Tiga Penyakit Pemicu Utama Gagal Ginjal


Penulis:  (Ind/H-2) - 24 October 2018, 08:55 WIB
DOK. KLINIK HEMODIALISIS RENAL TEAM PONDOK INDAH
DOK. KLINIK HEMODIALISIS RENAL TEAM PONDOK INDAH

JUMLAH pasien gagal ginjal di Indonesia semakin bertambah. Pasien yang membutuhkan hemodialisis (cuci darah) pun meningkat dari tahun ke tahun.

Pada 2007 jumlah pasien hemodialisis ada 1.885 orang. Pada 2016 jumlah itu meningkat menjadi 52.835.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam dr Okki Ramadian SpPD, ada tiga faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gagal ginjal. "Yakni hipertensi, diabetes, dan obesitas. Selain itu, kebiasaan merokok dan minum-minuman alkohol juga menjadi variabel yang bisa menyebabkan gagal ginjal," ujar Okki pada peresmian Klinik Hemodialisis Renal Team Pondok Indah, Jakarta, kemarin.

Namun, seseorang dengan penyakit-penyakit tersebut tidak selalu berujung pada gagal ginjal jika penyakitnya diobati, seperti pada pasien diabetes, kadar gulanya dijaga tetap di kisaran normal, pun demikian pasien hipertensi harus diterapi agar tekanan darahnya terkontrol sehingga gagal ginjal bisa dihindari.

"Fungsi ginjal tidak menurun dengan cepat, tetapi bertahap," terangnya.

Ia menambahkan, seseorang digolongkan gagal ginjal stadium akhir apabila fungsi ginjalnya di bawah 15%. Pada kondisi itu, pasien harus melakukan hemodialisis. Frekuensi yang dianjurkan ialah tiga kali per minggu.

Kualitas air

Pada kesempatan itu, Okki juga menekankan pentingnya kualitas air dalam proses hemodialisis sebab air menjadi salah satu media dalam proses hemodialisis sehingga harus dipastikan air yang digunakan bersih, bebas dari kuman, bakteri, dan zat kimia lainnya.

"Badan kita diciptakan steril, begitu pula ketika pasien harus menjalani terapi hemodialisis. Kalau menggunakan air PAM sudah tercampur klorin dan zat lain. Jadi yang digunakan ialah air tanah, maka dibutuhkan sistem penyaringan air yang bagus," terang Okki.

Oki menjelaskan, hemodialisis berfungsi untuk menggantikan fungsi ginjal dalam menyaring darah dari zat-zat yang tidak dibutuhkan tubuh. Dalam prosesnya, air dibutuhkan sebagai bagian dari proses penyaringan tersebut. Proses hemodialisis berlangsung sekitar empat jam dan membutuhkan setidaknya 120 liter air selama proses tersebut.

Presiden Direktur Renal Team Clinic Chan Wai Chuen, pada kesempatan sama menjelaskan Klinik Renal Team Hemodialisis Pondok Indah menggunakan Reverse Osmosis Water System. Sistem tersebut memiliki membran khusus yang didesain untuk meminimalkan terjadinya kontaminasi dalam air yang akan digunakan selama proses hemodialisis.

"Keselamatan pasien ialah hal yang paling utama," terangnya.

Okki melanjutkan, selain air risiko penularan infeksi juga dapat terjadi saat pasien menjalani hemodialisis. Penyakit yang dapat ditularkan, antara lain hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Oleh karena itu, pasien dengan penyakit-penyakit tersebut harus menggunakan mesin terpisah.

"Penularan bisa melalui alat, hepatitis B tidak bisa dibersihkan. Jadi pasien hepatitis B dan C alatnya harus sendiri," katanya.

BERITA TERKAIT