Global Cooperation is Top Priority to Save the Ocean


Penulis: (Big/S-1) - 29 October 2018, 05:35 WIB
MI/BINTANG KRISANTI
MI/BINTANG KRISANTI

MICROPLASTIC waste is just one issue from a long list of problems that threaten the marine environment. From the studies done by the International Atomic Energy Agency (IAEA), it is apparent that the world is facing other global marine problems, including ocean acidification and biotoxins from harmful algal bloom (HABs).

Both are not new issues, but getting increasingly serious as anthropogenic pollution (caused or influenced by human) increases. Ocean acidification occurs due to the rise of carbon dioxide emissions. While HABs generally caused by pollutants in the form of phosphate and nitrogen from chemical fertilizer waste that get into the waters and release biotoxins.

An algae bloom is a rapid increase in the population of algae in a marine or freshwater environment that can cause fish kills and can expose people who consume marine organism (that contains biotoxin) to danger.

"The bloom used to persist 2 - 3 weeks, but now the blooms typically 3 - 4 months. We are talking about billions of dollars at stake because of the fish dying from HABs," explained Marie-Yasmine Dechraoui Bottein, Research Scientist of the Radioecology Lab, Friday (19/10).

The global community should not feel discouraged by this grim fact, she said, but they should try to solve the problem together using science, she said.

“I like to use the metaphor of a wrist watch. It is complex, full of cogs, springs. The ecosystem is like that, it is completely interrelated. The more you understand the system, the more you can manage your environment,” IAEA Environment Laboratories Director David Osborn said.

At the IAEA Environment Laboratories,member states receive support to address their environmental problems with the help of nuclear and isotopic techniques. The IAEA Environment Laboratories also helps countries to advance their individual or collaborative research, and has a dedicated project to address ocean acidification issues called the Ocean Acidification International Coordination Centre or OA-ICC.

Under this center, member states can send their scientists to participate in various trainings. Trainings and research are done not only at the IAEA’s Environment Laboratories but also in representative countries. Through this collaboration, countries can share new knowledge.

Donors Support
The United States of America, is the largest contributor to the IAEA, totaling 25 percent of the whole agency's regular budget. Last year, the U.S. also donated US$433,000 to support OA-ICC’s research and coordination.

"At the upcoming Our Ocean Conference in Bali, US plan to announce that we will be doubling the contribution to the Ocean Acidification International Coordination Centre to almost US$ 840.000. And also US$190.000 for nuclear application on tackle marine plastics and US$310.000 for seafood safety projectt.

The total just to IEA environment lab is nearly US$1,3 million," said Nicole Shampaine, charge d'affaires a.i., US Mission to International Organizations in Vienna via phone interview. Separately, head of the Department of Nuclear Sciences and Applications at the IAEA Aldo Malavasi expressed his appreciation for Indonesia’s involvement in the IAEA. Indonesia have become one of the collaborative centers for agriculture and animal husbandry and had hosted training related to the issue. (Big/S-1)

 

Urgensi Kerjasama untuk Selamatkan Laut

 

MIKROPLASTIK nyatanya hanya satu dari sederet permasalahan yang mengancam sektor kelautan. Dalam kunjungan keempat laboratorium yang ada di Laboratorium Lingkungan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) itu terlihat bahwa permasalahan laut global lainnya adalah pengasaman laut dan biotoksin.

Keduanya memang bukanlah isu baru namun semakin urgen seiring dengan meningkatnya pencemaran antropogenik (disebabkan manusia). Pengasaman laut (ocean acidification) terjadi akibat meningkatnya emisi karbondioksida. Sementara, biotoksin terjadi karena ledakan alga yang umumnya disebabkan masuknya polutan berupa unsur pospat dan nitrogen dari limbah pupuk kimia, ke perairan.

Ledakan alga bukan hanya dapat menyebabkan kematian massal ikan (kehabisan oksigen) namun juga dapat membahayakan manusia yang memakan organisme laut yang mengandung biotoksin.

