Menenun Keberdayaan Perempuan di Tanah Datar


Penulis: Yose Hendra - 29 October 2018, 18:30 WIB
MI/Yose Hendra
MI/Yose Hendra

DI tengah alunan gemercik sungai Batang Sinamar, jemari Yusma Atrya, 35, menari-nari di helaian benang yang terkebat di rusuk-rusuk alat tenun gedogan (alat tenun bukan mesin).

Menenun menjadi aktivitas keseharian Yusma di sudut dapur rumahnya, yang terletak di pinggiran sungai Batang Sinamar, di Jorong Pamasihan, Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar.

Jemarinya dengan lincah memainkan perkakas tenun untuk berjalin-jalin benang, dan memberi sentuhan taburan motif yang indah dipandang.

Yusma tidak sendiri, tatkala beberapa tahun terakhir perempuan-perempuan di Pamasihan, lebih banyak menghabiskan waktu bertenun, yang dengan sendirinya mengurangi durasi berkehidupan agraris yang dijalankan selama ini.

Perempuan penenun di Pamasihan tergabung dalam Kelompok Perempuan Keramat Sakti, dengan ketua dijabat oleh Fitri Yunani. Mereka merupakan salah satu kelompok yang diberdayakan lewat program Maybank Women Eco Weavers (MWEW), hasil kerja sama antara Maybank Indonesia bersama Maybank Foundation dengan ASPPUK (Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil).

ASPPUK merupakan organisasi nonpemerintah yang berkonsentrasi pada pemberdayaan perempuan di perusahaan mikro. Di lapangan, para penenun perempuan ini didampingi oleh aktivis Lembaga Pengkajian dan Pendampingan Masyarakat (LP2M), yang merupakan anggota ASPPUK di Sumatra Barat.

"Program ini memberikan pelatihan cara menenun, pembuatan motif tenun, pembuatan pewarna alami, marketing, dan literasi keuangan,” kata Kepala (Head) CSR and Maybank Foundation, Juvensius Judy Ramdojo.

MWEW adalah program pemberdayaan ekonomi yang dirancang untuk mendukung praktik tenun tradisional yang ramah lingkungan di ASEAN. Prosesnya berkelanjutan, dengan tujuan akhirnya menciptakan kemandirian ekonomi dan inklusi keuangan para penenun wanita di seluruh kawasan ASEAN.

"MWEW dilakukan oleh Maybank Indonesia bersama dengan ASEAN Foundation, sedang mengembangkan misi bersama untuk melestarikan warisan budaya ASEAN dan berkontribusi untuk membangun identitas ASEAN," kata pihak Maybank Indonesia.

Tanah Datar dan Sawahlunto di Sumatra Barat adalah 2 dari 4 wilayah pemusatan kegiatan MWEW di Indonesia. Dua lainnya ada di Nusa Tenggara Barat yakni Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Mereka terdiri atas penenun dan perajin tenun. Penenun adalah mereka yang menenun saja. Sementara perajin tenun, adalah mereka yang terlibat dalam proses seperti mewarnai atau mencelup benang, mengggulung benang lungsi (benang yang terletak memanjang atau vertikal pada alat tenun) dan mengebat benang pada alat tenun gedogan.

Untuk desain produk tenun, Maybank Indonesia bekerja sama dengan desainer terkenal seperti Yurita Puji & Merdi Sihombing untuk memfasilitasi 'Eco Design Training'.

Pernah Redup
Ikhwal perempuan di Pamasihan dan sekitarnya bertenun, dimulai oleh Yusma sejak 1999, setelah berguru tiga tahun di Halaban, Kabupaten
Limapuluh Kota.

Yusma telah mengenal dunia tenun saat berumur 13 tahun atau pada 1996 silam. Semua bermula, saat kondisi keuangan keluarga memaksanya untuk tidak bisa melanjutkan sekolah dari SD ke SLTP.

Yusma lalu pergi ke Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, tidak terlalu jauh dari Lintau. Tujuan Yusma adalah bekerja pada usaha tenun rumahan di sana.

"Tiga tahun di sana, kemudian pulang pada 1999. Lalu buka di kampung dengan bermodalkan suri (tempat letak benang) bekas," ungkap Yusma.

