doc klhk

INDONESIA hosts two international meetings on environment issues this month, the 2018 Our Ocean Conference, held on October 29-30, and the Fourth Intergovernmental Review Meeting (IGR-4), held on October 31 to November 1, in Nusa Dua, Bali. Both meetings highlight marine pollution.

Director for Ocean at the UN Environment Programme (UNEP) Lisa Emelia Svensson said this is a crucial time to solve pressing marine problems, besides on-land pollution issues.

Svensson said pollution pose a serious threat to the oceans which covers more than 70% of the Earth’s surface. Hence, serious attention should have been given to the seas when discussing climate change adaptation and mitigation.

She said it poses a high risk to delay solving the world's marine pollution problems. And the meetings, attended by officials and stakeholders from many countries, should be taken as an opportunity to strengthen cooperation in the elimination of marine waste, she added.
The Ocean Conservancy data states that eight million tons of plastic flow to the oceans every year. Adding to the burden of our already heavily-polluted oceans, with 150 million tons of plastic waste currently floating about, poisoning fishes as it slowly dissolve into microplastic.
Svensson said the role of the governments is pivotal in this urgent situation, and it will need more than one actor to resolve this problem.

GPA-UNEP Coordinator Habib N El-Habr said ministers from many states would deliver their remarks.

He said this momentum could be used as an opportunity to send a message to the world to together find a solution to plastic waste problems.

Indonesia has made plastic diet compulsory, as the material takes too long to decompose and ends up in the oceans for decades. The Ministry of Environment and Forestry stated 31.44 percent of macro-waste found in the oceans is plastic.

“Measurement and analysis of coastal waste showed that the composition of marine macro-waste (bigger than 2.5 centimeters) is dominated by plastic (31,44%) and wood (29,75%). The rests are glasses, ceramics, rubber, clothes, plastic foams, metals, papers and boxes, among other materials,” Director General of Pollution and Environmental Damage Control at the Ministry of Environment and Forestry MR Karliansyah told Media Indonesia on Saturday (27/10).

The analysis was conducted in 18 districts and cities in 2017 which was validated this year, he continued.

It estimated that the at least 1,2 million tons of marine waste were produced by the respective districts and cities, with the largest composition being plastic waste with 0,49 million tons.

Indonesia has a strong commitment to reduce 70% of their marine plastic waste. To date, there are 25 districts and cities that have pledged their support in reducing 70% of their own marine plastic waste by 2025.

The cities are Banda Aceh, Padang, Surabaya, Pangkalpinang, Bandar Lampung, Palembang, Ambon, Balikpapan, Makassar, Tarakan, Manado, Palu, Banjarmasin, Pandeglang, Indramayu, Belitung Timur, Berau, Thousand Islands, Banyuwangi, Wakatobi, Manokowari, Raja Ampat, Badung (Kuta), West Manggarai, and North Lombok. (Fat/S4-25)


Ancaman Serius dari Sampah Laut

INDONESIA menjadi tuan rumah dua konferensi internasional berkenaan dengan lingkungan pada akhir bulan ini. Our Ocean Conference 2018 digelar pada hari ini, Senin (29/10), dan Selasa (30/10). Lantas dilanjutkan dengan Intergovernmental Review Meeting (IGR-4) pada Rabu (31/10) dan Kamis (1/11).

Keduanya dihelat di kawasan Nusa Dua, Bali. Pencemaran di laut akan menjadi pembahasan yang cukup serius pada dua event tersebut.

“Ini adalah waktu krusial sehingga kita berupaya untuk mendapat kesimpulan atas isu yang juga krusial. Polusi di darat merupakan hal penting, tapi di pencemaran laut tak kalah penting,” ujar Direktur Kelautan United Nation Environmet Program (UNEP) Lisa Emilia Svensson.
Svensson menyoroti luas lautan yang melebihi 70% dari total muka bumi akan menjadi ancaman serius jika terpapar polusi akut. Laut seharusnya menjadi perhatian serius saat membahas penanganan dan mitigasi perubahan iklim.

Menurut Lisa, menunda penyelesaian terhadap krisis laut akibat polusi tergolong hal yang berisiko tinggi. Momentum berkumpulnya negara-negara di Bali itu bagi Svensson harus dimanfaatkan untuk bersinergi mengentaskan sampah laut, juga mengurangi produksi limbah yang paling banyak meracuni laut.

Apalagi, menurut data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas), Indonesia menghasilkan 64 juta metrik ton sampah per tahun. Menurut data Ocean Conservancy, 8 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahun.

Padahal, saat ini diperkirakan terdapat 150 juta ton sampah plastik di lautan yang jika terurai menjadi mikroplastik akan meracuni ikan-ikan.

“Peran pemerintah sangat penting, tapi dalam situasi mendesak seperti ini tidak akan cukup jika hanya satu aktor yang proaktif,” lanjut Svensson.

Koordinator GPA-UNEP Habib N El-Habr mengatakan kendati Direktur Eksekutif UNEP Erik Solheim berhalangan hadir pada acara yang semula dijadwalkan tahun lalu tersebut, menteri-menteri dari berbagai negara akan datang dan memberi sambutan. “Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mengirimkan pesan kepada seluruh dunia untuk selaras menyelesaikan masalah limbah plastik,” ungkap El-Habr.

Diet plastik sejatinya sudah menjadi mandatori di Indonesia saat ini lantaran sifatnya yang sulit terurai bahkan setelah mengapung puluhan tahun di lautan. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkap 31,44% sampah makro di laut berupa plastik. Jumlah ini belum termasuk sampah mikro yang mengancam habitat laut.

“Perhitungan dan analisis sampah pesisir yang telah dilakukan menunjukkan bahwa komposisi sampah laut berukuran makro (>2,5 cm) didominasi plastik (31,44%) dan kayu (29,75%). Sisanya secara berurutan yaitu kaca dan keramik, karet, kain, busa plastik, logam, kertas, dan kardus, serta bahan lain,” papar Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) MR Karliansyah kepada Media Indonesia, Sabtu (27/10).

Karliansyah menjelaskan jumlah itu berasal dari pemantauan yang dilakukan KLHK di 18 kabupaten/kota pada 2017. Ini dilanjutkan dengan validasi hasil pemantauan sampah laut pada tahun ini. Hanya dari 18 kabupaten/kota tersebut, pihaknya mengestimasi sampah di laut mencapai 1,2 juta ton dengan komposisi berupa sampah plastik sebesar 0,49 juta ton.

Indonesia sudah berkomitmen tegas akan mengurangi hingga 70% sampah plastik di laut. Berdasarkan data KLHK, saat ini 25 kabupaten/kota berkomitmen mendukung pengurangan sampah plastik ke laut sebesar 70% pada 2025. Mereka ialah Banda Aceh, Padang, Surabaya, Pangkalpinang, Bandar Lampung, Palembang, Ambon, Balikpapan, Makassar, Tarakan, Manado, Palu, Banjarmasin, Pandeglang, Indramayu, Belitung Timur, Berau, Administrasi Kepulauan Seribu, Banyuwangi, Wakatobi, Manokowari, Raja Ampat, Badung (Kuta), Manggarai Barat, dan Lombok Utara. (Fat/S4-25)

 

BERITA TERKAIT