"Sekarang ini ledakan alga dapat terjadi lebih lama. Jika biasanya hanya 2 - 3 minggu kini bisa menjadi 3 - 4 bulan. Itu artinya miliaran dolar hilang karena ikan-ikan mati," jelas Marie-Yasmine Dechraoui Bottein, peneliti di Lab Radioekologi, Jumat (19/10).

Meski terdengar mengerikan berbagai permasalahan tersebut tidak semestinya membawa pesimisme atau kengerian belaka. Melainkan negara-negara didorong untuk memanfaatkan sains untuk dapat membangun kapabilitas dalam menghadapi isu-isu itu.

"Saya suka menerangkan berbagai masalah lingkungan global dengan metafora jam tangan. Komponen jam tangan sangat rumit dan tidak akan bisa bekerja jika diambil salah satunya. Begitu juga dengan masalah lingkungan. Kamu baru akan mengerti dengan baik koneksinya dengan jika menggunakan sains. Dengan sains juga kamu akan bisa membangun kapabilitas untuk menghadapinya," tutur David Osborn, Direktur Laboratorium Lingkungan IAEA.

Osborn melanjutkan, peran sains sangat penting karena memungkinkan negara-negara untuk memiliki pengetahuan yang dalam tentang dampak berbagai masalah lingkungan. Dengan begitu barulah negara-negara dapat membuat kebijakan yang mereka butuhkan sendiri. Di lembaganya, tentu saja, 143 negara anggota IAEA difasilitasi untuk mengatasi permasalahan lingkungan masing-masing dengan teknologi nuklir.

Salah satu teknik yang banyak digunakan, baik dalam penelitian biotoksi maupun pengasaman laut adalah isotop. Tidak hanya melakukan riset sendiri, negara-negara anggota juga difasilitasi untuk saling berkerjasama. Dalam isu pengasaman laut, IAEA memiliki Ocean Acidification International Coordination Centre (OA-ICC). Lewat wadah itu negara-negara dapat menyertakan para ilmuwannya untuk mengikuti berbagai pelatihan terkait isu yang dimaksud. Pelatihan tidak hanya dilakukan di laboratorium IAEA namun juga di negara anggota. Dengan kolaborasi itu pula maka para negara anggota bukan sekadar berperan menerima melainkan juga sebagai pemberi ilmu bagi negara lainnya.

Dukungan negara donor
Di sisi, lain Osborn juga mengakui jika untuk menjalankan perannya, LIAEA sangat membutuhkan partisipasi negara donor. Saat ini Amerika Serikat menjadi yang menjadi negara donor tunggal terbesar dengan sumbangan 25% dari budget reguler badan tersebut. Sementara OA-ICC, tahun lalu negara Paman Sam menyumbang US$433 ribu untuk dukungan riset dan koordinasi.

"Nanti dalam Our Ocean Conference di Bali juga akan diumumkan bahwa Amerika Serikat akan memberi sumbangan lagi untuk Laboratorium Lingkungan IAEA yang totalnya mencapai US$ 1,3 juta," tutur Nicole Shampaine, charge d'affaires a.i., US Mission to International Organizations in Vienna melalui sambungan telepon.

Sementara itu, Kepala Departemen Ilmu Pengetahuan dan Aplikasi Nuklir IAEA Aldo Malavasi memberikan apresiasi atas keterlibatan Indonesia selama ini di IAEA. Indonesia telah menjadi salah satu pusat kolaborasi untuk bidang agriklutur dan peternakan. Beberapa pelatihan terkait bidang tersebut telah diselenggarakan di Tanah Air.

"So that our help to the member states can be productive, first is you (the member states) have to have solid organization in the country. Number two, you need to have strong scientific community. Indonesia has both. So i would say Indonesia is in the right track in terms of science. And with Indonesia, i'm sure we can get something back. We have technical cooperation project. We are using BATAN to train people," said Aldo. (Big/S-1)

BERITA TERKAIT