Aliran tenun Halaban masih berhulu pada tenun Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar. Hal ini bisa dilihat dari pola dan motif. Maka itu, secara keilmuan, Yusma merupakan lulusan tenun Pandai Sikek, dengan ciri pinggiran bermotifkan pucuak rabuang atau selo-selo, kanyam-kanyam, hingga bungo ketek.

Nun, 1999, Yusma pulang dengan bekal kepandaian menenun. Dia mengaku orang pertama yang bisa menenun di sekitar kampungnya di pedalaman Lintau kampung-kampung yang berada di tepian Sungai Batang Sinamar.

"Saya pertama tenun di sini (Jorong Pamasihan), 1999. Saya ajarkan ke 2 orang uni (sebutan perempuan lebih tua— Rainas dan Jastuti) pas di kampung. Saya juga menebarkan ilmu tenun ke kampung tetangga di Mawar 1 dan Tanjung Lansek. Di Nagari Tanjung Bonai saya yang pertama," terangnya.

Dalam perjalanannya, Yusma sempat jatuh bangun merintis usaha tenun. Saat memulai sendiri di 1999, dia merasakan masa-masa emas. Tenunannya dijual ke induk semang dan toke di Halaban dan Bukittinggi.

Di samping itu, lapangan kerja di kampung terbuka, dakwah bertenun ke kampung sekitar lebih gampang karena ada bukti yang jelas jika tenun bisa menghidupi.

Masa jaya berlangsung sekitar 10 tahun. Setelah gempa Sumbar 2009 hingga 2013, masa suram menghampiri, ketika penenun di Jorong Pamasihan satu per satu berhenti menenun, akibat harga bahan baku semakin tinggi, sementara penjualan stagnan.

Maybank Dorong Tenunan Ramah Lingkungan
Pada 2013, LP2M datang dengan misi pemberdayaan. Para penenun yang tadinya mulai kehilangan semangat menenun, dikumpulkan, diorganisir, dan diberi wawasan baru tentang produk tenun yang diminati pasar berkelas.

Maka, mulailah dirangsang perempuan penenun di Pamasihan dan sekitarnya menggunakan pewarna alam.

Pewarna alam pula yang menjadi alasan kuat Maybank Indonesia dan Maybank Foundation untuk terlibat membantu menguatkan kapasitas perempuan penenun di Sumatra Barat khususnya Tanah Datar dan Sawahlunto. Penggunaan pewarna alam bukan sekedar tentang ramah lingkungan, tapi juga solusi persoalan biaya pembeli bahan yang dikeluhkan penenun selama ini, di samping menjanjikan harga tinggi di pasarnya yang sangat segmentik.

Fatiha Yendreni, perwakilan LP2M untuk program tersebut, mengatakan rancangan produk yang menggunakan zat warna alam memiliki nilai jual atau nilai ekonomi yang tinggi karena memiliki nilai seni dan warna khas, ramah lingkungan sehingga berkesan etnik dan eksklusif.
 
Fatiha mengisahkan, Maybank terlibat dalam sokongan pemakaian pewarna alam kepada kelompok penenun di Lintau, Kabupaten Tanah Datar, sejak Februari 2016. Saat bersamaan, Maybank juga menyentuh penenun di Kota Sawahlunto.

Sebelumnya bank regional terkemuka di Asia Tenggara ini, telah kerja sama dengan LP2M dari 2014 hingga awal 2016, dalam bentuk penyaluran micro finance untuk kelompok penenun perempuan.

Pada masa-masa itu, LP2M melakukan sosialisasi pewarna alam dan percobaan dengan ramuan tumbuhan setempat.

"Ketika Maybank masuk awal 2016, memberi bantuan benang. Ini modal dasar, bikin produk, berputar, dan dijual. Apalagi Maybank juga mendatangkan Widodo Simbolon, seorang pembuat, pemasok, pengajar pasta indigo (Indigofera tinctoria), yang menghasilkan warna biru alami," ungkap Fatiha.

Tanaman Indigofera tinctoria sendiri tumbuh di berbagai bagian Indonesia, tidak terkecuali di Lintau. Tapi para penenun di Pamasihan, Lintau, tidak tahu sebelumnya, jika tanaman yang tumbuh liar di sekitar kampung mereka adalah bahan baku pewarna alam.

