Bicara dengan Orang Baru Itu Seru!


Penulis: Fathia Nurul Haq - 25 October 2018, 23:28 WIB
Thinkstock
Thinkstock

Ada satu peraturan tak tertulis di Ubud, Bali, yang cukup unik. Berbincanglah pada orang asing di sekitar kita. Coba saja, meski mungkin terkendala bahasa.

"Cobalah untuk membuka pembicaraan pada yang belum kita kenal, dari situ wawasan akan terbuka," ujar Janet De Neefe, salah satu pengusaha kafe dan restoran di Ubud, saat membuka acara tahunan Ubud Writers and Readers Festival, Rabu (24/10).

De Neefe ialah salah satu turis Australia yang terpincut daya tarik dataran tinggi di Gianyar, Bali itu. Ia pun menikahi pria setempat bernama Ketut Suardana dan memulai usaha restoran dan guesthouse di Ubud.

Bagi De Neefe, tidak ada yang lebih menarik dari atmosfer hangat pelancong dan warga lokal yang saling terbuka di kafe-kafe Ubud. Dari sanalah berbagai ide kreatif kepenulisan maupun ketertarikan pada berbagai isu mencuat. Interaksi itu juga bisa mengarah kepada hal positif, seperti keinginan untuk belajar bahasa asing dari para turis, atau ide membuka bisnis baru.

Di Ubud, lumrah untuk bertemu ibu rumah tangga biasa yang bicara pada suami dan anaknya dalam bahasa setempat, tapi mampu meladeni sapaan para turis dalam bahasa Prancis, bahasa Mandarin, atau bahasa Rusia. Asimilasi budaya terjadi dengan intensitas tinggi, di balik kepulan asap kopi dan makanan vegetarian yang mudah ditemui. Tidak ada curiga ataupun prasangka. Lawan bicara kita akan menyahut dengan antusiasme murni yang menyenangkan.

De Neefe, yang sudah menetap 30 tahun di Ubud itu, mampu menggagas dua event tahunan kelas internasional, yakni Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) dan Ubud Food Festival (UFF). Ia tentu tak akan dapat melakukannya tanpa koneksi luas, yang dimulai dengan membuka pembicaraan dengan orang-orang baru.

Dengan cara yang sama, Reza, perempuan yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial, sengaja hadir di berbagai kafe di Ubud demi mengampanyekan programnya, menghapus stigma bagi pengidap gangguan jiwa. Ia memperkenalkan rumah singgah bagi Orang dengan Schizofrenia di Denpasar dan memberdayakan mereka hingga tetap bisa beraktivitas normal. Metodenya sama saja dengan ribuan pelancong yang setiap hari memadati Ubud, yakni dengan memasang senyum manis dan sikap terbuka sembari memulai pembicaraan.

Salah satu turis yang diajak bercengkrama oleh Reza bernama Hannah. Perempuan Inggris yang hobi menyambangi negara-negara Asia Tenggara itu menyimak Reza dengan takjub. "Bagaimana seorang dengan Schizofrenia bisa melakukannya, membuka tempat cuci mobil dan berjualan makanan? Kami bahkan tidak akan sadar siapa yang menjualnya. Itu ide yang sangat brilian," ucap Hannah. Hannah sendiri ialah penulis berdarah Inggris yang sudah berminggu-minggu memperpanjang masa tinggal di Indonesia. Ia begitu bersemangat bertukar cerita dengan orang-orang baru yang ditemuinya untuk dituturkan kembali pada koleganya di rumah.

Tidak ada yang tahu siapa orang yang akan duduk di seberang meja saat kita sibuk menyeruput kopi, atau cerita yang mereka miliki. Satu hal yang pasti, di Ubud, orang asing di sebelahmu dapat mengejutkan duniamu. (M-2)

BERITA TERKAIT