Obat Langka Harga pun Mahal


Penulis: Sri Utami ami@mediaindonesia.com - 24 October 2018, 08:45 WIB
think stock
think stock

Hipertensi paru membuat penderita sangat mudah lelah dan sesak napas. Obat-obatan yang dibutuhkan pasien cukup mahal dan belum semuanya tersedia di Indonesia.

BAGI Indri Ginoto masih bisa menghirup udara segar, bisa bicara, dan bergerak aktif merupakan berkat Tuhan yang tidak henti disyukurinya. Ia merasa beruntung, sebagai pasien hipertensi paru dirinya masih bisa mengakses obat-obatan sehingga tetap bisa bertahan.

"Saya termasuk yang cukup beruntung selama ini masih bisa mengakses obat dengan biaya pribadi meski dengan usaha yang tidak mudah. Akses obat hipertensi paru di indonesia masih terbatas, jadinya sebagian besar teman-teman yang lain tidak dapat bertahan," ujarnya saat ditemui pada diskusi kesehatan tentang hipertensi paru di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia mengisahkan, awalnya dia menderita lupus. Lalu timbul komplikasi hipertensi paru. Saat didiagnosis, usianya baru 13 tahun. Semula, tidak banyak yang gejala yang dia rasakan selain mudah lelah tanpa sebab. Namun, sekitar 2002 gejala itu bertambah parah. Dirinya mudah sesak napas, hingga merasa tercekik ketika melakukan aktivitas sedikit berat, seperti saat menaiki tangga.

Ia pun harus mengonsumsi obat-obatan. Namun, baru di 2014 ia bisa mendapat obat-obatan yang tepat yang didapatnya dengan harga mahal. Ia mengeluarkan puluhan juta per bulan untuk membeli obat. Sebagian obat dibelinya dari India karena belum tersedia di Indonesia.

"Seringnya saya nitip ke rekan-rekan yang mau ke sana," imbuhnya.

Meski sudah mengonsumsi obat-obatan tersebut, aktivitas Indri tetap terbatas karena kondisi penyakitnya sudah parah. "Buat jalan 100-200 meter sudah ngos-ngosan, tapi saya tetap bersyukur kepada Tuhan."

Dokter dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Jakarta itu menuturkan, hipertensi paru merupakan penyakit yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah pada pembuluh darah paru. Tingginya tekanan darah itu lama-kelamaan akan merusak jaringan paru. Akibatnya, penderita mengalami sesak napas.

Menurut Bambang, hipertensi paru tergolong penyakit langka. Angka kejadiannya pertahun sekitar 2-3 kasus per 1 juta penduduk. "Penyakit ini cara diagnosisnya sulit dan keluhannya tidak khas, mirip dengan keluhan penyakit paru dan jantung. "Kemungkinan, banyak pasien yang tidak terdeteksi hingga akhirnya meninggal karena penyakit ini," kata Prof Bambang.

Hipertensi paru, lanjutnya, jika diketahui sejak awal dapat diobati dengan obat-obatan golongan ambrisentan, bosentan, tadalafil, beraprost, riociguat, dan sildenafil. "Namun, ketika pasien sampai di stadium lanjut mungkin tetap akan mengalami sesak napas terus dan hipertensi parunya menetap bahkan progresif hingga akhirnya terjadi gagal jantung kanan. Karena itu, kuncinya ialah deteksi dan pengobatan dini," papar Prof Bambang.

Rp45 juta per bulan

Pada kesempatan sama, Ketua Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YPHI) Indriani mengungkapkan pasien hipertensi paru di Indonesia belum dapat mengakses pengobatan dan perawatan terbaik. Hal itu disebabkan berbagai faktor, mulai tenaga medis ahli yang sedikit, fasilitas yang terbatas, hingga harga obat-obatan impor yang mahal.

"Pemeriksaan khusus jantung untuk pasien hipertensi paru biayanya sekitar Rp10 juta. Obat-obatan bisa menembus Rp45 juta per bulan, itu pun harus didapat dari India karena di sini belum lengkap," katanya.

Pihaknya berharap pemerintah dapat mempermudah akses terhadap obat-obatan hipertensi paru. (H-2)

BERITA TERKAIT