Alhasil, semenjak diperkenalkan kegunaan tanaman tersebut, mereka kemudian menanam di pinggir jalan di kampung, dan pekarangan rumah. Di samping itu, bahan baku pewarna alam digunakan pula tanaman yang telah tumbuh di dalam kampung seperti daun ketaping, daun gambir, daun mahoni, kulit batang mahoni, daun karet, sikaduduk, putri malu, jambu bibi, limbah sabut kelapa, limba sabut pinang, aligo vera, daun biji.

Pewarnaan alam ini prosesnya dilakukan secara berkelompok. Pencelupan benang ke pewarna alam dilakukan selama 2 hari, lalu 15 hari dianginkan, agar melekat pada benang.

Dijelaskan Juvensius, penatagunaan lingkungan berfungsi sebagai pembeda utama dalam produksi, karena Maybank mempromosikan barang-barang anyaman tenunan tangan yang ramah lingkungan.

Penggunaan pewarna alami, sebutnya, hasil karya seni tenun tidak hanya unik tetapi juga memiliki komitmen untuk menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan karena para penenun harus berkomitmen menyelamatkan tanaman yang menjadi sumber pewarna alami.

"Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan industri tenun berkelanjutan, sementara secara ekonomi memberdayakan dan menciptakan inklusi keuangan bagi perempuan," ungkapnya.

Mencipta Tenun Khas Lintau
Meski ditempa pola-pola tenunan Pandai Sikek, nyatanya Yusma tidak terkungkung aliran tenun yang sangat terkenal tersebut.

Di kampung halamannya, dia menggoreskan aliran tersendiri, yang bisa disebut tenun bermazhab Lintau. Perbedaan yang sangat tegas. Tenunan Pandai Sikek yang memiliki kecerahan disebabkan memakai bahan sintetis. Sementara tenunan Yusma atau Tanjung Bonai, warnanya tidak terlalu cerah karena memakai pewarna alam 100%.

Untuk produksi atas nama pribadi seperti Yusma, kebutuhan benang bewarna alam didapatkan dari kelompok. Artinya, dia membeli benang, sehingga uangnya masuk khas kelompok.

Untuk motif, jelas Yusma, Pandai Sikek pakai (motif) pinggiran seperti pucuak rabuang, selo-selo, kanyam-kanyam, bungo ketek.

Sementara tenunan yang dia hasilkan, motif di tengah saja. Kalau pun dikasih pinggiran, hanya motif bintang-bintang saja sekitar satu. Lalu soal kehalusan, produksinya yang disebut Tenunan Lintau, terasa lebih lembut.

Motif Segar Berujung Paten
Ketelatenan penenun di Pamasihan dalam memproduksi tenun khas Lintau berbasis pewarna alam mulai menunjukkan hasil berupa paten motif. Yusma salah satu dari pengrajin yang menemukan beberapa motif, dan beberapa di antaranya sudah dipatenkan.

Motif yang dia temukan diberi nama seperti sibak kelambu. Yusma mengaku, dia sendiri yang menemukan. Hal ini dibuktikan dengan piagam hak paten yang didapatkan dari Kementerian Hukum dan HAM 2017.

"Sibak kelambu ini saya buat 2017. Sudah dipatenkan 2017 itu juga. Idenya, pada 2017 mau pergi lomba. Buat bahan baju. Teringat itu. Buat motif, beri namanya sibak kelambu," ungkapnya.
 
Memang motif tersebut mirip kelambu yang disibak, sehingga namanya pun begitu pas. Daya cipta Yusma untuk motif tidak berhenti di sibak kelambu. Di kertas-kertas yang berserakan, dia terus merangkai gambar-gambar untuk motif. Salah satunya mirip bintang-bintang, yang kelak kata Yusma, ingin dikembangkan jadi motif.

Buka Kran Pasar, Meniti Kemakmuran Penenun
Ketekunan dan kesabaran menjadi kunci menghasilkan songket bernilai dan bercita rasa tinggi. Tapi itu percuma, jika tidak paham kultur pasar, dan pasar yang disasar.

Untuk metode bacukia, menghabiskan waktu sebulan hanya untuk menghasilkan songket berukuran panjang 2 meter, lebar 1 meter.

Sementara metode bajarek, menghabiskan waktu 1 bulan untuk songket berukuran yang sama. Maka itu, banderol sehelai kain songket senilai Rp1,5 juta misalnya, dirasa sangat pantas.

Dari harga tersebut, kasarnya pengrajin tenun tradisional seperti Yusma, mendapatkan keuntungan sebesar Rp700 ribu. Namun tidak semua pasar memahami. Paradigma yang ada selama ini, harga kain songket tradisional terlalu mahal.

Usaha pertenunan di Ranah Minang, secara tradisi lazimnya punya alat adalah induk semang, benang induk semang. Tukang tenun menggunakannya dihitung dalam konteks hutang. Setelah produksi, dijual ke induk semang, dengan patokan harga induk semang.

"Mereka tidak tahu sebelumnya, jual berapa kalau membeli itu orang memakai langsung. Mereka hanya tahu menjual ke induk semangnya. Induk semang biasanya mengambil untung 100-200 persen dari upah standarnya," cerita Fatiha.

Yusma mengatakan, masa-masa bertenun sebelum didampingi LP2M, hasilnya dijual ke Halaban dan Bukittinggi, dengan harga dipatok oleh induk semang di sana.

Hal demikian juga terjadi di Sawahlunto, dimana konsentrasi induk semang ada di Silungkang. Oleh sebab itu, Maybank Indonesia dan mitra lokalnya, LP2M, membantu urusan pasar. Maybank maupun LP2M turut membuka kran pasar lewat pameran-pameran.

"Alam ini pasarnya diciptakan, jadi kebanyakan lebih menyadari kain ramah lingkungan negara maju," kata Fatiha.

Fatiha menambahkan, pihaknya mengajarkan kepada penenun untuk menetapkan harga, berkomunikasi dengan konsumen, membikin produk sesuai permintaan pasar.

Harga jual yang ditetapkan bervariasi, mulai dari Rp150.000 hingga Rp2.500.000. Untuk harga Rp150.000, berlaku bagi selendang warna alam 100%.

Pada 2014, dua helai selendang warna alam 100% pernah melenggang ke Australia menjadi buah tangan bagi mitra LP2M di sana. Artinya, LP2M sebagai lembaga pemberdayaan, juga menghargai secara profesional hasil kerja para penenun, dengan membeli langsung ke kelompok tenun.

"Perkembangan usaha kelompok 'Perempuan Keramat Sakti', baru mulai terlihat pada 2016, Hal ini disebabkan baru mulai dipromosikan secara luas pada 2016," beber Fatiha.

Kini, di luar komitmen Maybank Indonesia dan LP2M membantu pemasaran, para perajin satu per satu pun semakin lihai menjalin relasi, seperti dengan Dekranasda, Disperindag. Semua dalam rangka penjualan hasil kerajinan mereka.

Fatiha mengatakan, pihaknya pernah melakukan uji coba untuk penetapan upah, sebagai jalan menuju pemakmuran penenun. Dia  mengalkulasi, jika harga konsumen Rp3 juta, maka upah yang diterima penenun Rp1,2 juta. Pasalnya, ada pengeluaran yang mesti disisihkan seperti modal benang Rp400 ribu, renda Rp250 ribu.

Terpenting, sebut Fatiha, para penenun baik di Tanah Datar maupun di Sawahlunto, tidak lagi gelisah untuk urusan pasar. Mereka juga merasa karya yang dihasilkan dengan durasi waktu panjang, mendapatkan harga yang layak ketimbang sebelum-sebelumnya.

"Pasarnya sebetul semakin terbuka. Kalau tenun warna alam Lintau, sudah terlihat, karena Pemda aktif membawa tamu. Sementara di Sawahlunto, di samping pameran, juga ada pasar songket di Muaro Kalaban yang bisa diisi. Untuk pameran, penenun kita dikutkan," terang Fatiha.

Laporan yang dihimpun Maybank Indonesia, bahkan mencatat, terjadi 225% rata-rata kenaikan pendapatan tahun pertama dari program MWEW ini.

Jika dibawa ke realitas hidup, Yusma mengaku belum mencukupi. Terlebih, ada tiga anak yang masih menjadi tanggung jawabnya bersama suami.

"Paling besar tidak sekolah lagi. Hanya tamat SD. Sekarang dia kadang ikut bertenun. Namun 2 orang sedang masa sekolah, satunya kelas 5 SD dan satulah lagi kelas 6 SD," bebernya.

Meski belum mencerahkan dari sisi penghasilan, Yusma yang didukung penuh suaminya, optimistis terus menerus memproduksi tenunan Lintau. Setidaknya, hasil jerih payah dari tenun sangat membantu meringankan ekonomi keluarga, mengingat sang suami bekerja sebagai buruh tani.

Apalagi, beberapa tahun belakangan, kain tenunan Lintau semakin moncer, seiring dengan sering menjadi tuan rumah studi banding, hingga hasilnya dibeli oleh ibu-ibu pejabat. Efeknya, kain tenunan Lintau dari Tanjung Bonai semakin dikenal luas, dan permintaan selalu ada.

"Pernah kami (kelompok) bikin songket untuk Ibu Gubernur 2016. Songket warna kuning terjual Rp2.600.000. Ibu pejabat sering beli lewat pameran," ungkap Yusma.

Kapasitas pasar yang begitu menganga, idealnya diikuti kuantitas produksi yang terus meningkat. Namun persoalan klasik masih saja membelenggu, yakni permodalan. Pasalnya, jika saja mendapat akses permodalan, maka bisa dilakukan perekrutan pekerja. Perlipatan alat tenun bisa dilakukan. Ruang produksi bisa diluaskan. Sehingga produksi bisa digenjot sedemikian banyak.

"Dibuat terus, takut gak diambil (tidak ada yang beli). Lalu, kalau banyak anggota, dengan apa digaji," kata Yusma.

Hitung-hitungan Yusma, butuh uang sekira Rp.30 juta untuk tambahan 5 palanta (seperangkat alat tenun) serta komponen lainnya. Saat ini, dia bukan tak berani mengakses permodalan, namun kata yang pasnya belum mujur. Beberapa waktu lalu, dia memajukan kredit usaha rakyat (KUR) ke salah satu bank, namun belum diterima.

Peluang penambahan modal bagi Yusma bisa didapatkan dari program MWEW Maybank Indonesia. Komitmen Maybank Indonesia dalam MWEW ini, di samping mengidentifikasi bakat baru dan pengembangan kapasitas, program MWEW juga menyediakan keuangan mikro untuk mendukung pengembangan wanita pengusaha yang berkelanjutan.

Maybank Indonesia, sebut Juvensius, ingin meningkatkan kewirausahaan dan pendapatan para penenun perempuan secara berkelanjutan melalui program microfinancing dengan memberikan dukungan berupa modal awal untuk membentuk koperasi, peralatan program seperti alat tenun dan benang, dan merintis pembangunan pusat belajar tenun.

Melalui program ini, Maybank Indonesia mendukung penenun ramah lingkungan untuk memiliki akses ke pembiayaan mikro untuk kegiatan produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.

"Kami juga mendukung pelatihan pemasaran untuk penenun dan memperkuat koperasi wanita di area lokal program," kata Juvensius.

Hingga saat ini, program ini telah memberikan keuangan mikro kepada 80 penenun baru.

"Melalui pelatihan, pengembangan kapasitas dan pembiayaan mikro, para penenun wanita akan memiliki alat yang memadai untuk membantu keluarga mereka menjadi mandiri secara ekonomi," tandasnya.

MWEW merupakan inisatif jangka panjang 2015-2018 dengan tujuan utama untuk melestarikan tenun sebagai warisan budaya sekaligus meningkatkan pendapatan perempuan penenun hingga 40% dan terciptanya lapangan kerja tenun yang lebih banyak.

"Para perempuan penenun kini terlibat dalam pembuatan anggaran desa dan memiliki wawasan baru tentang gender," terangnya.

Program MWEW di Indonesia yang berlangsung hingga akhir tahun ini, bertujuan untuk mencipta 400 wanita penenun ramah lingkungan di 4 area. Sebanyak 200 perempuan penenun berasal dari Sumatra Barat, selebihnya dari NTB.

Untuk porsi di Sumatra Barat, rinciannya. 200 orang di Tanah Datar yang terbagi dalam 7 kelompok, dan 200 orang di Sawahlunto, dari 6 kelompok. Intervensi yang dilakukan berbasis keberlanjutan. Pelatihan dilakukan selama 240 hari dengan pelatihan dengan 8 topik pelatihan.

Menariknya, pendampingan memang dikhususkan untuk perempuan dengan fokus pada profesi tenun, tapi saat bersamaan suami dari penenun didorong bisa membuat palanta (sepaket alat tenun). Artinya, alat-alat tenun, pengecualian benang, tidak harus dibeli jauh-jauh, cukup ke suami penenun yang mampu membuatnya dengan standar yang pertenunan.

Menarik lagi, kelompok dampingan tahun 1 dan tahun 2 Maybank Indonesia di Nagari Tanjung Bonai, juga menyebarkan ke nagari lain di Kecamatan Lintau Buo Utara. Saat ini, sebut Fatiha, penenun dan perajin tenun di Kecamatan Lintau Buo ada sekitar 250 orang.

Menumbuhkan Perempuan Berkarakter Pemimpin
Persinggungan kelompok tenun 'Perempuan Keramat Sakti', yang dipimpin oleh Fitri Yunani dengan LP2M dan Maybank Indonesia, menumbuhkan
jiwa-jiwa pembelajar, dan perlahan-lahan karakter pemimpin mulai terhampar.

Kesempatan dalam pertemuan rutin bulanan kelompok, selalu diagendakan membahas perkembangan kelompok dan perkembangan usaha tenun masing-masing anggota. Anggota kelompok, sebagaimana dikatakan oleh Fitri Yunani, sejak 2015, mengikuti secara aktif pelatihan tentang pengorganisasian masyarakat, pendidikan orang dewasa, kesetaraan gender, hak kesehatan reproduksi perempuan dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Lalu, anggota kelompok juga secara aktif lomba desain tenun Sumatra Barat 2015.

Dia menambahkan, sederet pameran pun diikuti untuk mempromosikan tenun Lintau sekaligus menjaring pasar. Antara lain, Inacraf 2016 di Jakarta, pameran produk pada Dragon Boat International 2015 di Padang, Pameran Songket International Sawahlunto 2015, Pameran Produk Unggulan Kalimatan-Sumatra 2015, dan Jambore PKK tingkat provinsi 2014-2016.

"Kami juga mengajarkan secara aktif penenun muda atau pemula di Jorong Pamasihan. Lalu menginisiasi berdirinya kelompok perempuan muda di Pamasihan, yang bertujuan sebagai wadah perempuan muda berkumpul dan berdiskusi tentang persoalan dan cita cita mereka," tandas Fitri.

Fitri secara personal termasuk yang menonjol di kalangan penenun Lintau. Dia pernah mengikuti pameran di sejumlah kota seperti Jakarta, Kuala Lumpur (Malaysia). Prestasi serupa juga ditorehkan oleh kelompok tenun di Sawahlunto.

Dikatakan Fatiha, kelompok tenun yang berada di bawah naungan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) Desa Balai Batu Sandaran, Kecamatan Barangin, mendapat juara umum pada Jambore Kota Sawahlunto tahun 2017.

Buah prestasi itu mengantarkan UP2K Desa Balai Batu Sandaran menjadi wakil Sawahlunto mengikuti seleksi ke tingkat Nasional. Hasilnya adalah masuk 5 besar tingkat nasional.

"Salah satu kenapa Kecamatan Barangin mendapat juara umum pada Jambore Kota Sawahlunto yaitu dengan menilai adanya inovasi tenun sintetis ke tenun alam, dan akhirnya bisa mengikuti seleksi ke tingkat Nasional," imbuh Fatiha.

Salah seorang penenun di Sawahlunto, yakni Desmi Yumiati, juga pernah diusulkan jadi perwakilan Sawahlunto pada lomba perempuan inspiratif tingkat Sumbar.

Seabrek kesempatan bersaing dalam pelbagai perlombaan, jelas menjadi kerja nyata, bahwa penenun wanita ini mampu unjuk gigi berkat kegigihan dalam menghasilkan karya tenun yang bermutu.

Kini, semakin berdayanya para perempuan yang berprofesi sebagai penenun di Tanah Datar maupun Sawahlunto, menjadi simpul kekuatan wanita Asia Tenggara di tengah pusaran arus global. (OL-1)

BERITA TERKAIT